Penyebab Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI Jadi Sorotan, Benarkah Karena Rupiah Tembus Rp18.000?
Putra Dewangga Candra Seta July 28, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian besar pelaku pasar dan masyarakat.

Meski keputusan itu berlaku sejak Sabtu, 25 Juli 2026, pemerintah baru mengumumkannya secara resmi pada Senin, 27 Juli 2026.

Seiring kabar tersebut, muncul berbagai spekulasi mengenai penyebab Perry Warjiyo mundur.

Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa bulan terakhir terus tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Namun, sejumlah ekonom menilai anggapan tersebut terlalu sederhana. Mereka berpandangan pelemahan rupiah lebih dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan tekanan fiskal di dalam negeri, bukan semata-mata karena kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo.

Untuk sementara waktu, posisi Gubernur Bank Indonesia kini diisi oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sambil menunggu penetapan gubernur definitif.

Benarkah Perry Warjiyo Mundur karena Rupiah Terus Melemah?

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Istimewa)

Spekulasi mengenai alasan pengunduran diri Perry Warjiyo menguat setelah nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup tajam sepanjang 2026.

Pada awal tahun, rupiah masih berada di kisaran Rp16.600 per dolar AS.

Memasuki akhir Maret 2026, kurs bergerak ke level sekitar Rp16.936 per dolar AS sebelum terus melemah dalam beberapa bulan berikutnya.

Puncaknya terjadi pada 3 Juni 2026 ketika rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS.

Hingga perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah kembali ditutup melemah 46 poin di posisi Rp18.009 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.963.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan asumsi bahwa tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan mundurnya Perry Warjiyo.

Namun, para ekonom mengingatkan bahwa pelemahan mata uang nasional tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global maupun kondisi fiskal domestik.

Baca juga: Rekam Jejak Perry Warjiyo Gubernur BI yang Mundur dari Jabatan, Pernah Didesak Primus saat Rapat DPR

Ekonom: Faktor Eksternal Lebih Dominan Dibanding Kebijakan BI

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar memang merespons negatif kabar pengunduran diri Perry Warjiyo.

"Pasar merespon negatif terhadap mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya." ujarnya, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Meski demikian, Ibrahim menegaskan pelemahan rupiah bukan sepenuhnya disebabkan oleh kinerja Bank Indonesia.

Menurutnya, gejolak geopolitik global masih menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah.

Konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar Amerika Serikat.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari dalam negeri, terutama terkait kondisi fiskal pemerintah.

Ibrahim menilai berbagai program yang membutuhkan anggaran besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan fiskal Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pemerintah memang memiliki target agar rupiah kembali menguat ke kisaran Rp16.500 per dolar AS. Namun, kondisi ekonomi saat ini membuat target tersebut tidak mudah diwujudkan.

"Keinginan pemerintah saat ini ingin rupiah harus kembali menguat ke Rp16.500 per dolar AS. Tetapi kita lihat bahwa apa yang terjadi saat ini tidak serta-merta bisa membuat rupiah mengalami penguatan."

Bhima Yudhistira: Persoalan Ada pada Fiskal, Bukan Semata Bank Indonesia

Pandangan senada disampaikan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira.

Menurutnya, persoalan utama yang memengaruhi stabilitas rupiah justru berasal dari sisi fiskal pemerintah.

Bhima menilai pelebaran defisit APBN, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga program Koperasi Desa (Kopdes) yang dinilai belum memiliki perencanaan matang telah meningkatkan kekhawatiran investor.

Selain itu, melemahnya penerimaan pajak dan meningkatnya utang pemerintah juga dinilai memperbesar risiko ekonomi nasional.

Kondisi tersebut, menurut Bhima, tercermin dari prospek (outlook) peringkat utang Indonesia yang mendapat penilaian negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan Fitch.

Meski demikian, Bank Indonesia justru menjadi institusi yang paling banyak menerima sorotan atas pelemahan rupiah.

"Tapi yang disalahkan adalah Bank Indonesia dianggap gagal melakukan stabilitas kurs dan menjaga kepercayaan investor. Intervensi otoritas fiskal ke moneter juga sudah berlebihan, bukan lagi sinergi."

Kekhawatiran Terhadap Independensi Bank Indonesia

Bhima mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah Perry Warjiyo mundur bukan hanya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga mempertahankan independensi Bank Indonesia.

Menurutnya, kepercayaan investor dapat kembali tertekan apabila muncul persepsi bahwa kebijakan moneter berada di bawah pengaruh pemerintah.

"Sekarang yang harus diantisipasi paska Perry mundur adalah melemahnya independensi Bank Indonesia. Mengembalikan kepercayaan investor tentu tidak mudah, apalagi arah kebijakan moneter berada dibawah kendali eksekutif. Selama masalah tekanan politik ke BI tidak berhenti, pengganti Perry dari internal tidak akan bertahan lama."

Apa Penyebab Perry Warjiyo Mundur?

Hingga pengumuman resmi pemerintah pada Senin (27/7/2026), belum ada penjelasan yang menyebut secara eksplisit alasan Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Meski pelemahan rupiah memicu berbagai spekulasi di publik, pandangan para ekonom menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang nasional merupakan hasil dari kombinasi faktor eksternal dan kondisi fiskal domestik yang kompleks.

Dengan demikian, mengaitkan pengunduran diri Perry Warjiyo semata-mata dengan pelemahan rupiah belum memiliki dasar yang dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.

Pengunduran diri Perry Warjiyo terjadi pada saat ekonomi Indonesia menghadapi tekanan eksternal dan domestik secara bersamaan.

Karena itu, perhatian pasar kemungkinan tidak hanya tertuju pada alasan pengunduran diri tersebut, tetapi juga pada siapa sosok yang akan menjadi Gubernur Bank Indonesia berikutnya.

Apabila proses transisi kepemimpinan berlangsung transparan dan independensi Bank Indonesia tetap terjaga, kepercayaan investor berpeluang pulih secara bertahap.

Sebaliknya, apabila muncul persepsi adanya intervensi terhadap kebijakan moneter, volatilitas rupiah dan sentimen pasar dapat kembali meningkat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.