Pagar Besi Tinggi di Mal Surabaya Disorot Pakar UK Petra, Dinilai Berpengaruh pada Estetika Kota
Pipit Maulidya July 28, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Keberadaan pagar besi tinggi di sejumlah mal di Surabaya belakangan menjadi perhatian masyarakat.

Selain dianggap sebagai langkah untuk meningkatkan keamanan, pagar tersebut juga dinilai memengaruhi estetika kota dan keterbukaan ruang publik.

Baca juga: Terjawab Alasan Royal Plaza dan TP Dipasang Pagar: Bukan Soal Demo, Ini Penjelasan Manajemen

Pagar Mal Perlu Selaras dengan Desain Bangunan

Dosen Arsitektur Universitas Kristen Petra, Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D., mengatakan pemasangan pagar pada sebuah bangunan seharusnya tidak hanya mempertimbangkan faktor keamanan, tetapi juga memperhatikan keselarasan desain dengan bangunan utama.

"Dalam arsitektur, biasanya ada pengulangan elemen visual—seperti material, warna, atau pola bentuk—dari bangunan utama ke rancangan pagar agar menciptakan kesatuan desain," ujar Rully saat dikonfirmasi SURYA.CO.ID, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, apabila tidak memiliki keterkaitan dengan desain bangunan utama, pagar justru dapat mengurangi kualitas estetika.

Keberadaan elemen pembatas akan terlihat terpisah dan tidak menyatu dengan proporsi arsitektur yang telah dirancang.

Pagar Tinggi Berpotensi Mengurangi Keterbukaan Ruang Publik

Rully yang juga Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra menjelaskan, desain pagar memiliki pengaruh besar terhadap kesan ruang sebuah bangunan.

Pagar yang terlalu tinggi dapat membatasi pandangan masyarakat sekaligus menimbulkan kesan eksklusif pada bangunan yang sejatinya merupakan ruang publik.

"Pilihan desain pagar dapat memengaruhi cara masyarakat memandang sebuah bangunan. Mall atau pusat perbelanjaan pada dasarnya merupakan fasilitas yang terbuka untuk umum sehingga aspek keterhubungan visual dengan ruang kota juga perlu dipertimbangkan," katanya.

Ia menuturkan, dalam dunia arsitektur terdapat pendekatan yang dikenal sebagai arsitektur defensif, yaitu konsep perancangan yang berfokus pada aspek pembatasan dan keamanan.

Pendekatan ini bertujuan mencegah tindak kriminal, vandalisme, hingga kerusakan fasilitas melalui berbagai elemen desain, mulai dari pagar, dinding, lansekap, pencahayaan, hingga pengaturan akses dan sirkulasi.

"Implementasinya dapat berupa elemen fisik pada ruang publik, misalnya pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi," jelasnya.

Selain pagar, konsep arsitektur defensif juga dapat diterapkan melalui penataan elemen ruang di sekitar bangunan.

Salah satunya dengan memanfaatkan kolam air sebagai penghalang fisik. Dalam sejarah, sejumlah bangunan pertahanan bahkan menggunakan parit berair sebagai bagian dari sistem perlindungan.

Soft Border Dinilai Jadi Alternatif

Meski demikian, Rully menilai masih ada alternatif yang dapat memenuhi kebutuhan keamanan tanpa menghilangkan kesan terbuka sebuah kawasan. Salah satunya melalui konsep soft border atau pembatas halus.

"Pilihan soft border atau pagar dengan batas ketinggian yang terukur, misal sekitar 80 cm tetap dapat memenuhi fungsi pembatas area tanpa memutus koneksi visual warga. Dengan begitu, fungsi keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka dari sebuah fasilitas publik," pungkasnya.

Rully menambahkan, keputusan mengenai bentuk pembatas tetap menjadi kewenangan masing-masing pengelola kawasan.

Namun, menurutnya, aspek estetika, kenyamanan visual, dan fungsi ruang publik sebaiknya turut menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan desain agar keamanan dapat berjalan beriringan dengan kualitas wajah Kota Surabaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.