POS-KUPANG.COM, MENGERUDA - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nusa Cendana ( Undana) melaksanakan workshop dan pelatihan bertema “Penguatan Kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Pengelolaan Wisata di Desa Mengeruda, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada”, Senin, 27 Juli 2026.
Kegiatan di Desa Mengeruda, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tersebut dilaksanakan mulai pukul 09.00 hingga 12.30 Wita.
Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas masyarakat, aparatur desa, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata mengikuti kegiatan tersebut.
Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari upaya Universitas Nusa Cendana untuk memperkuat ekosistem pariwisata berbasis masyarakat di Desa Mengeruda.
Baca juga: FISIP Undana Dorong Masyarakat Jadi Aktor Utama dalam Ekosistem Wisata Mengeruda Ngada
Kegiatan didanai melalui Dana Pengabdian Internal Undana dan dilaksanakan dalam bentuk ceramah, diskusi, pelatihan teknis, serta pendampingan.
Tim pengabdian diketuai oleh Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., dengan anggota tim yang terdiri atas Dr. Laurensius Sayrani, Rena Saputri Hilaria Sitanggang, Ernestus Holivil, Dr. Lasarus Jehamat, dan Drs. Yosef Emanuel
Jelahut.
Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana, yaitu Novita Langa, Maya Monita Manu Watu, dan Fransiska Salestia Moi. Jalannya kegiatan dipandu oleh Drs. Yosef Emanuel Jelahut sebagai moderator.
Desa Mengeruda dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi wisata alam dan budaya yang besar, terutama destinasi wisata Air Panas So’a.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh kapasitas sumber daya manusia yang memadai dalam pengelolaan destinasi, pelayanan wisatawan, promosi, kebersihan, dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat.
Selama ini, Air Panas So’a lebih banyak dikenal sebagai tempat mandi dan rekreasi.
Padahal, destinasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sebuah ekosistem pariwisata yang menghubungkan objek wisata, sejarah lokal, produk usaha mikro, kecil, dan menengah, kuliner, kerajinan tenun, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Narasumber pertama, Dr. Laurensius Petrus Sayrani, M.Si., dalam materinya mengenai tata kelola pariwisata Air Panas So’a menegaskan bahwa pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik alam.
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menjelaskan sejarah, identitas, dan keunikan Air Panas So’a kepada setiap pengunjung.
“Orang datang ke Air Panas Mengeruda bukan hanya untuk mandi. Orang juga menagih cerita dan sejarah Air Panas So’a,” ujar Laurensius.
Ia menjelaskan bahwa cerita mengenai sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal dapat menjadi nilai tambah bagi destinasi wisata.
Oleh karena itu, masyarakat perlu dilatih menjadi pelaku wisata yang mampu memberikan informasi, pelayanan, dan pengalaman yang berkesan kepada wisatawan.
Air Panas So’a, lanjutnya, harus dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata.
Pengembangannya perlu melibatkan pelaku UMKM, kelompok tenun, penyedia kuliner, pemandu wisata, aparatur desa, serta kelompok masyarakat lainnya.
Kepala Desa Mengeruda, Dominikus Oskar Gae, menyambut baik kegiatan pengabdian yang dilaksanakan oleh tim Universitas Nusa Cendana.
Menurutnya, salah satu tantangan utama pengembangan pariwisata di Desa Mengeruda adalah masih rendahnya keterlibatan masyarakat sebagai pelaku ekonomi.
“Masyarakat lokal Mengeruda selama ini hanya menjadi penonton dan belum menjadi pelaku ekonomi yang aktif. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi untuk memberdayakan pelaku-pelaku ekonomi lokal,” ujar Dominikus.
Ia berharap workshop dan pelatihan tersebut dapat mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar tidak hanya melihat aktivitas pariwisata dari sisi jumlah kunjungan, tetapi juga memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul di sekitar destinasi.
Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui penyediaan makanan dan minuman, penjualan produk tenun, cendera mata, jasa pemandu wisata, pengelolaan kebersihan, hingga promosi berbasis digital.
Salah seorang peserta, Harti, mengungkapkan bahwa usaha kuliner di sekitar destinasi wisata masih sangat terbatas. Produk yang tersedia umumnya hanya berupa mi dan nasi, sedangkan pengembangan homestay dinilai masih sulit dilakukan dalam waktu dekat.
“Untuk kuliner sudah tidak banyak pilihan. UMKM masih sebatas mi dan nasi. Untuk homestay, bagi masyarakat desa masih terlalu berat karena masyarakat belum berpikir sampai ke sana. Masyarakat di sini banyak yang menenun, sehingga perlu disiapkan lapak untuk menjual hasil tenun,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata di Desa Mengeruda perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan potensi serta kesiapan masyarakat.
Salah satu langkah yang dapat segera dilakukan adalah menyediakan ruang atau lapak khusus untuk memasarkan produk tenun dan hasil kerajinan lokal.
Aparat Desa Mengeruda, Yohanes Antonius, juga menilai kegiatan pengabdian tersebut penting untuk membantu pemerintah desa meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai peran mereka dalam pengembangan pariwisata.
“Kegiatan pengabdian ini penting untuk membantu pemerintah desa menyadarkan masyarakat, terutama mengenai peran aktif masyarakat. Salah satu alasan UMKM belum berkembang adalah karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani. Waktu mereka banyak digunakan untuk kegiatan pertanian sehingga belum memiliki cukup waktu untuk mengelola usaha kuliner,” jelasnya.
Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat Desa Mengeruda adalah masih terbatasnya pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam mengelola potensi wisata secara profesional.
Pengelolaan objek wisata, pelayanan kepada pengunjung, promosi destinasi, kebersihan lingkungan, pengembangan UMKM, serta keterlibatan masyarakat belum berjalan secara optimal.
Kondisi tersebut menyebabkan potensi Air Panas So’a belum memberikan manfaat ekonomi secara maksimal bagi masyarakat setempat.
Kegiatan pengabdian ini menjadi penting karena pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas fisik.
Keberhasilan destinasi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelola, mempromosikan, menjaga, dan memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada konsep pengelolaan wisata yang profesional, mandiri, berkelanjutan, dan berbasis kearifan lokal. Peserta juga didorong untuk mengenali potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari aktivitas pariwisata.
Pelaksanaan workshop dan pelatihan menghasilkan peningkatan pengetahuan serta pemahaman peserta mengenai tata kelola destinasi, pelayanan kepada wisatawan, kebersihan lingkungan, promosi digital, pengembangan usaha wisata, dan pemanfaatan potensi lokal.
Peserta juga memperoleh keterampilan dasar dalam mengoperasikan website pariwisata Air Panas So’a. Website tersebut diharapkan dapat menjadi media informasi dan promosi yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat bersama pemerintah desa.
Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keterlibatan aktif dalam membangun ekosistem pariwisata.
Masyarakat tidak hanya diharapkan menjadi penerima dampak kunjungan wisata, tetapi juga menjadi pengelola, penyedia jasa, produsen, dan pelaku ekonomi lokal.
Sejumlah kendala yang teridentifikasi dalam kegiatan tersebut meliputi keterbatasan kemampuan pengelolaan wisata, rendahnya variasi produk kuliner, belum tersedianya lapak pemasaran produk tenun, keterbatasan waktu masyarakat karena sebagian besar bekerja sebagai petani, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital.
Sebagai solusi, tim pengabdian mendorong peningkatan pelatihan dan pendampingan, penguatan kelompok pengelola wisata, pengembangan produk lokal secara bertahap, penyediaan ruang promosi dan penjualan hasil tenun, serta pengelolaan website wisata secara konsisten.
Rencana tindak lanjut akan dilakukan melalui pendampingan berkala, pembentukan atau penguatan kelompok pengelola wisata, penyusunan program kerja pengembangan destinasi, serta peningkatan promosi melalui media digital.
Koordinasi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat juga akan terus diperkuat.
Evaluasi secara berkala diperlukan untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengelolaan wisata.
Melalui sinergi tersebut, pengembangan Air Panas So’a diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, memperkuat pemasaran produk lokal, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Desa Mengeruda.(laporan dosen FISIP Undana, Ernestus Holivil)