*Oleh Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja
JANCUK! Umpatan itu memang terdengar lirih, namun tekanannya terasa begitu dalam.
Maaf, dengan sengaja saya tidak berusaha untuk mengedit atau mengaburkan dateline pembuka catatan ini.
Saya sebenarnya masih ingin bersikap sopan. Namun rasanya sopan-santun, basa-basi atau pendekatan semiotika sepertinya tak lagi dibutuhkan untuk menegur mereka-mereka yang sudah tebal telinga dan muka bebal.
Basa-basi saat ini justru menurunkan speed gerakan perubahan yg bahkan belum sepakat kapan bendera start dikibarkan.
Senin, 27 Juli 2026 siang saya berangkat dari Jogja menuju ke Wonosobo untuk sebuah acara. Mengendarai mobil, saya berposisi di belakang kemudi bersama seorang mentor sekaligus guru yang selalu saya hormati di karier jurnalistik saya.
Umpatan itu tiba-tiba muncul dengan diksi yang tegas meski volumenya memang terdengar lirih.
Jujur saya kaget dan kemudian mengajukan sejumlah tanya tentang apa yang ada di balik umpatan tersebut.
Dia kemudian menghela nafas panjang yang lagi-lagi mengumpat sebelum mengungkapkan sikapnya tentang cerita Kadek Darmawan, manusia warga Buleleng, Bali yang tewas usai dikeroyok massa lantaran kedapatan mencuri dua ekor ayam.
Mentor saya ini menekankan, umpatan itu muncul bukan semata lantaran kasus pencurian atau pengeroyokan terhadap Kadek Darmawan yang membuatnya tewas.
Umpatan Jancuk akhirnya menjadi simbol keputusasaan bagi rakyat pemilik negeri ini atas rasa keadilan yang raib.
Tangis pilu putri ketiga Kadek Darmawan adalah bilah tajam pemberontakan atas kekuasaan yang yang merampas keadilan di negeri ini.
Kadek Darmawan meregang nyawa lantaran dua ekor ayam yang ia curi adalah ironi di pentas penjarahan dan pemiskinan di negeri yang kaya raya ini.
Ketika seorang pencuri dua ekor ayam mati dihinakan atas perbuatannya, para koruptor dengan congkaknya bicara dalil dalil kebenaran yang ia beli dari uang haram yang ia jarah.
Umpatan jancuk dan tangis anak hadi Kadek adalah pertanda keputusasaan yang menunggu komando untuk bersama di barisan perlawanan.
Siapa yang percaya kalau Febrie Ardiansyah adalah maling yang sering lantang berteriak maling yang melakukannya sendirian?
Siapa juga yang percaya jika masih bebasnya Silvester Matutina adalah konsekuensi dan harga yah harus dibayar atas rapinya borok penjarahan konstitusi yang dihargai rupiah?
Negeri ini sudah penuh dengan badut-badut kekuasaan yang rakus menjarah uang untuk menjaga kekuasaannya.
Sementara nasib Kadek Darmawan adalah tamparan semesta untuk saya dan kita semua yang masih sering basa-basi lantaran masih ada sesuap nasi untuk esok hari. (*)