Persaingan Global Bergeser, Dekan FISIP UI Sebut Geososial Jadi Senjata Baru Diplomasi Dunia
Dwi Rizki July 28, 2026 06:21 PM

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Persaingan antarnegara kini tak lagi sebatas adu gertak kekuatan militer atau akumulasi modal ekonomi, melainkan telah merambah hingga ke jejaring sosial dan pengaruh budaya.

​Menanggapi pergeseran tersebut, Dekan FISIP Universitas Indonesia (UI), Prof Evi Fitriani, menegaskan pentingnya dimensi geososial sebagai senjata baru dalam diplomasi internasional.

​Gagasan strategis ini dipaparkan dalam Seminar Nasional bentukan AIPI, The Habibie Center, dan Badan Keahlian DPR RI yang menyoroti konstelasi geopolitik global.

​Diskusi tingkat tinggi tersebut turut menghadirkan jajaran pakar terkemuka, seperti Prof Dewi Fortuna Anwar, Andi Widjajanto, hingga Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono.

​Dalam presentasinya, Evi menyoroti bagaimana lanskap politik dunia tengah bergerak cepat menuju tatanan multipolar yang diwarnai meningkatnya persaingan antarnegara besar.

Baca juga: Aktivis Perempuan Cipayung Plus Minta MBG Dievaluasi, Bukan Sekadar Dilanjutkan

​Eskalasi konflik kawasan kini makin rumit karena turut menyeret sektor perdagangan, teknologi siber, hingga pertempuran narasi di ruang publik.

​Untuk menjawab kompleksitas itu, konsep geososial hadir sebagai dimensi baru yang mengoptimalkan modal sosial dan pertukaran budaya dalam perebutan pengaruh politik.

​Berbeda dari geopolitik yang mengandalkan fisik militer atau geoekonomi yang berfokus pada kapital, geososial bekerja murni melalui pendekatan soft power.

​Negara-negara adidaya kini gencar menebar pengaruh lewat program beasiswa, riset bersama, diplomasi publik, hingga kolaborasi antar-organisasi masyarakat sipil.

​"Tekanan terhadap suatu negara saat ini bukan hanya melalui instrumen strategis militer atau ekonomi, tetapi juga melalui instrumen sosial, budaya, dan jaringan masyarakat," tegas Evi dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026). 

​Di era modern, legitimasi serta posisi tawar suatu bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana nilai budaya dan jaringan sosialnya diterima secara positif oleh warga dunia.

​Melihat turbulensi multipolar ini, Indonesia sebagai negara berkekuatan menengah (middle power) sebenarnya memiliki posisi tawar yang amat menguntungkan.

​Indonesia mempunyai ruang gerak yang sangat fleksibel untuk membangun kemitraan internasional tanpa harus terkooptasi oleh salah satu blok kekuatan dunia.

​Peluang strategis tersebut perlu terus diperjuangkan melalui forum multilateral guna memperkuat koalisi bersama negara-negara berkembang lainnya.

​Pada akhirnya, penguasaan diplomasi geososial akan menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk memperkokoh pijakan dan tawar-menawar diplomasi di kancah global. (m38)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.