WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Persaingan antarnegara kini tak lagi sebatas adu gertak kekuatan militer atau akumulasi modal ekonomi, melainkan telah merambah hingga ke jejaring sosial dan pengaruh budaya.
Menanggapi pergeseran tersebut, Dekan FISIP Universitas Indonesia (UI), Prof Evi Fitriani, menegaskan pentingnya dimensi geososial sebagai senjata baru dalam diplomasi internasional.
Gagasan strategis ini dipaparkan dalam Seminar Nasional bentukan AIPI, The Habibie Center, dan Badan Keahlian DPR RI yang menyoroti konstelasi geopolitik global.
Diskusi tingkat tinggi tersebut turut menghadirkan jajaran pakar terkemuka, seperti Prof Dewi Fortuna Anwar, Andi Widjajanto, hingga Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono.
Dalam presentasinya, Evi menyoroti bagaimana lanskap politik dunia tengah bergerak cepat menuju tatanan multipolar yang diwarnai meningkatnya persaingan antarnegara besar.
Baca juga: Aktivis Perempuan Cipayung Plus Minta MBG Dievaluasi, Bukan Sekadar Dilanjutkan
Eskalasi konflik kawasan kini makin rumit karena turut menyeret sektor perdagangan, teknologi siber, hingga pertempuran narasi di ruang publik.
Untuk menjawab kompleksitas itu, konsep geososial hadir sebagai dimensi baru yang mengoptimalkan modal sosial dan pertukaran budaya dalam perebutan pengaruh politik.
Berbeda dari geopolitik yang mengandalkan fisik militer atau geoekonomi yang berfokus pada kapital, geososial bekerja murni melalui pendekatan soft power.
Negara-negara adidaya kini gencar menebar pengaruh lewat program beasiswa, riset bersama, diplomasi publik, hingga kolaborasi antar-organisasi masyarakat sipil.
"Tekanan terhadap suatu negara saat ini bukan hanya melalui instrumen strategis militer atau ekonomi, tetapi juga melalui instrumen sosial, budaya, dan jaringan masyarakat," tegas Evi dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Di era modern, legitimasi serta posisi tawar suatu bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana nilai budaya dan jaringan sosialnya diterima secara positif oleh warga dunia.
Melihat turbulensi multipolar ini, Indonesia sebagai negara berkekuatan menengah (middle power) sebenarnya memiliki posisi tawar yang amat menguntungkan.
Indonesia mempunyai ruang gerak yang sangat fleksibel untuk membangun kemitraan internasional tanpa harus terkooptasi oleh salah satu blok kekuatan dunia.
Peluang strategis tersebut perlu terus diperjuangkan melalui forum multilateral guna memperkuat koalisi bersama negara-negara berkembang lainnya.
Pada akhirnya, penguasaan diplomasi geososial akan menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk memperkokoh pijakan dan tawar-menawar diplomasi di kancah global. (m38)