Hari Jadi Klaten ke-222 Sarat Tradisi, Bahasa Jawa Jadi Simbol Pelestarian Budaya
Vincentius Jyestha Candraditya July 28, 2026 06:32 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Peringatan Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten berlangsung berbeda dari upacara pemerintahan pada umumnya.

Seluruh rangkaian upacara yang digelar di Alun-alun Klaten, Selasa (28/7/2026), menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan penggunaan bahasa Jawa tersebut menjadi bentuk komitmen menjaga warisan budaya leluhur di tengah pembangunan daerah.

Upacara adat yang menjadi puncak peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten itu diikuti ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Puncak peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten diperingati melalui upacara adat yang sarat nuansa budaya Jawa di Alun-alun Klaten, Selasa (28/7/2026)
Puncak peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten diperingati melalui upacara adat yang sarat nuansa budaya Jawa di Alun-alun Klaten, Selasa (28/7/2026) (TribunSolo.com/Ibnu DT)

Seluruh peserta mengenakan pakaian adat lurik sesuai ketentuan panitia, sehingga semakin menguatkan nuansa budaya Jawa sepanjang prosesi.

Peserta laki-laki mengenakan surjan yang dipadukan dengan jarik, blangkon gaya Solo, dan selop. Sementara peserta perempuan mengenakan kebaya lurik dengan bawahan jarik lurik maupun batik.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bertindak sebagai inspektur upacara dengan mengenakan surjan bernuansa merah kecokelatan.

Di belakangnya tampak jajaran Forkopimda, kepala daerah tamu, serta tokoh masyarakat mengikuti jalannya upacara dari tenda kehormatan.

Baca juga: HUT ke-222 Klaten, Petani Juwiring Sulap Sawah Jadi Tanbo Art Raksasa Bergambar Bupati Hamenang

Prosesi diawali dengan penyambutan tamu undangan melalui sajian "Gending Klaten Bersinar" yang dibawakan Omah Wayang serta penampilan Tari Saman dari Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Memasuki upacara inti yang dimulai pukul 08.00 WIB, rangkaian kegiatan meliputi penghormatan pasukan, pembacaan Pancasila, Pembukaan UUD 1945, pembacaan riwayat Hari Jadi Klaten oleh Ketua DPRD yang diiringi fragmen Omah Wayang, amanat inspektur upacara, doa, pemotongan tumpeng, hingga penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues di bidang pertanian dan perkebunan.

Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada 222 anak yatim dan piatu yang diwakili 26 anak. Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah sambil menikmati bubur sumsum dan hiburan dari Ngumandang Laras Pentatonik Desa Pesu, Kecamatan Wedi.

Momentum Istimewa

Usai memimpin upacara, Hamenang mengatakan Hari Jadi ke-222 menjadi momentum yang istimewa karena angka tersebut hanya akan terjadi sekali dalam sejarah Kabupaten Klaten.

"Alhamdulillah pagi ini kita bersama-sama bisa menyelenggarakan Upacara Hari Jadi Klaten yang ke-222," jelasnya.

"Tentu di hari jadi kali ini sangat spesial karena angkanya sangat cantik, 222. Ini hanya terjadi seumur hidup sekali, angka yang bersamaan tiga-tiganya," imbuh Hamenang.

Menurutnya, peringatan tahun ini mengusung tema "Sahita Hamemayu Raharja" yang mengandung makna persatuan seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong meningkatkan kesejahteraan.

Baca juga: Upacara HUT ke-222 Klaten Gunakan Bahasa Jawa, Bupati Hamenang: Jangan Tinggalkan Warisan Leluhur

"Kita memaknainya dengan tambahan tema Sahita Hamemayu Raharja. Di mana kita bersama-sama warga masyarakat dan stakeholder yang ada di Kabupaten Klaten untuk bisa bersatu, bergotong-royong dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang ada di masyarakat," ujarnya.

Selain menjadi momentum refleksi, Hari Jadi ke-222 juga dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antardaerah melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Hubungan tersebut sebelumnya telah terjalin saat Klaten memberikan bantuan ketika wilayah tersebut dilanda bencana.

"Yang terjauh hadir saudara kita Bupati Gayo Lues dari Aceh. Hari ini menjadi tali persaudaraan yang luar biasa. Tadi juga disaksikan bersama ada MoU penandatanganan kerja sama antara Klaten dan Gayo Lues," ungkapnya.

Bukan Sekedar Simbol Seremonial

Hamenang menegaskan penggunaan bahasa Jawa dalam upacara bukan sekadar simbol seremonial, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya yang harus terus dijaga di tengah kemajuan daerah.

"Memaknai Hari Jadi ke-222 ini, kita sebagai sebuah kabupaten bisa terus menjaga toleransi antarumat beragama, menjaga persatuannya, bagaimana kemudian juga kita menjaga kesenian dan kebudayaannya. Salah satunya kita tadi lakukan, upacara hari ini spesial dengan menggunakan bahasa Jawa," jelasnya.

Baca juga: Klaten Lurik Carnival 2026 Digelar Makin Meriah! Bupati Hamenang Ingin Lurik Klaten Mendunia

"Harapannya, ketika kita membangun Kabupaten Klaten lebih maju tidak meninggalkan warisan-warisan dari leluhur kita, baik seni maupun budaya," imbuhnya.

Menutup sambutannya, Hamenang berharap peringatan Hari Jadi ke-222 menjadi penyemangat bagi seluruh masyarakat untuk terus membawa Klaten menjadi daerah yang semakin maju, sejahtera, dan berkelanjutan.

"Harapan cita-cita kita di Hari Jadi ke-222 ini agar Kabupaten Klaten menjadi semakin maju, sejahtera, dan berkelanjutan," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.