TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sejak pagi buta, Tanti sudah mulai beraktivitas.
Ia keluar rumah menyusuri lorong-lorong di wilayahnya untuk melihat kondisi lingkungan sekaligus mencari sampah yang masih dapat dimanfaatkan.
Satu karung sampah biasanya ia bawa pulang.
Jika sedang banyak, hasil yang dikumpulkan bisa mencapai dua karung.
Sampah tersebut kemudian dikumpulkan di bank sampah yang berada tepat di depan rumahnya.
Begitulah rutinitas Ketua RW 004 Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, tersebut.
Kebiasaan itu telah ia jalani sejak 2018 dan masih berlangsung hingga sekarang.
Tanti tidak hanya menunggu warga datang membawa sampah.
Jika ada warga yang kesulitan mengangkutnya, ia akan datang menjemput menggunakan sepeda motor.
"Kalau mengelola sampah itu saya sudah lama sekali, dari 2018 ada'mi bank sampahku," ucapnya kepada Tribun Timur, Selasa (28/7/2026).
Saat ini, sekitar 100 nasabah tercatat di bank sampah yang dikelolanya.
Mayoritas berasal dari wilayah RW 004 yang terdiri atas enam RT dengan sekitar 600 KK.
Namun, warga dari RW lain dan beberapa sekolah juga datang untuk menimbang sampah.
Sampah yang terkumpul kemudian dipilah. Botol plastik, gelas air minum, buku, kertas, kardus, dan berbagai jenis sampah lainnya dipisahkan satu per satu.
Pada penimbangan terakhir, Tanti mengumpulkan sekitar 654 kilogram sampah.
Bagi Tanti, pengelolaan sampah bukan hanya soal menjaga kebersihan lingkungan.
Ia melihat ada nilai ekonomi yang dapat dirasakan warga jika sampah dikelola dengan baik.
"Banyak sekali nilai ekonominya itu sampah, itu yang selalu saya tekankan kepada warga selama ini," ujarnya.
Karena itu, Tanti juga mendorong pengurus lingkungan lain untuk membangun bank sampah.
Ia memberikan dukungan kepada rekan-rekannya yang ingin mengelola sampah di wilayah masing-masing.
Aktivitas Tanti dalam menjaga lingkungan juga berlanjut di luar kegiatan bank sampah.
Selama kurang lebih dua tahun, ia bekerja sebagai pengawas drainase Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar.
Ia bertugas memantau pekerjaan pembersihan saluran di sejumlah jalan utama di Kota Makassar.
"Selama satu bulan ini kami fokus melakukan pengerukan di Jalan Rusa," ucapnya.
Setiap hari, Tanti dan tim menangani saluran yang tersumbat pasir dan sedimen.
Ia ikut mendampingi pekerja di lapangan sekaligus melaporkan jika terdapat kendala dalam pengerjaan.
"Kalau kekurangan bahan atau apa, kita bantu koordinasi," ucapnya.
Setelah pekerjaan selesai di satu titik, mereka berpindah ke lokasi lain sesuai arahan.
"Dari Senin sampai Sabtu saya mengawasi pengerjaan," ucapnya.
Di tengah kesibukannya mengawasi pekerjaan drainase, Tanti tetap menjalankan tanggung jawab sebagai Ketua RW 004 Tamamaung.
Sepulang dari lapangan, ia kembali ke lingkungan untuk menjalankan berbagai kegiatan.
Ia menghadiri rapat, mendampingi warga, menggalakkan kegiatan kebersihan, serta berkoordinasi dengan para ketua RT.
Ia juga turut mengurus kebun urban farming PKK yang ditanami kangkung, tomat, dan berbagai tanaman lainnya.
Tak jauh dari bank sampah, Tanti juga mengelola poskamling yang menjadi tempat berkumpul anak muda sekaligus ruang silaturahmi warga.
"Di posko itu jadi tempat kumpul anak muda, tempat silaturahmi warga," jelasnya.
Berbagai aktivitas tersebut membuat hari-hari Tanti kerap berlangsung hingga larut malam.
Ia mengaku sering baru tidur sekitar pukul 03.00 Wita.
"Sampai anak ku saja biasa susah kutemui," katanya.
Meski demikian, Tanti tetap berusaha menyediakan waktu untuk keluarganya.
Ia memiliki seorang anak yang kini telah dewasa.
Perempuan kelahiran Ujungpandang, 9 Juli 1978, itu menjalani berbagai aktivitas tersebut dengan prinsip sederhana.
Menurutnya, pengabdian dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
"Fokus dalam hal kecil ji, tidak membandingkan diri dengan orang lain. Setiap proses itu butuh waktu. Semangat mulai dari hal kecil tanpa harus menunggu sempurna. Menikmati setiap proses, jangan terburu-buru menyerah," tuturnya.
Prinsip tersebut yang membuatnya terus bergerak.
Dari mengumpulkan dan memilah sampah, mengawasi drainase, mengurus kebun, menjaga keamanan lingkungan, hingga mendampingi warga, Tanti berusaha tetap hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat.
"Semua kerja-kerja begitu ada hikmahnya. Ndak baik orang mengeluh. Saya tidak pernah mengeluh. Apa pun tetap disyukuri," kata Tanti.(*)