Tribunlampung.co.id, Medan - Niat hati melakukan transaksi jual beli mobil secara langsung (Cash on Delivery/COD), dua orang prajurit TNI justru bernasib tragis.
Baca juga: Penyebab Anggota POM TNI AD Tewas Saat Bantu Polisi Adang Bandar Narkoba
Keduanya menjadi korban pengeroyokan brutal oleh massa setelah mendadak diteriaki maling oleh calon pembelinya di Jalan Asrama, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Medan, Minggu (26/7/2026) malam.
Aksi amuk massa tersebut mengakibatkan kedua pria berambut cepak dan bertubuh gempal itu mengalami luka memar serius hingga berdarah-darah di sekujur tubuh.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa bermula ketika kedua prajurit TNI tersebut tiba di lokasi kejadian sesuai kesepakatan untuk bertemu calon pembeli mobil.
Namun, tanpa diduga, setibanya di titik temu, kedua prajurit tersebut mendadak diteriaki "maling!" oleh calon pembeli.
Seruan provokatif tersebut seketika memancing emosi warga di sekitar lokasi.
Tanpa mengonfirmasi kebenaran informasi, puluhan warga langsung mengepung dan menghujani kedua prajurit tersebut dengan pukulan bertubi-tubi hingga terkulai tak berdaya.
Kapolsek Medan Helvetia, Kompol Nelson JP Sipahutar, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi terkait insiden penganiayaan secara bersama-sama tersebut.
Saat ini, kedua korban tengah menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit Tentara Putri Hijau Medan akibat luka berat yang dialaminya.
"Kami sudah menerima laporan, dan informasi yang kami dapatkan korban masih dirawat di RS Rumah Sakit Putri Hijau," ujar Kompol Nelson JP Sipahutar, Selasa (28/7/2026).
Pihak kepolisian masih terus mendalami motif utama di balik aksi provokasi teriakan maling tersebut, apakah murni dugaan penganiayaan, tuduhan transaksi mobil bodong, atau skenario penjebakan oleh calon pembeli.
Secara terpisah, Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Infanteri Sandy, membenarkan adanya insiden yang menimpa jajarannya tersebut.
Pihaknya menyerahkan sepenuhnya pengungkapan kasus ini kepada aparat penegak hukum militer dan kepolisian.
"Kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak Denpom I/5 Medan," tegas Kolonel Inf Sandy.