TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kekecewaan mendalam dirasakan para orangtua pesepak bola muda asal Sumatera Utara yang gagal berangkat mengikuti Liga Top Skor Nasional Championship 2026 di Bogor, Jawa Barat. Selain mengalami kerugian materi, mereka juga menilai peristiwa tersebut telah berdampak pada mental anak-anak yang sejak awal sangat antusias akan mewakili Sumatera Utara di ajang nasional.
Salah seorang orangtua pemain, Umasari Siregar, mengaku menjadi salah satu korban setelah diminta menyetorkan uang sebesar Rp5,5 juta kepada Ketua Panitia Pelaksana Liga Top Skor Regional Sumatra Utara, Darma Riyadi. Uang tersebut sebagai biaya administrasi dan keberangkatan putranya yang berusia 14 tahun.
Sembari menitikkan air mata, Umasari menjelaskan bahwa dirinya rela membayar biaya tersebut karena ingin mendukung cita-cita sang anak untuk menambah pengalaman bertanding di tingkat nasional. Ia tidak menyangka harapan anaknya untuk tampil di Liga Top Skor Nasional 2026 justru berakhir dengan kekecewaan.
"Kami diminta menyetor administrasi sebesar Rp5,5 juta. Karena saya mendukung anak, saya bayarkan. Awalnya kami dijanjikan berangkat hari Sabtu, tetapi kemudian diundur ke hari Minggu. Saat itu sebenarnya saya sudah mulai curiga," ujar Umasari kepada Tribun Medan, Senin (27/7).
Ia menuturkan, sesuai arahan panitia, dirinya bersama sang anak sudah berada di Bandara Internasional Kualanamu sejak pukul 08.00 WIB pada Minggu (26/7). Namun hingga pukul 12.00 WIB, tidak ada kepastian mengenai keberangkatan rombongan menuju Bogor.
Merasa ada kejanggalan, para orangtua kemudian mencoba mencari informasi langsung ke pihak maskapai Lion Air. "Setelah kami tanyakan ke pihak Lion Air, ternyata nama anak-anak kami sama sekali tidak terdaftar sebagai penumpang yang akan berangkat ke Bogor. Di situlah kami benar-benar kecewa," katanya.
Umasari menjelaskan, para pemain yang direkrut berasal dari berbagai sekolah sepak bola (SSB) di Sumatera Utara. Masing-masing SSB yang memiliki pemain berpotensi dan bersedia untuk memperkuat tim yang dijanjikan berangkat ke putaran nasional. Bahkan, katanya dari Kabupaten Labuhanbatu saja disebut terdapat enam pemain kategori U-14 dan U-16 yang ikut didaftarkan. "Anak-anak itu semangat sekali. Saya melihat sendiri bagaimana bahagianya mereka saat berada di bandara karena merasa akan mewakili Sumatera Utara. Tetapi akhirnya hasilnya seperti ini," ungkapnya.
Menurut Umasari, putranya sebenarnya pernah mengikuti Liga Top Skor Nasional pada tahun lalu dan seluruh proses keberangkatan berjalan lancar. Pengalaman itu membuat dirinya kembali percaya ketika mendapat tawaran untuk mengikuti ajang yang sama tahun ini. "Tahun lalu anak saya juga berangkat ke nasional dan tidak ada masalah. Karena itu saya percaya lagi. Saya pikir ini kesempatan yang baik untuk anak saya yang masih berusia 14 tahun menambah pengalaman," ujarnya.
Ia juga mengaku mengenal sosok Darma Riyadi yang menerima uang dari para orangtua karena yang bersangkutan merupakan pelatih di SSB Alpha Perkasa Medan tempat anaknya berlatih. "Saya percaya karena dia juga melatih di SSB anak saya. Selama ini memang kami jarang berkomunikasi. Tapi sekarang sudah tidak bisa dihubungi lagi, komunikasinya terputus," katanya.
Meski mengalami kerugian materi, Umasari menegaskan hal yang paling membuatnya sedih adalah dampak psikologis yang dialami anak-anak. "Kalau soal uang mungkin masih bisa dicari. Yang paling saya pikirkan itu mental anak-anak. Saya melihat sendiri mereka sangat senang karena akan berangkat ke Bogor membawa nama Sumatera Utara. Bahkan ada orangtua yang sudah lebih dulu berangkat ke Bogor karena sebelumnya dijanjikan anaknya berangkat hari Sabtu. Namun ternyata anaknya tidak jadi berangkat dan masih tertahan di Kualanamu," tuturnya.
Terkait langkah selanjutnya, Umasari mengatakan para orangtua sedang mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum apabila tidak ada itikad baik dari pihak yang bertanggung jawab. "Kami masih berharap ada tanggung jawab untuk mengembalikan uang yang sudah disetor. Kalau memang belum bisa sekaligus, setidaknya bisa dicicil. Yang penting ada itikad baik," ucapnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi karena dinilai dapat merusak semangat pembinaan sepak bola usia dini di Sumatera Utara. "Saya berharap jangan ada lagi kejadian seperti ini. Kasihan anak-anak yang sudah berjuang. Jangan sampai mental mereka rusak karena kejadian seperti ini. Mereka harus tetap diberi kesempatan untuk berkembang dan meraih prestasi," katanya.
Baca juga: Belum Ada Playmaker dan Striker Tajam, Penyebab PSMS Kalah dari Port FC di Laga Piala Presiden
PSSI Sumut Akan Evaluasi
MENANGGAPI tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sumatera Utara, Arya Sinulingga, menyatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan sikap resmi melalui akun Instagram resmi PSSI Sumut.
Saat dikonfirmasi Tribun Medan melalui pesan WhatsApp, Senin (27/7/2026), Arya mengatakan seluruh penjelasan terkait persoalan tersebut telah dituangkan dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui media sosial PSSI Sumut. "Kami sudah mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun Instagram resmi PSSI Sumut," ujar Arya singkat.
Dalam pernyataan yang dikutip Tribun Medan dari akun Instagram resmi PSSI Sumut, pihaknya menegaskan akan segera mengambil langkah evaluasi terhadap penyelenggaraan Liga TopSkor di Sumatera Utara. PSSI Sumut menyatakan akan memanggil pihak Liga TopSkor Indonesia untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait penyelenggaraan kompetisi Liga TopSkor Regional Sumatera Utara.
Selain itu, PSSI Sumut menegaskan bahwa setiap penyelenggaraan kompetisi sepak bola di wilayah Sumatera Utara wajib dilaksanakan sesuai regulasi yang berlaku serta memperoleh rekomendasi resmi dari PSSI. Kegiatan tersebut juga harus sejalan dengan visi dan misi pembinaan sepak bola yang dijalankan PSSI Sumut.
"PSSI Provinsi Sumatera Utara akan segera memanggil pihak Liga TopSkor Indonesia untuk mengevaluasi penyelenggaraan kompetisi Liga TopSkor di Sumatera Utara. PSSI Sumut menegaskan bahwa setiap kegiatan wajib dilaksanakan sesuai regulasi, rekomendasi, serta sejalan dengan visi dan misi pembinaan sepak bola PSSI Sumut," demikian isi pernyataan resmi tersebut.
PSSI Sumut juga memberikan peringatan tegas kepada penyelenggara. Apabila dalam pelaksanaannya ditemukan adanya ketidaksesuaian dengan ketentuan yang berlaku, maka PSSI Sumut tidak akan memberikan rekomendasi maupun dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut di Sumatera Utara pada masa mendatang. (cr29/Tribun-Medan.com)