BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU- Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya terhadap sektor pertanian di Kalimantan Selatan (Kalsel). Hingga akhir Juli 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel mencatat sedikitnya 5.800,9 hektare lahan padi terdampak.
Meski demikian, pemerintah memastikan belum ditemukan lahan yang mengalami puso atau gagal panen. Kondisi tersebut masih terus dipantau mengingat puncak musim kemarau diperkirakan baru akan terjadi September mendatang.
Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding biasanya.
“Hujan diperkirakan baru mulai datang pada Desember dan itu pun masih hujan panas. Musim hujan yang normal diperkirakan mundur hingga Januari sampai Maret,” ujarnya, Senin (27/7).
Mengantisipasi kondisi tersebut, mereka melakukan berbagai langkah mitigasi. Di antaranya menerbitkan surat imbauan kepada seluruh Dinas Pertanian kabupaten/kota agar mengingatkan kelompok tani menyiapkan pompa air, sumur bor atau sumur pantek, serta menjaga embung sebagai sumber cadangan air.
Baca juga: Penjelasan PLN Banjarmasin Soal Pemadaman Listrik Bergilir, Kembali Normal Awal September
Baca juga: Kecelakaan di Jalan Alternatif Banjarbaru-Batulicin, Dua Kendaraan Adu Banteng Tiga Orang Luka Berat
Menurut Syamsir, sebagian besar kelompok tani di Kalsel sebenarnya sudah terbiasa menghadapi musim kemarau sehingga telah melakukan mitigasi mandiri.
“Kami juga meminta agar jangan sampai terjadi kebakaran di kawasan pertanian. Karena itu saat panen diminta menggunakan combine harvester dengan pemotongan serendah mungkin untuk meminimalkan sisa jerami yang berpotensi terbakar,” katanya.
Ia menjelaskan, berbagai sarana penunjang juga telah disiapkan melalui bantuan Kementerian Pertanian maupun Pemprov Kalsel. Pompa air disalurkan melalui program Brigade Pangan, sementara Pemprov Kalsel turut memberikan dukungan melalui APBD.
Untuk komoditas padi, petani diminta memajukan masa tanam agar tanaman sudah memasuki fase pertumbuhan sebelum puncak kemarau datang. Sebaliknya, untuk tanaman jagung, petani justru diminta menunda penanaman agar tidak dilakukan pada saat curah hujan sangat rendah.
“Kami juga melakukan identifikasi sungai-sungai yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air. Tidak semua sungai bisa disedot karena ada yang tingkat keasamannya tinggi. Itu dicek dulu Balai Perlindungan Tanaman Pertanian sebelum digunakan,” jelasnya.
Dan berdasar data DPKP Kalsel, Tanahlaut menjadi daerah dengan luas lahan terdampak kekeringan terbesar, yakni mencapai 3.365,3 ha. Posisi berikutnya ditempati Baritokuala seluas 1.736,3 ha, disusul Kabupaten Banjar 353 ha.
Sementara daerah lain seperti Tanahbumbu, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, Kotabaru, Tabalong hingga Balangan juga mencatat adanya lahan yang terdampak, dengan luasan lebih kecil.
Selain padi, DPKP Kalsel juga mencatat kekeringan mulai berdampak pada lahan jagung dengan total luasan sekitar 3,5 ha, sementara untuk persemaian tercatat terdapat 225 kg benih yang terdampak, terdiri atas 125 kg di HSS dan 100 kg di Tanbu
Terpisah salah satu petani di Banjar, Imran, mengaku cukup beruntung karena sebagian besar lahan miliknya telah selesai dipanen sebelum kemarau makin parah. Meski demikian, minimnya pasokan air tetap memengaruhi kualitas gabah yang dihasilkan pada musim panen kali ini. Kekurangan air mulai terjadi saat tanaman memasuki fase pengisian bulir.
“Panen sempat selesai sebelum kemarau parah. Tapi kualitas padi memang menurun karena air mulai berkurang saat pengisian bulir,” ujar Imran.
Menurutnya, kualitas bulir padi lokal yang dipanen tahun ini tidak sebaik musim sebelumnya. Sebagian gabah yang dihasilkan kurang berisi akibat tanaman tak mendapatkan pasokan air yang cukup. Kondisi tersebut dikhawatirkan turut memengaruhi hasil produksi petani, terutama mereka yang masa tanamnya dilakukan lebih belakangan.
Berdasar data hingga pertengahan Juli 2026, Dinas Pertanian Banjar mencatat sedikitnya 214,5 ha sawah telah terdampak kekeringan dan berisiko mengalami puso apabila kondisi cuaca tidak segera membaik.
Masih dari data pemantauan per 17 Juli 2026, lahan terdampak paling luas berada di Kecamatan Beruntung Baru mencapai 160 ha, disusul Martapura Barat seluas 30 ha, Martapura 21 ha, serta Sungaitabuk 3,5 ha.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Banjar, Nurul Chatimah, mengatakan sebagian petani masih menanam varietas padi lokal yang memiliki umur panen lebih panjang karena menyesuaikan kebutuhan konsumsi keluarga.
Akibatnya, tanaman yang ditanam menjelang musim kemarau kini menghadapi risiko kekurangan air. “Yang rentan terdampak saat ini adalah petani yang menanam padi lokal. Umur tanamnya lebih panjang sehingga ketika kemarau datang lebih cepat, tanaman belum sempat dipanen,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, Dinas Pertanian terus mengoptimalkan pemanfaatan pompa air yang telah disalurkan kepada kelompok tani. Hingga kini terdapat 219 unit pompa bantuan pemerintah yang tersebar di berbagai wilayah. Selain itu, pemerintah daerah juga mengusulkan tambahan 225 unit pompa kepada Kementerian Pertanian.(sul/lis)