Sebulan Lebih Bangkai Tongkang Batubara Teronggok di Pantai Pangandaran, Evakuasi Mulai Persiapan
Dedy Herdiana July 29, 2026 08:35 AM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Setelah lebih dari satu bulan terombang-ambing hingga didamparkan dan merusak pemandangan pesisir, proses evakuasi bangkai kapal tongkang muatan batu bara di perbatasan Pantai Sukaresik dan Pantai Batuhiu, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, akhirnya mulai memasuki tahap persiapan.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (28/7/2026), bangkai tongkang milik PT Trans Logistik Perkasa tersebut masih berada di titik awal sejak insiden terjadi pada 16 Juni 2026 lalu.

Saat air laut pasang, badan kapal bahkan kerap tak terlihat karena tertutup tingginya gelombang.

Mesikpun ceceran batu bara di permukaan laut sudah menyusut, material sisa diperkirakan masih mengendap di dasar perairan.

Baca juga: Target Evakuasi Bangkai Tongkang Batu Bara di Pangandaran Rampung 2 Bulan, Kini Mulai Dipersiapkan

Di sekitar lokasi kejadian, aktivitas evakuasi mulai menggeliat.

Sejumlah pekerja dari perusahaan pelaksana dikerahkan dengan dukungan berbagai alat berat, mulai dari ekskavator, genset berkapasitas besar, tong apung, hingga sling baja.

Seluruh proses persiapan ini juga mendapatkan pengawasan ketat dari unsur TNI dan Syahbandar Pangandaran.

Koordinator Lapangan, Ahmad Robana, menyampaikan bahwa fokus tim saat ini adalah merakit peralatan pendukung sebelum penarikan utama dilakukan.

"Untuk persiapan, kami menyiapkan winch (mesin penarik) untuk pemasangan sling baja ke tongkang. Setelah sampai ke kapal tongkang, kami siapkan alat untuk pengapungannya," ujar Ahmad kepada awak media di lokasi.

Ahmad menjelaskan, skema evakuasi akan dibagi menjadi dua tahapan utama.

Langkah awal difokuskan untuk menarik badan tongkang ke daratan terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan pembersihan sisa muatan batu bara.

"Yang pertama kita akan menggeser kapal tongkang sampai ke darat. Setelah itu baru kita akan menarik batu baranya," lanjutnya.

Baca juga: Bupati Pangandaran Desak Segera Evakuasi Tongkang Nautica 22, Pengangkatan Batu Bara Jadi Prioritas

Mengingat tingkat kesulitan teknis dan medan di lapangan, seluruh rangkaian evakuasi diperkirakan memakan waktu hingga dua bulan.

"Sementara ini kita baru berjalan satu minggu untuk persiapan. Waktu yang diperlukan untuk mengevakuasi sekitar dua bulan," pungkas Ahmad.

Sebagai informasi, insiden kandasnya tongkang bermuatan ribuan ton batu bara ini terjadi pada pertengahan Juni lalu akibat gangguan teknis di perairan Pangandaran.

Tumpahnya material batu bara ke laut sempat memicu kekhawatiran masyarakat dan pelaku pariwisata setempat terkait dampak pencemaran lingkungan pesisir. 

Pemkab Sudah Mendesak

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Pangandaran mempercepat langkah penanganan insiden Tongkang Nautica 22 atau kapal tongkang pengangkut batu bara terbalik dengan menggelar rapat koordinasi membahas metode wreck removal (penyingkiran kerangka kapal) di Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Rapat tersebut menjadi forum penting untuk menyatukan langkah seluruh pihak terkait dalam upaya mengangkat bangkai tongkang dan membersihkan tumpahan batu bara.

Termasuk meminimalkan dampak terhadap keselamatan pelayaran, lingkungan laut, dan aktivitas masyarakat pesisir.

Hadir dalam rapat itu Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan, Dinas Perhubungan, Ketua HNSI Kabupaten Pangandaran, TNI AL, Satpolairud, PT Lion Marine, serta sejumlah pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan dalam penanganan kerangka kapal.

Baca juga: Dinas Lingkungan Hidup Respons Ada Pencemaran Kuat di Laut Pangandaran Akibat Batu Bara

Pertemuan itu membahas langkah-langkah teknis, administratif, hingga koordinasi lintas instansi yang diperlukan agar proses wreck removal dapat segera dilaksanakan sesuai prosedur.

Bupati Citra Pitriyami menegaskan bahwa pembersihan batu bara yang mencemari perairan menjadi prioritas utama, termasuk pelaksanaan penyelaman bawah air untuk mendukung proses evakuasi. 

Namun, ia mengingatkan agar seluruh pekerjaan tetap mengedepankan aspek keselamatan karena kondisi gelombang laut saat ini masih kurang bersahabat.

"Pembersihan batu bara menjadi satu permasalahan yang lebih penting saat ini, termasuk penyelaman bawah air dan itu harus segera dilakukan. Tapi kami juga memohon agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena kondisi perairan saat ini kurang baik. Itu harus menjadi perhatian saat melakukan tindakan di lapangan," ujar Citra dalam rilis diterima Tribun Jabar, Jumat (10/7/2026) pagi.

Citra pun meminta perusahaan dan seluruh pihak yang bertanggung jawab agar segera mempercepat proses pengangkatan batu bara meskipun pekerjaan tersebut membutuhkan peralatan khusus dan waktu pelaksanaan yang tidak singkat.

Menurutnya, percepatan penanganan sangat penting untuk mengurangi dampak lingkungan maupun kerugian yang dirasakan masyarakat pesisir, khususnya nelayan.

"Catatan saya satu, bagaimana batu bara ini bisa segera terangkat. Saya tahu prosesnya tidak mudah dan alat-alat yang dibutuhkan juga memerlukan waktu. Tapi saya mohon agar persoalan ini secepatnya selesai dan kondisi masyarakat yang terdampak akibat insiden batu bara ini benar-benar diperhatikan," katanya.

Selain percepatan pekerjaan di lapangan, Citra pun meminta agar jadwal rencana aksi (action plan) segera disusun dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Pangandaran. 

Menurutnya, kepastian tahapan pekerjaan sangat dibutuhkan agar pemerintah dapat memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada masyarakat.

"Jangan sampai masyarakat terus menunggu tanpa kepastian. Jadwal penanganan harus segera disusun dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah agar proses pengawasan berjalan optimal dan masyarakat mengetahui perkembangan penanganannya," ucap Citra.

Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan penanganan insiden Tongkang Nautica 22 berjalan lebih cepat, terukur, dan mampu memulihkan kondisi perairan Pangandaran yang terdampak tumpahan batu bara. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.