Aramco Jadi Sasaran Serangan Rudal Yaman, Al-Houthi Klaim Musuh Akan Menelan Kekalahan
Rusaidah July 29, 2026 10:39 AM

BANGKAPOS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal yang diklaim dilakukan oleh pasukan Yaman.

Di tengah eskalasi tersebut, Yaman menegaskan siap melanjutkan operasi militernya sebagai respons terhadap serangan yang mereka sebut terus berlangsung.

Mengutip Tasnim pada 28 Juli, anggota Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mohammed Ali Al-Houthi, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Arab Saudi akan menghadapi kekalahan yang menurutnya tidak terhindarkan.

Al-Houthi mengatakan kampanye pemboman serta pengepungan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tidak berhasil melemahkan perlawanan rakyat Yaman. Menurutnya, konflik yang berkepanjangan justru memperkuat kemampuan militer negaranya.

Baca juga: Putusan MK 195 Kukuhkan Kembali Pilkada Langsung

“Semakin lama pertempuran berlangsung, semakin besar kekuatan dan kemampuan kita yang telah berkembang, dan insya Allah, kita tidak akan menjanjikan apa pun kepada musuh selain kekalahan yang memalukan.”

Pernyataan tersebut muncul setelah Angkatan Bersenjata Yaman mengklaim berhasil melaksanakan dua operasi militer yang menargetkan fasilitas Aramco di wilayah Jizan dan Yanbu.

Serangan itu disebut menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat tanpa awak (drone). Menurut pihak Yaman, operasi tersebut merupakan balasan atas serangan Arab Saudi terhadap Pelabuhan Hudaydah dan Pulau Kamaran.

Juru bicara militer Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur penting milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi itu.

Pihak Yaman juga mengklaim bukti berupa citra satelit dan rekaman visual menunjukkan munculnya kepulan asap di lokasi yang menjadi sasaran. Klaim tersebut disebut bertolak belakang dengan pernyataan Arab Saudi yang menyatakan serangan telah berhasil dicegat.

Yaman menyebut operasi tersebut juga dipicu oleh dugaan pelanggaran gencatan senjata setelah serangan ke Bandara Internasional Sana'a pada 13 Juli lalu.

Selain menyerang fasilitas energi, pasukan Yaman mengaku turut menargetkan sejumlah lokasi strategis lainnya, termasuk Bandara Internasional Abha, sebagai bagian dari strategi yang mereka sebut "pengepungan dibalas pengepungan".

Di sisi lain, kelompok Ansarallah juga mengumumkan penerapan blokade terhadap jalur pelayaran Arab Saudi di kawasan Selat Bab al-Mandeb.

Pihak Yaman menegaskan operasi militer maupun blokade tersebut akan terus dijalankan hingga agresi dan tekanan terhadap negara mereka dihentikan.

(Bangkapos.com/YouTube)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.