TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Organisasi Masyarakat Sipil dan Jurnalis di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) saat unjuk rasa buntut pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang menyebut lembaga swadaya masyarakat (LSM), jurnalis dan pengamat sebagai Londo Ireng.
Mereka menggelar aksi di fly over, Kota Makassar, Sulsel, Selasa (28/7/2026).
Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Belanda hitam" atau "orang Belanda berkulit hitam."
Istilah tersebut bukan ditujukan kepada orang Belanda asli, melainkan kepada prajurit asal Afrika Barat yang bertugas dalam Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19.
Aksi Organisasi Masyarakat Sipil ini diikuti 50-an orang dari berbagai latar belakang organisasi serta individu.
Massa aksi berasal dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, jurnalis lepas, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, LBH Pers, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar.
Mereka membawa spanduk bertuliskan Makassar Bersuara, Kami Muak Prabowo.
Ada pula berbagai poster bertuliskan Jurnalis No Londo Ireng, Tanpa Kebebasan Pers Kebenaran Kehilangan Tempat untuk Berbicara serta Negara Harus Menyelesaikan Konflik Agraria dengan Adil Gender.
Koordinator Advokasi LBH Pers Makassar Sukrianto mengatakan, aksi unjuk rasa ini menyoroti istilah atau terminologi "Londo Ireng" yang disematkan atau keluar dari mulut Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut dinilai mestimatisasi gerakan rakyat, gerakan masyarakat sipil, bahkan jurnalis.