Doktor UI Ciptakan Reaktor AI Ubah Kotoran Domba Jadi Bahan Baterai Kendaraan Listrik
Dian Anditya Mutiara July 29, 2026 01:33 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, BEJI – Limbah kotoran domba yang selama ini identik dengan bau dan pencemaran lingkungan ternyata berpotensi menjadi bahan baku teknologi masa depan.

Melalui inovasi terbaru, limbah peternakan itu berhasil diolah menjadi biochar berkualitas tinggi yang berpeluang digunakan sebagai material penyusun baterai kendaraan listrik.

Terobosan tersebut dikembangkan oleh Illa Rizianiza, peneliti dari Universitas Indonesia (UI), melalui reaktor pirolisis pintar berbasis Artificial Intelligence (AI).

Berkat penelitian itu, Illa meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dan IPK 3,96, sekaligus menjadi Doktor ke-132 di Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).

Disertasi yang dipertahankannya berjudul "Pengembangan Reaktor Pirolisis Kotoran Domba untuk Produksi Biochar sebagai Kandidat Prekursor Grafena."

Baca juga: Profesor dari Xian Jiaotong-Liverpool University Sebut Kecerdasan Buatan Bisa Turunkan Kreativitas

Menggabungkan AI dan Digital Twin

Reaktor yang dikembangkan Illa menggabungkan sejumlah teknologi modern, seperti Digital Twin, Computational Fluid Dynamics (CFD), dan Artificial Neural Network (ANN).

Kombinasi teknologi tersebut memungkinkan proses pirolisis dipantau sekaligus dikendalikan secara otomatis dan real time sehingga menghasilkan biochar dengan kualitas yang lebih konsisten.

Efisiensi sistem juga ditingkatkan melalui pemanfaatan panas buangan (waste heat recovery) dari mesin pembakaran internal. Cara ini membuat konsumsi energi lebih hemat sekaligus meningkatkan efektivitas proses produksi.

Baca juga: UMN Hadirkan Program Studi Kecerdasan Buatan, Fokus Teknologi hingga Etika

Biochar Berpotensi Gantikan Grafit Tambang

Inovasi ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap material karbon berkinerja tinggi yang selama ini masih bergantung pada grafit hasil tambang yang tidak terbarukan dan membutuhkan biaya pemurnian cukup besar.

Melalui metode pirolisis lambat, struktur karbon yang berasal dari kotoran domba berhasil diubah menjadi graphene-like carbon, yakni material yang memiliki karakteristik menyerupai grafit alami.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan material tersebut memiliki rasio oksigen terhadap karbon (O/C) sebesar 0,04 serta luas permukaan spesifik mencapai 585,51 meter persegi per gram, sehingga dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk perangkat penyimpan energi maupun sensor presisi.

Akurasi AI Capai 99,5 Persen

Teknologi kecerdasan buatan yang diterapkan dalam sistem tersebut mampu menghasilkan tingkat akurasi prediksi hingga 99,5 persen.

Dengan kemampuan itu, proses optimasi reaktor yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit.

Selain menghasilkan material bernilai tinggi, inovasi ini juga dinilai membuka peluang ekonomi baru bagi peternak melalui konsep ekonomi sirkular serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

"Melalui penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa limbah peternakan tidak hanya dapat diatasi sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diolah menjadi material karbon bernilai tinggi yang mendukung perkembangan teknologi energi dan elektronik masa depan," ujar Illa, Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Bareskrim: Gas Whip-pink Berisi N2O Medis untuk Anestesi, Tak Mengandung Bahan Pangan

Dukung Kemandirian Teknologi Nasional

Dekan FTUI, Kemas Ridwan Kurniawan, mengapresiasi penelitian tersebut karena dinilai mampu mengubah limbah menjadi material bernilai ekonomi tinggi.

"Penelitian ini menunjukkan bagaimana pendekatan rekayasa dapat mengubah limbah menjadi material bernilai tinggi. Inovasi seperti ini sangat relevan dengan upaya penguatan ekonomi sirkular, kemandirian teknologi, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan," katanya.

Penelitian Illa dibimbing oleh Promotor Ahmad Indra Siswantara dan Ko-Promotor Eny Kusrini, serta didukung skema joint supervision bersama Muhammad Aziz dari Tokyo University, Jepang.

Riset tersebut sekaligus memperkuat posisi Universitas Indonesia sebagai perguruan tinggi berbasis riset yang terus mengembangkan inovasi untuk mendukung teknologi ramah lingkungan dan kemandirian industri nasional. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.