SERAMBINEWS.COM – Amerika Serikat kembali memperlihatkan kemajuan teknologi militernya. Raksasa industri pertahanan Lockheed Martin memperkenalkan sistem anti-drone terbaru bernama Morfius X-Rotor, yang diklaim mampu menetralisir hingga 50 drone musuh dalam satu kali misi.
Kemunculan sistem ini dinilai menjadi jawaban atas meningkatnya ancaman drone swarm atau serangan kawanan drone yang kini banyak digunakan dalam berbagai konflik modern, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Berbeda dengan sistem pertahanan udara konvensional yang mengandalkan rudal pencegat, Morfius X-Rotor menggunakan High Power Microwave (HPM) atau gelombang mikro berdaya tinggi untuk melumpuhkan komponen elektronik drone lawan.
Teknologi tersebut memungkinkan drone musuh dinonaktifkan tanpa ledakan, sehingga dapat meminimalkan risiko kerusakan di sekitar lokasi sasaran.
Baca juga: Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan Drone di Laut Kaspia Picu Kekhawatiran Dua Perang Besar Bersatu
Dalam video demonstrasi yang dirilis Lockheed Martin di media sosial, terlihat tiga unit Morfius X-Rotor diluncurkan dari darat menuju sasaran. Tayangan itu memperlihatkan proses pelacakan target melalui tampilan Head-Up Display (HUD) hingga pelepasan gelombang mikro yang diarahkan ke kawanan drone.
Meski demikian, perusahaan belum memastikan apakah rekaman tersebut merupakan hasil uji coba langsung atau hanya simulasi berbasis animasi.
Lockheed Martin menyebut ancaman kawanan drone kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pasukan sekutu di berbagai medan tempur. Karena itu, Morfius X-Rotor dirancang mampu memberikan respons cepat terhadap serangan drone dalam jumlah besar.
Sistem ini juga disebut mendukung Rapid Response Counter-UAS Roadmap 2025–2028 milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Menurut perusahaan, Morfius X-Rotor merupakan satu-satunya sistem anti-drone berbasis gelombang mikro berdaya tinggi yang diluncurkan dari darat, dapat digunakan kembali, dan mampu menghancurkan lebih dari 50 drone dalam satu penerbangan.
Keunggulan lainnya, sistem ini tidak bergantung pada radar pengendali tembakan maupun sensor khusus untuk mendeteksi target. Morfius X-Rotor dirancang kompatibel dengan berbagai sistem komando dan kendali (command and control), sehingga tetap dapat beroperasi di lingkungan peperangan elektronik (electronic warfare/EW) yang penuh gangguan.
Lockheed Martin menjelaskan teknologi tersebut dikembangkan dari platform Morfius yang telah dirintis sejak 2017 dan telah menjalani berbagai uji lapangan di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat.
Seorang wakil presiden Lockheed Martin menyebut demonstrasi Morfius X-Rotor menjadi tonggak baru dalam kemampuan pertahanan anti-drone karena menawarkan tingkat keberhasilan tinggi dengan biaya penindakan yang relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan rudal pencegat.
Sebelumnya, teknologi anti-drone berbasis gelombang mikro juga telah diperkenalkan oleh sejumlah perusahaan lain. Salah satunya adalah Epirus Leonidas, yang dilaporkan berhasil menetralisir 61 dari 61 drone dalam uji tembak langsung di Indiana pada tahun lalu.
Sementara itu, China juga diketahui mengembangkan senjata gelombang mikro berkekuatan 20 gigawatt bernama TPG1000C, yang disebut-sebut dirancang untuk mengganggu jaringan satelit seperti Starlink.(*)