Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandar Lampung mencatat sebanyak 150 insiden kebakaran terjadi di wilayah setempat sejak 1 Januari hingga 28 Juli 2026.
Baca juga: Polres Metro Tangkap Pencuri Laptop di Rumah Kos
Dari jumlah tersebut, korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran dengan jumlah kasus terbanyak.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandar Lampung, Anthoni Irawan, mengatakan berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, sebanyak 97 kebakaran dipicu gangguan instalasi listrik atau korsleting.
"Sejak 1 Januari sampai 28 Juli 2026 tercatat ada 150 kebakaran. Penyebab paling banyak masih didominasi korsleting listrik dengan 97 kasus," kata Anthoni, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, jumlah kebakaran di Kota Bandar Lampung mengalami perubahan setiap bulannya.
Pada Januari terdapat 10 kasus kebakaran, Februari 12 kasus, Maret 14 kasus, kemudian meningkat signifikan pada April dengan 44 kasus.
Memasuki Mei, jumlah kebakaran menurun menjadi 14 kasus, lalu kembali meningkat pada Juni menjadi 28 kasus. Sementara hingga 28 Juli 2026, jumlah kebakaran yang terjadi mencapai 28 kasus.
Dari sisi kerugian material, April menjadi bulan dengan nilai kerugian terbesar, yakni mencapai Rp839,5 juta.
Secara keseluruhan, total kerugian akibat kebakaran selama periode Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai Rp1.905.400.000.
Selain kerugian material, luas area yang terdampak kebakaran mencapai 8.026 meter persegi. Luas kebakaran terbesar terjadi pada Juli dengan cakupan mencapai 5.303 meter persegi.
Anthoni mengungkapkan, berdasarkan objek yang terbakar, kategori lainnya menjadi yang terbanyak dengan 92 kasus. Selanjutnya, bangunan penduduk sebanyak 30 kasus, lahan 14 kasus, bangunan umum tujuh kasus, kendaraan empat kasus, serta bangunan industri tiga kasus.
Sementara berdasarkan penyebabnya, setelah korsleting listrik sebanyak 97 kasus, kebakaran akibat pembakaran sampah berada di urutan berikutnya dengan 20 kasus. Penyebab lain meliputi penggunaan kompor sembilan kasus, puntung rokok tiga kasus, serta faktor lainnya sebanyak 22 kasus.
Data Damkarmat juga menunjukkan sebanyak 74 jiwa dari 29 kepala keluarga terdampak akibat kebakaran selama periode tersebut.
Tidak terdapat korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, namun enam orang mengalami luka-luka.
Dari sisi objek terdampak, Damkarmat mencatat kerusakan pada 34 bangunan penduduk, 30 bangunan umum, empat bangunan industri, sembilan kendaraan, 13 lokasi lahan, serta 177 objek lainnya. Perbedaan jumlah antara objek terbakar dan objek rusak terjadi karena satu peristiwa kebakaran dapat menyebabkan kerusakan pada lebih dari satu objek.
Untuk menangani seluruh kebakaran tersebut, Damkarmat Kota Bandar Lampung mengerahkan 298 unit mobil pemadam kebakaran dan 248 unit mobil tangki air dalam upaya penanganan di lapangan.
Anthoni mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kondisi instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha. Hal itu mengingat korsleting listrik masih menjadi faktor penyebab kebakaran paling dominan di Kota Bandar Lampung.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)