TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menargetkan penurunan prevalensi stunting paling tidak menjadi 6,5 persen, sedangkan berdasarkan data per Februari 2026 sebesar 8,3 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Agus Tri Widyantara, menyampaikan bahwa pihaknya optimistis bisa mencapai target tersebut. Sebab, angka prevalensi stunting pada tahun sebelumnya sejumlah 9,05 persen.
"Melalui hal itu, kami pada hari ini melakukan rembug stunting dengan mengumpulkan dari semua stakeholder yang menangani stunting di Kabupaten Bantul agar bersama-sama menanggulangi masalah stunting," kata Agus, usai pelaksanaan Rembug Stunting di gedung Induk Kantor Bupati Bantul, Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan data per Februari 2026, sebaran kasus stunting tertinggi di Bumi Projotamansari berada di Kapanewon Srandakan, Kapanewon Pundong, dan Kapanewon Pleret. Sementara, prevalensi stunting terendah berada di Kapanewon Banguntapan.
Adapun prevalensi stunting di Kapanewon Srandakan sejumlah 13 persen lebih, sedangkan di Kapanewon Banguntapan sejumlah 4,3 persen. Artinya, rentang prevalensi stunting tertinggi dan terendah di Kapanewon Bantul cukup terlihat jelas.
Dinas Kesehatan Bantul mencatat ada beberapa faktor determinan penyebab munculnya kasus stunting. Beberapa faktor itu mulai dari sisi pola asuh hingga asap rokok.
"Jadi, ada beberapa faktor. Yang pertama memang pola asuh berperan dengan adanya stunting. Kemudian, dari beberapa kapanewon dengan stunting tertinggi itu karena faktor adanya perokok di rumah tersebut," tutur dia.
Faktor itu diketahui berdasarkan kondisi lapangan. Sebagai contoh anak-anak yang mengalami stunting di Kapanewon Pundong, 100 persen ditemukan perokok di rumah masing-masing.
"Kemudian dari ibu-ibu hamil yang kekurangan energi kronis cukup banyak. Ibu anemia juga masih ditemukan. Jadi memang cukup kompleks untuk faktor yang berperan di sini (stunting). Jadi multi dimensi yang berperan dalam masalah stunting," urainya.
Disampaikannya dalam penanganan stunting perlu dilakukan mulai dari sisi pencegahan. Namun, bilamana ditemukan anak-anak dengan kondisi stunting, maka penanganannya dilakukan melalui tata kelola yang baik.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Hermawan Setiaji, berujar, jajaran organisasi perangkay daerah Pemkab Bantul terus berupaya memikirkan secara bersama-sama bagaimana cara menekan angka stunting.
"Prevalensi stunting terus kita pikirkan secara bersama-sama, sehingga prevalensi stunting dari tahun ke tahun bisa mengalami perbaikan," tutur Hermawan.
Kata Hermawan, sesuai pesan dari Wakil Bupati Bantul, masing-masing panewu di Bumi Projotamansari diharapkan sering-sering mengecak atau memantau perkembangan kasus stunting. (Nei)