TRIBUNJOGJA.COM - Belakangan ini istilah closure semakin sering muncul di media sosial, terutama saat membahas hubungan asmara terutama hubungan dengan mantan pasangan.
Tidak sedikit orang yang mengatakan seseorang sulit move on karena "belum mendapat closure".
Di TikTok, perdebatan mengenai penting atau tidaknya closure juga ramai dibahas oleh berbagai kreator konten.
Ada yang berpendapat bahwa setiap hubungan sebaiknya diakhiri dengan penjelasan, agar kedua belah pihak sama-sama tenang.
Namun, ada pula yang menganggap diam, menghilang, atau tidak lagi memberi respons sudah menjadi jawaban yang cukup.
Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan closure? Benarkah semua orang membutuhkannya agar bisa melanjutkan hidup?
Dalam dunia psikologi, closure adalah proses seseorang mencapai penyelesaian emosional setelah sebuah hubungan berakhir.
Tujuannya bukan untuk kembali bersama, melainkan membantu seseorang menerima kenyataan lalu melanjutkan hidup tanpa terus dihantui rasa penasaran.
Menurut psikolog klinis Dr. Pauline Boss, yang banyak meneliti tentang kehilangan dan ambiguous loss, manusia memang cenderung mencari kepastian ketika menghadapi sebuah perpisahan.
Ketika tidak ada penjelasan yang jelas, seseorang bisa lebih sulit menerima kenyataan karena pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.
Karena itu, closure sering dipahami sebagai momen ketika seseorang akhirnya merasa tenang setelah mengetahui alasan sebuah hubungan berakhir atau setelah berhasil menerima kenyataan tersebut.
Tidak selalu, Menurut American Psychological Association (APA), penyembuhan emosional lebih banyak dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memaknai pengalaman yang dialaminya dibandingkan jawaban dari orang lain.
Artinya, closure tidak harus diberikan oleh mantan pasangan. Seseorang tetap bisa memperoleh closure melalui proses menerima keadaan atau melakukan refleksi diri, dengan kata lain, closure bisa datang dari diri sendiri.
Bagi sebagian orang, penjelasan di akhir hubungan membantu mengurangi berbagai pertanyaan yang terus muncul di kepala, seperti:
"Apa salahku?"
"Kenapa semuanya berubah?"
"Apakah masih ada kesempatan untuk kembali?"
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mendapat jawaban, sebagian orang merasa lebih mudah menerima kenyataan dan melanjutkan hidup.
Namun, psikolog juga menjelaskan bahwa tidak semua jawaban akan membuat seseorang merasa puas. Bahkan terkadang, penjelasan justru memunculkan pertanyaan baru atau memperpanjang proses berduka.
Topik closure juga ramai dibahas oleh kreator konten di TikTok.
Salah satunya akun @febrylestya yang mempertanyakan apakah closure memang penting, atau justru hanya akan membuka luka baru bagi salah satu pihak.
Di kolom komentarnya, muncul berbagai pendapat. Ada yang merasa penjelasan tetap diperlukan agar tidak terus berspekulasi. Namun, ada pula yang beranggapan bahwa sikap seseorang sebenarnya sudah cukup menjadi jawaban.
Pemilik akun tersebut bahkan berpendapat bahwa terkadang orang yang masih mencari closure sebenarnya masih menyimpan harapan agar hubungan tersebut bisa kembali.
Sementara itu, kreator TikTok @melancholicperson menyampaikan pendapat yang cukup populer di media sosial, yaitu "no closure is closure"
Menurutnya, ketika seseorang sudah tidak membalas pesan, menghilang begitu saja (ghosting), atau tidak lagi memberikan perhatian, hal tersebut sebenarnya sudah menjadi jawaban.
Karena itu, seseorang tidak perlu terus mengejar penjelasan yang kemungkinan besar tidak akan datang.
Di sisi lain, kreator @vianaatr melalui segmen #RuangpikirViya memiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, mengakhiri hubungan tanpa komunikasi yang jelas merupakan tindakan yang kurang menghargai orang lain dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab.
Ia menilai setiap hubungan, baik hubungan asmara, pertemanan, maupun kerjasama lainnya, sebaiknya diakhiri dengan komunikasi yang jujur.
Bahkan untuk hal sederhana seperti membatalkan janji bertemu, seseorang tetap perlu memberi kabar agar tidak meninggalkan tanda tanya.
Meski begitu, banyak juga warganet yang memberikan sudut pandang lain. Menurut mereka, kalimat "no closure is closure" bukan ditujukan untuk membenarkan perilaku orang yang menghilang, melainkan sebagai pengingat bagi pihak yang ditinggalkan agar tidak terus menunggu penjelasan.
Jika seseorang sudah berkali-kali mengabaikan pesan, membalas sangat lama, menunjukkan sikap tidak menghargai, atau menghilang tanpa kabar, sebagian orang menganggap itu sudah cukup menjadi tanda bahwa hubungan tersebut memang telah berakhir.
Menurut berbagai penelitian psikologi hubungan, jawabannya bergantung pada masing-masing individu.
Sebagian orang memang merasa lebih tenang setelah mendapatkan penjelasan secara langsung. Namun, ada juga yang justru bisa pulih lebih cepat ketika berhenti mencari jawaban dari orang lain dan mulai menerima kenyataan apa adanya.
Penelitian yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin juga menunjukkan bahwa kemampuan menerima akhir hubungan lebih berpengaruh terhadap proses move on dibanding banyaknya penjelasan yang diterima.
Karena itu, yang paling penting bukanlah apakah seseorang mendapat closure dari mantan pasangan, melainkan apakah ia sudah mampu menerima bahwa hubungan tersebut memang telah selesai dan memilih untuk melanjutkan hidup.
(MG ABIL PRAMUDYA)