Kurikulum Berbasis Cinta Diterapkan di Madrasah Bulungan, Guru Diminta tak Hanya Kejar Nilai Siswa
Junisah July 29, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN - Pendidikan di madrasah tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Hal tersebut menjadi salah satu penekanan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bulungan melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh satuan pendidikan madrasah.

Kepala Kantor Kemenag Bulungan Sapriansyah Alie menyampaikan, pendekatan tersebut mendorong guru untuk lebih memahami kondisi peserta didik dalam proses pembelajaran.

"Yang ingin kita tekankan dari kurikulum ini bagaimana guru di madrasah mendidik siswa dengan dasar cinta," ujar Sapriansyah Alie kepada TribunKaltara.com Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Kemenag Tana Tidung Siapkan MoU dengan Disdikbud, Perkuat Kurikulum Berbasis Cinta di Sekolah

Ia mengatakan, seorang guru tidak seharusnya hanya melihat capaian akademik seorang siswa ketika melakukan penilaian.

"Bukan sekadar mengajar untuk mengejar nilai akademik, tetapi benar-benar memahami kondisi dan kebutuhan anak didik," katanya 

Sapriansyah menjelaskan, ketika seorang siswa mengalami penurunan prestasi, guru perlu melihat persoalan tersebut secara lebih menyeluruh.

Sebab, kondisi akademik anak dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga.

"Kalau ada siswa yang prestasinya menurun, jangan langsung melihat dari nilainya saja. Guru harus mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi karena kurang perhatian dari keluarga atau ada persoalan lain yang sedang dihadapi anak, jelasnya.

Ia menilai, pendekatan tersebut penting dilakukan karena pendidikan karakter tidak dapat dibentuk hanya melalui proses belajar di sekolah.

Baca juga: Pemkab Nunukan Gaungkan Kurikulum Berbasis Cinta Bagi Siswa Perbatasan, Begini Tujuannya

Menurutnya, keluarga memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak karena sebagian besar waktu peserta didik justru dihabiskan di lingkungan keluarga.

"Siswa ini kan paling banyak waktunya di rumah jadi kalau di sekolah hanya sekitar tujuh jam. Selebihnya ya bersama orang tua di rumah makanya itu pendidikan karakter harus berjalan seiring antara sekolah dan orang tua termasuk lingkungan," tuturnya.

Sapriansyah Alie memaparkan, Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum nasional.

Melainkan, kebijakan tersebut menjadi penguatan terhadap nilai-nilai karakter yang diterapkan dalam proses pembelajaran di madrasah.

"Kurikulum berbasis cinta ini bukan berarti mengganti kurikulum yang sudah ada, tapi memperkuat kurikulum yang ada ke pendidikan karakter agar anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki akhlak, kepedulian sosial, sikap toleran, dan rasa tanggung jawab," paparnya.

Dalam penerapannya, terdapat sejumlah nilai yang ditekankan melalui Kurikulum Berbasis Cinta, mulai dari cinta kepada Tuhan, cinta kepada diri sendiri dan sesama manusia, cinta terhadap lingkungan, hingga cinta kepada bangsa dan negara.

Ia menyebutkan, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta telah berjalan di seluruh jenjang pendidikan madrasah di Kabupaten Bulungan.

Mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

on : KURIKULUM BERBASIS CINTA - Suasana sekitar kantor Kemenag Bulungan, Jalan Kolonel Haji Soetadji, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kaltara, Senin (26/7/2026). Madrasah diminta terapkan Kurikulum Berbasis Cinta.

"Untuk saat ini memang penerapannya masih di sekolah yang dinaungi Kemenag, mudahan kita bisa buat MoU dengan Disdikbud Bulungan supaya ini bisa diterapkan di sekolah umum juga," sebutnya.

Para guru juga telah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar di masing-masing madrasah.

Sapriansyah menambahkan, pendekatan pendidikan berbasis nilai tersebut juga diharapkan dapat diterapkan oleh guru pendidikan agama yang bertugas di sekolah umum.

"Walaupun belum diterapkan di sekolah umum tapi kita sudah bekali guru-guru agama kita yang ada di setiap sekolah untuk menerapkan kurikulum ini pada saat di kelas maupun di luar kelas," tambahnya.

Hal ini dinilai penting seiring perkembangan teknologi yang membuat peserta didik semakin mudah mendapatkan berbagai informasi dari media digital.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan pemahaman agama agar anak memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang diterimanya.

"Ada hubungan yang kuat antara penguatan nilai keagamaan dengan kesehatan mental seseorang. Karena itu materi pendidikan agama harus terus diperkuat, termasuk melalui penyuluh agama dan guru pendidikan agama di sekolah," pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.