...Perguruan tinggi itu harus menjadi bagian solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi bagian dari ekosistem pembangunan untuk menjadi problem solver dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi.
"Perguruan tinggi harus menjadi problem solver, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa. Saat ini kampus yang hebat adalah kampus yang mampu memberikan makna yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat," katanya dalam kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot di Jakarta, Rabu.
Wamen Fauzan menyebut kekuatan hampir sepuluh juta mahasiswa dan ratusan ribu dosen harus dimanfaatkan untuk memperluas dampak tri darma perguruan tinggi.
Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perubahan paradigma pendidikan tinggi dari kampus yang bekerja secara mandiri menjadi kampus yang membangun jejaring kolaborasi, dari orientasi pada capaian institusi menuju orientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
Sebagai implementasi kebijakan tersebut, jelas Fauzan, di daerah-daerah sudah dibentuk beberapa Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) yang berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan setempat seperti pemerintah daerah serta dunia usaha dan industri untuk menjawab persoalan yang terdapat di daerah tersebut sebagai solusi kebangsaan.
Melalui konsorsium tersebut, perguruan tinggi didorong untuk mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan strategis bangsa, sekaligus memperkuat kolaborasi antarkampus melalui model kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy.
Sebagai contoh, Kemdiktisaintek telah mengembangkan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendukung percepatan penurunan stunting melalui KKN Tematik, di Sulawesi Tengah untuk penanganan tuberkulosis (TBC), serta di Bondowoso melalui pendampingan pengembangan pertanian organik.
Menurut Fauzan, pendekatan serupa dapat diterapkan dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi dengan mengidentifikasi persoalan spesifik di setiap wilayah sebagai dasar penyusunan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
"Perguruan tinggi itu harus menjadi bagian solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat. Di suatu kawasan transmigrasi, kampus bisa mengidentifikasi tantangan yang ada di lokasi tersebut. Ketika diperlukan kajian yang lebih spesifik dan treatment yang lebih efektif, maka perguruan tinggi dapat ‘memencet tombol’ konsorsium yang ada di daerah tersebut," ujar Wamen Fauzan.
Ia menilai hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian dan lembaga dalam mewujudkan pemerataan pembangunan melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan inovasi sebagaimana tercantum dalam Astacita.
Menutup sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap Kementerian Transmigrasi atas terselenggaranya kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot. Menurut Wamen Fauzan, kegiatan tersebut semakin membuka kesempatan bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan kawasan transmigrasi.
Diketahui, data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Oktober 2025 dan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki 4.416 perguruan tinggi, 303.067 dosen, dan 9.967.487 mahasiswa. Potensi tersebut merupakan modal strategis yang dapat mendukung percepatan pembangunan, termasuk melalui pendampingan berbasis ilmu pengetahuan di kawasan transmigrasi.





