PROHABA.CO, BANDA ACEH - Cuaca panas terik yang terik dan menyengat melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena alam ini tidak hanya memicu perhatian dari sisi meteorologi, tetapi juga mendapat sorotan dari ulama terkemuka di Serambi Mekkah.
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali, mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar menjadikan fenomena cuaca ekstrem ini sebagai momentum penting untuk melakukan muhasabah diri.
Masyarakat diajak meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah serta meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan.
Ulama yang akrab disapa Abu Sibreh ini menegaskan bahwa segala dinamika perubahan cuaca, baik panas terik maupun dingin ekstrem, merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT.
Oleh sebab itu, selain melakukan ikhtiar, manusia perlu terus memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta agar senantiasa memperoleh rahmat serta perlindungan-Nya.
"Yang memberikan cuaca panas ataupun dingin adalah Allah SWT.
Karena itu, yang paling kita butuhkan sebenarnya adalah kasih sayang Allah.
Baca juga: Aceh Mulai Terdampak El Nino, BMKG Prediksi Suhu Capai 34 Derajat Celsius hingga Agustus
Agar Allah melimpahkan cuaca yang baik, adem, dan sesuai bagi keberlangsungan hidup kita," ujar Abu Sibreh saat menjadi narasumber dalam program talkshow Serambi Spotlight yang ditayangkan secara langsung di kanal YouTube Serambinews pada Selasa (28/7/2026).
Abu Sibreh menambahkan, kondisi cuaca yang terlalu ekstrem dapat memengaruhi berbagai sendi kehidupan, mulai dari kesehatan hingga aktivitas perekonomian harian masyarakat.
Sebagai solusi komprehensif, selain melakukan berbagai ikhtiar lahiriah, umat Islam juga diajak melakukan ikhtiar spiritual dengan meningkatkan kualitas ibadah.
Menurutnya, memperbaiki akhlak dan memperbanyak amal saleh juga salah satu bentuk ikhtiar agar Allah SWT melimpahkan rahmat kepada negeri.
"Caranya adalah dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Tinggalkan kemaksiatan, kedurhakaan, dan segala hal yang tidak baik dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mari bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah agar Allah menyayangi kita," kata pimpinan MPU Aceh tersebut.
Baca juga: Banda Aceh Kembali Jadi Kota Terpanas di Indonesia, Suhu Tembus 36,4 Derajat Celsius
Aceh Jadi Provinsi Terpanas di Indonesia
Imbauan ulama tersebut berbarengan dengan rilis data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menempatkan Provinsi Aceh di urutan teratas daftar wilayah bertemperatur tertinggi secara nasional.
Berdasarkan pengamatan BMKG periode 27 Juli 2026 pukul 07.00 WIB hingga 28 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar, yang menaungi wilayah aglomerasi Kota Banda Aceh, mencatat suhu udara maksimum mencapai 36,4 derajat Celsius.
Angka ini merupakan yang tertinggi secara nasional.
Tak hanya itu, Stasiun Klimatologi Aceh yang berlokasi di Indrapuri, Aceh Besar, menyusul di posisi kedua nasional dengan catatan suhu maksimum 36,2 derajat Celsius.
Capaian ini menjadikan Aceh sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menempatkan dua stasiun pengamatannya pada dua posisi teratas daftar suhu maksimum harian di Indonesia.
Dibandingkan periode pengamatan sehari sebelumnya, suhu maksimum di Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda mengalami kenaikan cukup signifikan.
Pada 26–27 Juli 2026, stasiun tersebut mencatat suhu maksimum 35,5 derajat Celsius, sedangkan pada periode terbaru meningkat menjadi 36,4 derajat Celsius atau naik 0,9 derajat Celsius.
Sebagai pembanding, posisi ketiga nasional ditempati oleh Stasiun Meteorologi Halim Perdanakusuma Jakarta Timur 35,2 derajat Celsius, diikuti Stasiun Meteorologi Sultan Hasanuddin Maros, Sulawesi Selatan 35,1 derajat Celsius.
Adapun BBMKG Wilayah II di Tangerang Selatan, Banten, serta Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman di Ketapang, Kalimantan Barat, masing-masing mencatat suhu maksimum 35,0 derajat Celsius.
Baca juga: Hendak Bersihkan Sumur Sedalam 18 Meter di Aceh Tamiang, Dua Warga Terjebak, Satu Meninggal Dunia
Penyebab Terik Ekstrem dan Imbauan Kesehatan
Pihak BMKG menjelaskan bahwa lonjakan suhu udara yang melanda wilayah Aceh dipicu oleh dominasi cuaca cerah tanpa tutupan awan yang signifikan.
Hal ini menyebabkan radiasi sinar matahari terpancar sempurna dan optimal langsung menyentuh permukaan bumi.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh minimnya pembentukan awan hujan akibat puncak musim kemarau yang sedang berlangsung.
Selain itu, fenomena El Nino yang masih memberikan dampak pada kondisi atmosfer turut menekan pertumbuhan awan pada siang hari.
Sehingga, permukaan bumi menerima paparan sinar matahari lebih lama sehingga suhu udara meningkat, terutama pada siang hingga sore hari.
Menghadapi paparan cuaca panas terik ini, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman dehidrasi, kelelahan akibat paparan panas (heat exhaustion), hingga gangguan kesehatan lainnya.
Masyarakat disarankan untuk:
Memperbanyak konsumsi air putih tanpa menunggu rasa haus.
Membatasi atau menguraingi aktivitas di luar ruangan pada jam terik puncak, yakni pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.
Menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, atau kacamata hitam jika beraktivitas di luar.
Mengenakan pakaian yang longgar, ringan, dan mudah menyerap keringat.
Perhatian ekstra juga diimbau bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta para pekerja lapangan yang beraktivitas langsung di bawah terik matahari.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)
Baca juga: Suhu Capai 42 Derajat Celcius, Jemaah Haji Aceh Tur ke 4 Lokasi Situs Bersejarah Madinah
Baca juga: Wagub Fadhlullah dan Istri Berkunjung ke Rumah Almarhumah Ibunda Pemred Serambi Indonesia
Sumber: SerambiNews.com