SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Angka fenomena fatherless atau tidak ada keterlibatan emosional dan fisik ayah dalam pengasuhan anak cukup memprihatinkan di Jawa Timur.
Padahal, peran ayah mampu menciptakan generasi bebas stunting dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045.
Hari ini, Rabu (29/7/2026), puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Jawa Timur.
Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Agung Kabupaten Malang dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, sejumlah pejabat dari pemerintah provinsi, hingga pemerintah daerah di Jawa Timur.
Pada Harganas ke-33 ini mengusung tema 'Ayah Wajib Hadir'.
Artinya, peran ayah tidak hanya fokus pada pencari nafkah.
Melainkan juga sebagai pilar dalam membentuk karakter, pelindung psikologis anak, hingga benteng dalam mencegah stunting, dan pernikahan dini.
Baca juga: Program 3 Juta Rumah di Jatim Terkendala Status Lahan, Wagub Emil Maksimalkan Daerah yang Sudah Siap
Berdasarkan data dari BKKBN Provinsi Jawa Timur, fenomena angka fatherless mencapai 25 persen.
Angka tersebut dinilai memprihatinkan. Banyak anak yang memiliki ayah secara fisik, namun kurang perhatian dan pengasuhan kepada anaknya.
Menyikapi fenomena tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, menyampaikan bahwa kondisi itu tidak lepas dari perubahan gaya hidup.
Di antaranya adanya keberadaan gadget yang berdampak pada komunikasi dalam anggota keluarga.
"Ini yang harus diantisipasi. Membangun bangsa itu tidak melulu dari pembangunan infrastruktur seperti jalan, geng sekolah, tetapi yang penting keluarga ini butuh kehadiran pemerintah," kata Emil Dardak.
Misalnya, melalui program keluarga berencana (KB). Saat ini, KB bukan sekadar berbicara soal kontrasepsi. Tetapi, memastikan pasangan dari sebelum menikah sampai memiliki anak sudah memiliki perencanaan yang matang.
"Istilahnya bukan 'gimana nanti' tapi 'nanti gimana'. Nah ini kemudian dijalankan dengan segenap tim pendamping keluarga. Kemudian apalagi ada program MBG dan lainnya," sambungnya.
Selain itu, perlu digencarkan gerakan ayah mengantar sekolah dan mengambil rapot.
Menurutnya, gerakan ini mampu mengurangi fenomena fatherless di Jawa Timur.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus berupaya menekan fenomena fatherless atau minimnya peran figur ayah dalam pengasuhan anak.
Di antaranya, melalui program strategis, kewajiban ayah mengantar sekolah dan mengambil rapot.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang, Aniswaty Aziz, mengatakan program "Mengantar Anak Sekolah Pertama" tersebut dikolaborasikan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.
Kebijakan ini berlaku mulai dari tingkat PAUD dan Kelompok Belajar (KB).
Guna mendukung program ini, Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Malang bahkan diberikan kelonggaran untuk datang terlambat ke kantor pada hari pertama sekolah.
"Program ini ingin mendekatkan ayah dengan anak. Selama ini ada persepsi seakan-akan urusan anak itu hanya kewajiban ibu. Kami ingin mengubah perilaku keluarga bahwa ayah punya peran besar, termasuk peduli terhadap pendidikan anaknya," imbuh Anis.
Anis menjelaskan bahwa fenomena fatherless tidak hanya disebabkan oleh perceraian atau anak yang ditinggal meninggal dunia, tetapi juga faktor pekerjaan di mana ayah harus bertugas di luar kota atau luar negeri.
"Bagi anak-anak yang tidak memiliki sosok ayah karena kondisi tertentu, pihak sekolah mengimbau agar figur lain seperti paman (om) atau kakek dapat hadir menggantikan peran tersebut," pungkasnya.
Baca juga: Warga Malang Selatan Tak Sabar Sambut Kehadiran Bus Trans Jatim Kanjuruhan Koridor Malang-Kepanjen