Elektabilitas Dedi Mulyadi Melonjak di Survei SMRC, Pengamat: Isu Kebijakan Pemerintah Gerus Prabowo
Muhamad Syarif Abdussalam July 29, 2026 07:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mulai mencuri perhatian dalam bursa kandidat calon presiden setelah hasil survei terbaru SMRC menunjukkan kenaikan elektabilitas yang signifikan dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir.

Dalam rilis tren elektabilitas atau pilihan presiden simulasi semi terbuka periode November 2025 hingga Juli 2026, SMRC mencatat terjadi perubahan posisi di papan atas calon presiden.

Dalam sembilan bulan terakhir, elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka menurun dari 34,9 persen di survei November 2025 menjadi 14,5 persen di survei Juli 2026. Sementara itu, pada periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik dari 19,7 persen menjadi 35 persen.

Perubahan angka tersebut membuat posisi Dedi Mulyadi berada di urutan pertama dalam simulasi tersebut, mengungguli sejumlah nama lain yang sebelumnya berada di papan atas.

Pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlan Siddha, mengatakan kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor, salah satunya persepsi publik terhadap kinerja dan kedekatan figur dengan masyarakat.

Baca juga: Dedi Mulyadi Jadi Presiden Jika Pilpres Hari Ini, Suara Prabowo Subianto Merosot di Survei SMRC

Menurut Arlan, survei elektoral sangat dipengaruhi oleh dinamika isu yang berkembang di masyarakat. Penurunan elektabilitas Prabowo, kata dia, dapat dipengaruhi oleh munculnya berbagai sorotan terhadap kebijakan pemerintah.

“Kita tidak tahu indikator yang dilihat SMRC seperti apa, tetapi kalau berbicara elektoral hari ini, Pak Prabowo mungkin dengan beberapa kebijakannya mendapat sorotan dari masyarakat. Ketika survei itu keluar, tensi negatif kepada Pak Prabowo juga memengaruhi penurunan yang signifikan,” ujar Arlan saat dihubungi, Rabu (29/7/2026).

Ia menyebut sejumlah isu seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) menjadi bagian dari dinamika yang ikut memengaruhi citra pemerintah di mata publik.

“Kalau kita lihat hari ini memang ada isu MBG, isu Kopdes yang membuat Pak Prabowo agak sedikit mendapatkan kritikan dari masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Arlan melihat Dedi Mulyadi mendapatkan keuntungan elektoral dari pendekatan komunikasi publik yang selama ini dibangun, terutama melalui media sosial.

Menurutnya, konten yang dibuat Dedi Mulyadi tidak hanya muncul setelah menjabat sebagai gubernur, tetapi sudah dilakukan sejak sebelum memimpin Jawa Barat.

“Salah satu yang dilakukan Pak Dedi Mulyadi adalah membuat konten, tetapi konten ini sudah dia lakukan sejak sebelum menjadi gubernur. Masyarakat melihat Dedi Mulyadi konsisten mencoba memberikan solusi atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada di masyarakat,” katanya.

Arlan menilai pendekatan tersebut membuat sebagian masyarakat merasa memiliki kedekatan emosional dengan Dedi Mulyadi. Figur yang dianggap hadir dan memahami persoalan warga dinilai lebih mudah mendapatkan simpati publik.

“Ini yang membuat masyarakat yakin dan percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Dedi Mulyadi menunjukkan keseriusan bahwa dia dekat dan bisa menyelesaikan masalah di tengah masyarakat dengan pendekatan yang dia miliki,” ujarnya.

Meski elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dan Prabowo mengalami penurunan, Arlan menilai hasil survei tersebut belum dapat menjadi gambaran final mengenai peta Pilpres mendatang.

Menurutnya, dinamika politik masih sangat terbuka karena waktu menuju kontestasi nasional masih panjang.

“Kalau untuk saat ini masih jauh. Gambaran Pilpres ke depan masih abu-abu karena orang-orang yang akan dipilih juga belum terlihat jelas,” katanya.

Ia mengatakan, posisi Prabowo maupun Dedi Mulyadi masih dapat berubah seiring perkembangan isu, kinerja pemerintah, serta strategi politik masing-masing.

“Kalau hari ini secara elektoral bisa saja Pak Dedi Mulyadi mendapatkan dukungan besar. Tetapi kita belum bisa melihat gambaran peta politik ke depan karena masih panjang,” ujar Arlan.

Hasil survei tersebut juga dinilai dapat menjadi perhatian bagi partai politik dalam menentukan strategi menghadapi kontestasi politik mendatang.

Arlan mengatakan partai politik mulai memiliki momentum untuk membangun citra dan memperkenalkan figur yang dinilai memiliki peluang bersaing.

“Partai politik harus mencoba mem-branding atau mencitrakan orang-orang yang dianggap memiliki potensi untuk bersaing di ranah Pilpres. Tahun ini menjadi waktu yang tepat untuk dilakukan,” katanya.

Namun, ia menilai partai politik tidak cukup hanya mengandalkan popularitas figur. Menurutnya, isu dan persoalan masyarakat tetap harus menjadi perhatian utama.

“Partai harus bisa menjawab persoalan di tengah masyarakat, terutama partai yang memiliki kader di pemerintahan atau kepala daerah,” ujarnya.

Sementara untuk Dedi Mulyadi, Arlan menilai tantangan terbesar ke depan adalah menjaga konsistensi serta membangun dukungan politik yang lebih kuat.

Menurutnya, popularitas melalui media sosial harus diimbangi dengan komitmen politik dan kerja nyata.

“Pak Dedi harus mencoba mengemas itu. Tidak hanya sekadar media sosial, tetapi juga harus memiliki komitmen dengan partai politik dan dukungan yang sudah ada di masyarakat,” kata Arlan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.