TRIBUNJAKARTA.COM, TAMBORA - Aksi tawuran antar kelompok remaja kembali pecah di kawasan Jalan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat.
Teranyar, aksi tawuran di kawasan tersebut viral di media sosial pada Selasa (28/7/2026).
Di mana dalam video yang beredar terlihat gerombolan remaja tawuran dengan membawa senjata tajam.
Rupanya, di lokasi tersebut memang kerap terjadi tawuran.
Hal itu sebagaimana disampaikan Tatang (59), warga sekaligus juru parkir minimarket di lokasi.
Ia menceritakan, aksi tawuran di tempatnya bekerja sudah berada di tingkat yang sangat meresahkan.
Dalam sepekan, bentrokan bisa terjadi berulang kali.
"Itu seminggu bisa dua sampai tiga kali. Yang pada tawuran bocah dari Krendang sama dari Duri," ujarnya ditemui di lokasi, Rabu (29/7/2026).
Tatang mengatakan, pemicunya tawuran di kawasan tersebut biasanya juga diawali masalah sepele.
"Penyebabnya mah enggak ada apa-apa sebenarnya, mereka cuma keprok-keprok (tepuk tangan/memanggil) doang nyari lawan," ujar Tatang.
Uniknya, Tatang menyebut para pelaku tidak menggunakan media sosial untuk janjian, melainkan seolah sudah memiliki kode dan "jadwal bertempur" sendiri.
"Mereka enggak ada dari media sosial, intinya kayak punya jadwalnya sendiri. Datang ke rel kereta api terus keprok-keprok, baru dah mereka langsung keluar," jelasnya.
Menurut Tatang, eskalasi tawuran paling sering meningkat menjelang akhir pekan, tepatnya pada Sabtu hingga Minggu dini hari, meski kerap juga terjadi pada Minggu malam atau Senin dini hari.
Waktunya pun tidak menentu, bahkan saat jalanan masih dipenuhi aktivitas warga sekitar pukul 00.00 WIB.
Keberingasan para remaja ini tidak hanya memicu ketakutan, tetapi juga telah memakan korban jiwa.
Tatang mengungkapkan, pada bentrokan pekan lalu, seorang remaja tewas di tempat akibat luka sabetan senjata tajam.
"Baru minggu lalu anak RW 09 Kelurahan Duri itu kena bacok. Umurnya sekitar 17 atau 18 tahun gitu, dia meninggal di tempat," ungkapnya.
Selain merenggut nyawa, tawuran tersebut turut merugikan para pedagang yang berjualan.
Gerobak pedagang kerap menjadi sasaran pengrusakan, ditambah pecahan botol kaca yang berserakan di jalanan usai bentrokan membahayakan pengguna jalan.
Melihat situasi yang tak kunjung kondusif, Tatang berharap pihak kepolisian dan aparat keamanan terkait dapat memperketat pengawasan, khususnya pada jam rawan antara pukul 00.00 hingga 03.00 WIB.
Tak hanya itu, warga menyuarakan usulan agar dibangun pos polisi permanen di titik rawan Jalan Jembatan Besi.
Ia menyebut hal itu belajar dari pengalaman di kawasan pinggir kali Season City, di mana keberadaan pos polisi terbukti ampuh membubarkan dan menekan ruang gerak para pelaku tawuran.
"Jam 12 sampai jam 3 itu harus sering dikontrol. Tolong juga dibuatkan satu pos polisi di daerah sini. Saya yakin kalau ada pos polisi mereka enggak berani tawuran," tegas Tatang.
"Ini sudah teruji kok di kawasan Season City pinggir kali itu. Sebelumnya kan mereka pada tawuran di sana, terus didirikan pos polisi, mereka jadi enggak berani lagi," pungkasnya.
Baca juga: Tawuran Maut di Cilincing: Pemuda Tewas Kehabisan Darah, Tangan Putus saat Bentrokan
Baca juga: Pramono Minta Forkabi Ikut Redam Tawuran & Premanisme, Perkuat Peran Betawi Bangun Jakarta
Baca juga: Siasat Licik Pemuda Pelaku Tawuran Maut di Koja, Tunggu Patroli Selesai Buat Bentrok dengan Lawannya