Kabinet Bayangan
Randy P.F Hutagaol July 29, 2026 08:54 PM

Engkau yang kusayang/Selama ini yang kumiliki/Hanya bayangan baiduri/Di mana sebenarnya sinar nurani...

RIKI Rikardo memetik gitar mengiringi Tante Sela menyanyi. 'Bayangan Baiduri', rock balada tahun-tahun pertengahan 1990-an, dari rocker negeri seberang, the one and only, Suhaimi bin Abdul Rahman alias Amy Search. Demi agar tidak terlalu ngos-ngosan, Tante Sela meminta Riki menurunkan satu nada. 

Alunan suara Tante Sela memantik para Abdul, Abang-abang dulu, di Kedai Tok Awang untuk mengorek kenangan melintas ruang: kirim-kirim salam lewat kupon atensi di radio, celana baggy, Selecta Pop, walkman, sepatu roda, ABRI masuk desa, pengumuman harga bahan pokok oleh Menteri Harmoko.

"Dari semua menteri Pak Suharto, paling bikin sor memang Pak Harmoko ini, lah. Gak ada lawan. Sebak rambutnya mantap, berkilat terus, tapi lebih-lebih kuas lidahnya. Aduhai kali," kata Jontra Polta sembari tertawa-tawa. "Menurut petunjuk Bapak Presiden, harga cabe keriting seratus rupiah, kol gepeng seratus lima puluh."

"Tapi memang betul, Mak," sahut Jek Buntal. "Berfaedah yang dicakapkan dia. Harga-harga tu memang berlaku. Emak awak pergi ke pajak bawak kertas,  'Catatan Pak Harmoko'. Emak-emak lain jugak gitu. Gak ketinggalan bapak-bapaknya. Harga semen, harga pasir. Kalok ada yang gak cocok, siap-siap, lah, yang jualan. Hajab! Bisa dilaporkan orang tu ke kantor Koramil. Kelen tahu apa jadinya kalok udah masuk kantor Koramil? Rusak luar dalam!"

"Paten memang Harmoko tu, tapi kalok aku lebih sor Moerdiono," timpal Marulam Disko. "Sukak aku dengar dia ngomong. Apalagi pas di konferensi pers. Selo kali. Pelan-pelan. Satu-satu. Sampek ngantuk wartawan nunggu dia ngomong."

"Sekretaris negara, ya? Kek Letkol Teddy sekarang?"

"Bukan, Teddy Sekretaris Kabinet. Yang satu lagi. Pratikno."

"Hus! Pratikno zaman Pak Jokowi. Sekarang masih menteri dia, cumak udah geser posnya. Cemana Mamak ni, gak apdet kali," seru Jontra Poltra pula. Masih sembari tertawa-tawa.

Marulam mengangkat bahu. "Cemana, lah, banyak kali pulak menteri sekarang. Lebih seratus keknya, ya? Mana terhapal kita lagi nama-namanya. Saking banyaknya, ada pulak wakil-wakilnya, staf-staf ahlinya, mana yang masih jadi menteri mana yang udah kenak pecat pun gak tahu kita."

Dari balik steling, Ocik Nensi tertawa. "Pas yang dibilang Si Jon itu. Dulu menterinya sikit dan agak jarang diganti-ganti. Jadi cepat teringat dan payah lupa. Sampek sekarang kalok ditanyak siapa Menteri Agama, silap-silap masih kujawab Munawir Sjadzali."

"Menteri Olahraga Abdul Gofur, Cik," sahut Ucok Morning. "Menteri Riset dan Teknologi, BJ Habibie. Menteri Luar Negeri, Ali Alatas."

"Bukan Sugiono, Ketua?" celetuk Riki Rikardo. Ia meletakkan gitar di meja. Tante Sela telah meninggalkan panggung karena "panggilan tugas", membuatkan jamu pegel linu dengan dua telur bebek pesanan Tamsil Kalimaya lewat WhatsApp.

"Alah, pening, lah, Ki. Dari Ali Alatas ke Sugiono. Apa itu istilah paten yang sering kau bilang? Down grade? Ibarat kata dari Chevrolet Impala yang klasik dan berseni tinggi ke mobil kaleng-kaleng sekarang. Jangankan dilaga kambing, disandari aja udah penyok."

Munculnya nama Sugiono sebagai pembanding Ali Alatas, melejitkan pembandingan-pembandingan lain, dan Kedai Tok Awang segera riuh oleh gelak tawa. 

"Menteri Lingkungan Hidup, dulu legend kali, Profesor Emil Salim. Sekarang siapa?" tanya Jek Buntal.

"Jumhur!"

"Jumhur mana, Ki?"

"Yang kemarin nangis-nangis pas ngomong soal EmBeGe."

"Bah! Apa pulak hubungan lingkungan hidup sama EmBeGe? Cak urus dia itu sunge-sunge yang tercemar, sampah-sampah plastik, hutan-hutan yang makin gundul, tambang ilegal bikin orang keracunan merkuri. EmBeGe pulak yang dibahasnya. Ada-ada aja."

"Ya, gitu, lah, Om. Sekarang menteri-menterinya Pak Prabowo, kalok gak ngomong EmBeGe, ya, soal koperasi-koperasian itu. Pokoknya cemana biar bosnya senang."

"Gak apa beselemak peak, yang penting senang," sambung Leman Dogol yang sejak tadi belum buka suara.

"Sekarang keknya udah tau kali orang tu bosnya pantang sikit kenak umbang, langsung mabuk kek kuda kepang. Sampek tega dibilangnya untung kilang padi dua triliun sebulan. Kalok segitu, setahun bisa dua puluh empat triliun. Untung BeCeA digabung sama Djarum pun tak sampek segitu."

"Makanya yang jago-jago ngumbang aman posisi orang tu, Man. Gak bakal kenak geser," ujar Ucok Morning.

"Bahlil, Ketua?"

"O, kalok belio ini udah lain lagi. Udah maestro dia. Laen kelasnya. Istilah anak-anak sekarang, top global."

Gelak tawa berderai-derai lagi. Dari Bahlil mereka bergeser ke Zulkifli Hasan, ke Fadli Zon, ke Nusron Wahid, ke Dody Hanggono yang gemar sewa pesawat jet private, ke Purbaya Yudhi Sadewa yang belakangan air mukanya senantiasa berkedut dan makin tak banyak omong lagi.

"Mungkin kerna lawak-lawak ini jugak, lah, ya, yang bikin ada orang tepikir untuk bikin kabinet bayangan," ujar Riki Rikardo menyela tawa.

"Kabinet bayangan? Apa pulak tu, Ki?" tanya Ucok Morning dan Marulam Disko hampir bersamaan.

"Kek protes-protes gitu, Ketua," ucap Leman Dogol mendahului Riki Rikardo. "Cumak karena ini yang protes orang-orang pintar, orang-orang kampus dan aktivis elite, cara protesnya agak laen. Gak pakek ngelempar-ngelempar kaca."

"Jadi isinya seratus orang jugak?" giliran Jontra Polta yang bertanya.

Leman menggeleng. "Gak sampek. Kalok gak salah lima belas orang aja. Iya, kan, Ki?"

"Betul, lima belas."

"Kok sikit kali?"

"Kan, justru memang ini tujuannya, Om. Orang-orang yang ngegagas ide ini, yang protes ini, gak sepakat sama pilihan-pilihan Pak Prabowo. Kabinet gemuk dibilang orang tu cumak hasil bagi-bagi jatah, hasil titipan, semacam balas jasa kampanye."

"Makjang, dalam, ah!"

"Siapa aja?" tanya Jek Buntal pula.

"Apanya?"

"Menteri-menteri yang lima belas orang itu."

"Sejauh ini belum ada nama-nama, Om. Masih di-voting."

"Voting?"

"Nah, itu yang tadi aku bilang cara orang-orang pintar protes, Mak," timpal Leman Dogol. "Dibikin orang tu website, tros bisa di-voting di situ. Siapa aja bisa ikut."

"Kita-kita di sini bisa?"

"Bisa, lah. Cak bukakkan dulu, Ki, website-nya biar ditengok orang ni."

Riki Rikardo membuka website kabinetbayangan.id, menunjukkan bagian-bagian penting tentang bermacam penjelasan, serta bagian-bagian yang bisa diisi.

"Nama siapa aja yang bisa kita isi ini, Ki?" tanya Jontra Polta lagi.

"Bebas, Om. Sepanjang Om ngerasa orang yang mau Om usulkan itu kompeten di posisinya. Siapa rupanya yang mau Om usulkan?"

"Ocik Nensi."

Dari balik steling, Ocik Nensi yang sedang merasik kopi pancing langsung nyerocos. Meski demikian, di akhir repetan, tak urung dia bertanya juga.

"Menteri apa, Jon?"

"Menteri Hak Perempuan dan Kelompok Marginal. Kurasa jauh lebih paten Ocik ketimbang Natalius Pigai." (t agus khaidir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.