Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Konflik AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Ancaman Pasokan Global
Heriani AM July 29, 2026 09:08 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (29/7/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah mendorong pelaku pasar memburu minyak mentah sehingga harga bergerak naik tajam.

Kenaikan tersebut dipicu eskalasi konflik yang melibatkan kedua negara, termasuk aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir.

Situasi ini kembali menempatkan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sebagai perhatian utama pasar energi global.

Di tengah memanasnya konflik, para analis menilai risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk semakin besar.

Apabila arus pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu, pasokan minyak dunia berpotensi menyusut sehingga mendorong harga energi tetap bertahan pada level tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Baca juga: Update Harga BBM Pertamina Setelah Melonjaknya Harga Minyak Dunia

Pada perdagangan Rabu (29/7/2026), harga minyak mentah Brent naik 3,04 dolar AS atau 3,6 persen menjadi 87,13 dolar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 2,80 dolar AS atau 3,5 persen menjadi 82,06 dolar AS per barel.

Lonjakan harga tersebut, dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketegangan kembali memanas setelah Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan operasi militer terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang diduga berafiliasi dengan Iran di Irak.

Washington menuding kelompok tersebut, berada di balik serangan pesawat nirawak (drone) yang menyasar fasilitas minyak Arab Saudi.

Operasi militer itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang diluncurkan Iran ke arah pasukan AS di Timur Tengah.

Rangkaian aksi saling serang tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu stabilitas pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Menanggapi situasi tersebut, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide, mengatakan dampak konflik tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat, tetapi juga memengaruhi perekonomian global.

Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui lebih dari 20 persen perdagangan minyak dunia sehingga setiap gangguan keamanan di kawasan itu langsung berdampak pada harga energi internasional.

"Jelas konflik ini mempunyai pengaruh global sebab lebih dari 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz. Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat," ujar Ahmad Sahide saat dihubungi Tribunnews.

Baca juga: Iran Klaim Serangan AS Tewaskan 60 Orang dalam 12 Hari, Pentagon Disorot Diduga Ubah Data Korban

Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan

Lebih lanjut, kekhawatiran pasar semakin besar setelah Iran menolak usulan Oman mengenai mekanisme pengelolaan bersama Selat Hormuz.

Seorang pejabat senior Iran menyatakan, Teheran menolak skema yang diajukan Oman karena dinilai belum mampu menjamin kepentingan keamanan nasional Iran.

Penolakan itu membuat harapan tercapainya kesepakatan pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut kembali memudar.

Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap harinya.

Gangguan sekecil apa pun di jalur tersebut dapat berdampak langsung terhadap distribusi energi global dan mendorong lonjakan harga minyak internasional.

Kondisi tersebut, tidak hanya dirasakan negara-negara pengimpor minyak, tetapi juga berdampak pada masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

"Ketika suplai terganggu sementara permintaan tetap tinggi, harga minyak naik. Dampaknya adalah kenaikan biaya energi dan berpotensi memicu inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia," jelas Sahide.

Baca juga: Alasan Donald Trump Tunda Serangan Besar-besaran ke Iran, Krisis Rudal dan Pertimbangan Diplomasi

Harga Minyak Diprediksi Tetap Tinggi

Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar, memperkirakan harga minyak dunia masih akan bergerak pada level tinggi selama konflik di Timur Tengah belum mereda.

Menurutnya, harga minyak Brent berpotensi bertahan di kisaran US$80 hingga US$100 per barel dalam waktu dekat.

Ia menilai, optimisme terhadap penyelesaian diplomatik mulai memudar meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat mengisyaratkan peluang dimulainya kembali pembicaraan dengan Iran.

"Negosiasi yang berjalan tidak mulus membuat pencabutan blokade Selat Hormuz belum dapat diwujudkan secara menyeluruh. Bahkan dalam skenario deeskalasi, harga minyak kemungkinan tetap bertahan di kisaran bawah sekitar US$80 per barel," kata Suvro Sarkar sebagaimana dikutip dari Reuters.

Persediaan Minyak AS Turun

Faktor lain yang turut menopang kenaikan harga minyak adalah menurunnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS berkurang sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli.

Penurunan persediaan tersebut, mengindikasikan pasokan mulai mengetat sehingga memperkuat sentimen kenaikan harga di pasar global.

Pelaku pasar kini menunggu data resmi dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) yang dijadwalkan dirilis untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi stok minyak di negara tersebut.

OPEC+ Berpotensi Tahan Produksi

Lebih lanjut selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari kemungkinan kebijakan baru OPEC+.

Mengutip Reuters, kelompok produsen minyak tersebut diperkirakan akan menghentikan rencana peningkatan produksi selama tiga bulan mulai Oktober 2026.

Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan pasar setelah sebelumnya OPEC+ menyelesaikan program pengembalian produksi yang sempat dipangkas secara sukarela.

Jika kebijakan itu benar diterapkan, pasokan minyak global diperkirakan tetap terbatas sehingga berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi di tengah ketidakpastian konflik antara Iran dan Amerika Serikat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.