TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Ukraina menyerang dua kilang minyak terbesar Rusia dalam serangan jarak jauh semalam, kata para pejabat pada Rabu (29/7/2026), mengutip Associated Press.
Serangan tersebut menjadi bagian dari upaya Kyiv untuk meningkatkan tekanan ekonomi, militer, dan diplomatik terhadap Moskow.
Selama berbulan-bulan, Ukraina hampir setiap hari melancarkan serangan drone dan rudal jarak jauh menggunakan senjata yang dikembangkan di dalam negeri.
Operasi itu telah menghantam berbagai fasilitas minyak Rusia dan memicu krisis bahan bakar yang mempermalukan Kremlin lebih dari empat tahun setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina.
Serangan semalam memicu kebakaran di kilang milik Lukoil di wilayah Perm, Rusia, yang berjarak lebih dari 1.500 kilometer dari Ukraina, serta di kilang minyak di Ryazan, sekitar 400 kilometer dari perbatasan Ukraina.
Informasi tersebut disampaikan secara terpisah oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU) dan Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina.
Menurut Ukraina, kedua kilang tersebut memiliki kapasitas produksi gabungan sekitar 220 juta barel minyak per tahun dan menjadi sumber penting bagi pendapatan pemerintah Rusia sekaligus mendukung operasi militernya.
Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Gubernur Ryazan, Pavel Malkov, hanya mengatakan enam orang dilarikan ke rumah sakit setelah serangan drone. Ia menambahkan bahwa puing-puing drone menyebabkan kebakaran di sejumlah lokasi industri yang tidak disebutkan namanya.
Perusahaan ritel daring terbesar Rusia, Wildberries, yang dalam beberapa hari terakhir juga menjadi sasaran serangan Ukraina, mengatakan telah mengevakuasi karyawan dari fasilitasnya di Ryazan, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Meski Rusia memiliki sistem pertahanan udara yang canggih, wilayah negaranya yang sangat luas membuat perlindungan secara menyeluruh menjadi sulit.
Baca juga: Roket Grad Rusia Mulai Menghilang dari Garis Depan, Drone Ukraina Paksa Moskow Ubah Taktik Perang
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi Washington pada Selasa untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna meminta dukungan tambahan bagi Ukraina dalam menghadapi Rusia.
"Rusia harus merasakan bahwa setiap hari perang ini hanya akan membuat mereka membayar harga yang lebih mahal. Kita harus melemahkan agresor dan terus meningkatkan tekanan agar perang ini segera berakhir," tulis Zelenskyy di media sosial.
Keberhasilan Ukraina dalam sejumlah operasi besar belakangan ini disebut berhasil mengesankan Washington dan membantu memulihkan hubungan dengan pemerintahan AS, setelah Trump pada awal masa jabatan keduanya sempat menunjukkan keraguan untuk terus mendukung Kyiv.
Zelenskyy mengatakan pertemuannya dengan Trump berlangsung dengan baik, sementara Trump menyebut pertemuan tersebut sebagai sebuah "kehormatan besar". Pembicaraan berlangsung secara tertutup.
"Banyak hal dibahas. Pertemuan berjalan sangat baik!" tulis Trump di platform Truth Social.
Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa dirinya bertemu dengan lebih dari 60 anggota Senat AS dari Partai Demokrat maupun Republik untuk membahas tambahan sanksi terhadap Rusia.
Selain itu, ia bertemu perwakilan perusahaan pertahanan Lockheed Martin, beberapa hari setelah sebelumnya menerima delegasi Raytheon di Kyiv.
Produsen senjata AS tersebut menjadi pemasok penting berbagai persenjataan canggih, termasuk sistem pertahanan udara Patriot, yang ingin diproduksi sendiri oleh Ukraina.
Awal bulan ini, Trump mengatakan akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem Patriot guna menghadapi serangan rudal balistik Rusia.
Zelenskyy mengatakan Ukraina tengah membahas kerja sama produksi dan pertukaran teknologi dengan Lockheed Martin dan Raytheon. Sebagai imbalannya, Ukraina siap berbagi teknologi drone mutakhir yang telah teruji di medan perang.
Kemajuan teknologi tersebut dinilai berhasil membantu Ukraina menahan laju pasukan Rusia yang lebih besar serta mengganggu jalur logistik dengan menyerang wilayah belakang lawan.
Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, saat berkunjung ke Ukraina awal pekan ini mengatakan bahwa penggunaan sistem tanpa awak telah menunjukkan kepada dunia bagaimana pasukan yang lebih kecil dapat memperoleh keunggulan melalui inovasi teknologi.
Peluang tercapainya kesepakatan damai masih dinilai kecil meskipun pemerintahan Trump telah mendorong upaya diplomatik selama setahun terakhir.
Namun, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, utusan utama Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menyepakati rencana untuk mengunjungi Kyiv di masa mendatang, meski jadwal pastinya belum ditetapkan.
Panglima baru Angkatan Bersenjata Ukraina, Mayjen Mykhailo Drapatyi, mengatakan telah melakukan percakapan telepon pertamanya dengan Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu NATO di Eropa sekaligus Komandan Komando Eropa AS, Jenderal Alexus G. Grynkewich.
"Saya menjelaskan visi kemenangan Ukraina dan kemampuan yang diperlukan untuk mencapainya," kata Drapatyi.
Ia menambahkan bahwa pada tahap perang saat ini, Ukraina perlu memperkuat operasi di berbagai medan, mencegah infiltrasi pasukan Rusia ke garis pertahanan, serta memperluas serangan presisi jarak jauh maupun menengah terhadap musuh.
Seorang pejabat militer senior Ukraina mengatakan pasukannya telah menyerang 201 kapal Rusia di Laut Hitam dan Laut Azov selama tiga pekan terakhir.
Jumlah tersebut belum termasuk kapal yang diserang oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU) maupun unit militer lainnya, kata seorang komandan yang hanya disebut dengan nama sandi Magyar.
Staf Umum Ukraina juga mengklaim telah menyerang pangkalan angkatan laut Rusia di Laut Hitam, stasiun radar di wilayah Bryansk, lokasi peluncuran drone, serta sebuah jembatan jalan di wilayah Donetsk yang diduduki Rusia.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh 295 drone Ukraina semalam di berbagai wilayah Rusia dan Krimea yang diduduki.
Di sisi lain, bom luncur Rusia menghantam kota Kharkiv dan 17 lokasi lain di wilayah sekitarnya dalam 24 jam terakhir. Serangan tersebut menyebabkan 11 orang terluka, menurut Kepala Administrasi Militer Regional Kharkiv, Oleh Syniehubov.
(*)