Korsleting Listrik Dominasi Penyebab Kebakaran di Bandar Lampung, Warga Diminta Waspada
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 29, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandar Lampung, Anthoni Irawan mengungkap bahwa korsleting listrik mendominasi penyebab kebakaran di Kota Tapis Berseri. Oleh karena itulah dia meminta warga waspada dengan instalasi listrik.

Baca juga: Kebakaran Bengkel dan Toko Elektronik di Kedaton, Kerugian Ditaksir Rp150 Juta

Anthoni mengatakan korsleting listik diketahui menjadi penyebab kebakaran yang paling mendominasi dari data penanganan Damkarmat Bandar Lampung.

"Periode 1 Januari sampai 28 Juli 2026 tercatat ada 150 kejadian kebakaran. Penyebab paling banyak masih didominasi korsleting listrik dengan 97 kejadian," kata Anthoni, Rabu (29/7/2026).

Sementara itu, sepanjang 2025 Damkarmat Kota Bandar Lampung mencatat sebanyak 198 kejadian kebakaran. Dari jumlah tersebut, 113 kejadian di antaranya disebabkan oleh korsleting listrik.

Anthoni mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan memastikan instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha dalam kondisi aman guna menekan risiko kebakaran.

"Kami mengajak masyarakat lebih berhati-hati dalam penggunaan instalasi listrik maupun sumber api lainnya agar kejadian kebakaran dapat diminimalkan," ujarnya.

Selain korsleting listrik, penyebab kebakaran lainnya meliputi pembakaran sampah, penggunaan kompor, puntung rokok, serta faktor penyebab lainnya.

Kasus Kebakaran Meningkat

Jumlah kejadian kebakaran di Kota Bandar Lampung selama Semester I 2026 meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandar Lampung, tercatat sebanyak 122 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Semester I 2025 yang mencatat 94 kejadian kebakaran.

Sementara itu, hingga 28 Juli 2026, jumlah kejadian kebakaran di Kota Bandar Lampung telah mencapai 150 kasus. Sebanyak 28 kejadian tambahan tercatat terjadi sepanjang 1 hingga 28 Juli 2026.

Kerugian Materiil Akibat Kebakaran Miliaran Rupiah

Dari sisi kerugian material, total kerugian akibat kebakaran sepanjang 1 Januari hingga 28 Juli 2026 ditaksir mencapai Rp1.905.400.000.

Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan total kerugian sepanjang 2025 yang mencapai Rp9.499.550.000.

Kerugian terbesar pada 2026 terjadi pada April dengan nilai sekitar Rp839,5 juta. Sementara pada 2025, kerugian tertinggi terjadi pada November yang mencapai Rp5.099.300.000.

Luas area yang terbakar sepanjang Januari hingga 28 Juli 2026 mencapai 8.026 meter persegi, lebih kecil dibandingkan sepanjang 2025 yang mencapai 15.648 meter persegi.

Dari dampaknya terhadap masyarakat, kebakaran selama tujuh bulan pertama 2026 berdampak terhadap 74 jiwa dari 29 kepala keluarga.

Tidak terdapat korban meninggal dunia, namun enam orang mengalami luka-luka.

Adapun sepanjang 2025, kebakaran berdampak terhadap 154 jiwa dari 56 kepala keluarga, dengan dua korban meninggal dunia dan dua korban mengalami luka-luka.

(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.