MAA Aceh Utara Latih Pemuda Pelopor dan Duta Adat untuk Lestarikan Warisan Indatu
Eddy Fitriadi July 30, 2026 12:20 AM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE – Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara menggelar Pelatihan Pembinaan Pemuda Pelopor Adat untuk meningkatkan pengetahuan dan peran generasi muda dalam menjaga serta melestarikan adat dan warisan indatu Aceh.

Pelatihan bertajuk “Mengawal Warisan Indatu, Menginspirasi Generasi Masa Depan” tersebut berlangsung pada 28–29 Juli 2026 di Aula MAA Kabupaten Aceh Utara, Lhokseumawe.

Kegiatan yang diikuti 27 peserta menjadi bagian dari upaya MAA Aceh Utara menyiapkan generasi muda sebagai pelopor dan duta adat yang diharapkan mampu memahami, mempraktikkan, serta meneruskan nilai-nilai adat Aceh di tengah masyarakat.

Selama dua hari, para peserta diajak menyelami khazanah adat perkawinan Aceh melalui tiga materi utama, yakni Master of Ceremony (MC) dalam Prosesi Adat Perkawinan Aceh, Seumapa dalam Prosesi Adat Perkawinan Aceh, serta Seurah dan Teurimong Linto Baro dalam Prosesi Adat Perkawinan Aceh.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Sekretariat MAA Kabupaten Aceh Utara, Rahmadi, SE. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MAA Aceh Utara dalam memperkuat regenerasi pelaku adat dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, mempraktikkan, dan kelak mengambil peran dalam menjaga keberlangsungan adat Aceh di tengah masyarakat.

Narasumber pelatihan berasal dari MAA Kabupaten Aceh Utara, yakni Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST., MT., CPS., CPPS., CMPS., CCLS., CTRS., CCHS. bersama Pakar Adat Tgk Banta Chairullah, serta dibantu Tgk Mawardi, SHI (Penyuluh Agama Islam Kemenag Aceh Utara) dan Tgk  Abdul Hanan (Ketua Forum Imum Mukim Se Aceh Utara) dari Bidang Adat Istiadat MAA Kabupaten Aceh Utara.

Sejumlah tokoh adat Aceh Utara turut hadir memberikan motivasi dan penguatan kepada peserta, di antaranya Mukim Ismail dari Meurah Mulia serta Mukim Ismail dari Matangkuli yang juga Wakil Ketua MAA Kabupaten Aceh Utara.

Kehadiran para tokoh adat tersebut mempertemukan pengalaman generasi terdahulu dengan energi generasi muda yang sedang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet pelestarian adat.

Pelatihan selama dua hari berlangsung hangat, cair, interaktif, dan penuh keakraban. Materi tidak berhenti pada penjelasan teoritis. Setiap sesi dilanjutkan dengan praktik langsung. Para peserta bergantian tampil menjadi MC dalam prosesi adat perkawinan Aceh, mempraktikkan Seumapa, hingga menjalankan tata cara Seurah dan Teurimong Linto Baro.

Di ruang pelatihan itu, adat tidak sekadar didengar, tetapi diucapkan, diperagakan, dan dirasakan. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi, kemudian mencoba sendiri setiap materi. Ketika ada kekeliruan, narasumber memberikan koreksi dan penguatan, lalu peserta kembali tampil dengan kemampuan dan kepercayaan diri yang semakin baik.

Praktik pada setiap materi membuat suasana semakin seru dan hidup. Sesekali tawa kecil peserta pecah di tengah latihan, terutama ketika mereka mencoba mengolah tutur, intonasi, gerak, dan penguasaan prosesi. Namun di balik suasana santai itu tersimpan kesungguhan untuk belajar. Tepuk tangan bergemuruh berkali-kali sepanjang dua hari kegiatan, mengiringi keberanian peserta yang tampil di hadapan rekan-rekannya.

Dr (C) Ir Muhammad Hatta mengatakan, regenerasi menjadi salah satu kunci agar adat Aceh tidak kehilangan ruang di tengah derasnya perkembangan zaman.

Menurutnya, menjaga adat bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi memastikan nilai-nilai yang diwariskan para indatu tetap hidup, dipahami, dipraktikkan, dan menemukan penerusnya.

“Warisan indatu tidak boleh hanya tersimpan dalam ingatan generasi terdahulu. Ia harus hidup dalam tutur generasi muda, hadir dalam sikap mereka, dan diteruskan melalui keberanian untuk belajar serta mengambil peran. Kita tidak sedang membawa generasi muda kembali ke masa lalu, tetapi membekali mereka dengan akar yang kuat untuk melangkah menuju masa depan,” ujar Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe

Baca juga: JPU Kejari Aceh Utara Tuntut Penimbun BBM Subsidi 10 Bulan Penjara, Operator SPBU Dua Bulan

Menurut Muhammad Hatta, pembinaan pemuda pelopor adat harus diarahkan pada kemampuan nyata. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui nama dan bentuk sebuah tradisi, tetapi perlu memahami makna, tata cara, serta memiliki keberanian untuk tampil dan mengambil peran langsung di tengah masyarakat.

“Adat akan tetap hidup ketika ada yang mempelajarinya, ada yang mempraktikkannya, dan ada generasi yang dengan bangga meneruskannya. Karena itu, pelatihan ini bukan sekadar mengajarkan bagaimana menjadi MC, ber-Seumapa, atau melaksanakan Seurah dan Teurimong Linto Baro. Lebih dari itu, kita sedang menyiapkan generasi yang kelak berdiri di tengah masyarakat sebagai penjaga marwah adat Aceh,” kata Ketua Bidang Adat Istiadat MAA Aceh Utara.

Tgk Banta Chairullah menambahkan, kegembiraan yang hadir sepanjang pelatihan menunjukkan bahwa proses pewarisan adat kepada generasi muda dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, dialogis, dan penuh persaudaraan tanpa mengurangi nilai serta kemuliaan adat itu sendiri.

“Ketika pemuda mulai mencintai adatnya, di sanalah warisan indatu menemukan pewarisnya. Ketika mereka berani berdiri, bertutur, dan mempraktikkannya, di sanalah adat menemukan masa depannya,” tuturnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.