Liputan6.com, Jakarta - Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membuka kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta memantik penolakan keras dari Eropa. Negara-negara anggota UEFA bahkan disebut mempertimbangkan opsi boikot pada edisi mendatang jika gagasan itu dijalankan, dilaporkan Talksport.
Laporan pada Selasa waktu setempat menyebut Infantino mengkaji skema penjualan saham kompetisi terbesar FIFA ke pihak swasta melalui pembentukan perusahaan baru. Entitas itu akan mengelola turnamen utama sepak bola putra dan putri, termasuk Piala Dunia serta Piala Dunia Antarklub, yang membuka peluang penambahan peserta maupun frekuensi penyelenggaraan.
Di antara rincian yang beredar, pembahasan melibatkan pihak-pihak yang dekat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Joshua Kushner, adik Jared Kushner, disebut menjadi kandidat investor bersama bank JP Morgan.
Skema tersebut juga dikabarkan mencakup pembagian kepemilikan bernilai sekitar US$ 20 juta untuk masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA. Setelah masa jabatan terakhirnya berakhir—paling cepat 2031—Infantino disebut berpeluang duduk sebagai komisaris perusahaan itu.

Menurut Talksport, federasi-federasi Eropa akan menggelar pertemuan darurat pekan ini untuk menyusun respons. Selain itu, dukungan di Eropa mulai menguat agar UEFA mengusung calon penantang Infantino pada pemilihan Presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Maroko pada 18 November. Infantino sendiri memimpin FIFA sejak 2016, menggantikan Sepp Blatter.
Setelah laporan The Times terbit, UEFA mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras rencana pembukaan kepemilikan tersebut. UEFA menyebut proposal itu melewati batas yang menurut mereka tidak boleh dilanggar oleh otoritas pengatur olahraga.
"UEFA menganggap persoalan ini sangat serius. Begitu pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional, liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan semua pihak yang peduli terhadap masa depan sepak bola." tulis UEFA.
"Tak satu pun dari kita memiliki sepak bola. Sepak bola juga bukan milik FIFA untuk dijual," tulis UEFA.
Laporan pada Selasa itu juga menyebut langkah kontroversial ini berpotensi mendatangkan keuntungan finansial bernilai jutaan dolar bagi Infantino secara pribadi. Rencana pendirian perusahaan baru di bawah FIFA untuk menaungi kompetisi putra dan putri dinilai dapat menggeser tata kelola jika investor swasta masuk melalui skema kepemilikan.
Dalam draf yang beredar, Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub akan berada di bawah kendali perusahaan tersebut. Implikasinya, opsi memperbanyak jumlah peserta dan menyelenggarakan turnamen lebih sering ikut terbuka untuk dibahas.
Di saat bersamaan, skema itu dikabarkan menyertakan pembagian kepemilikan senilai kurang lebih US$ 20 juta kepada setiap dari 211 anggota FIFA. Selain keterlibatan Joshua Kushner dan JP Morgan, disebutkan pula pembicaraan berlangsung dengan pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan Donald Trump.
Nama Trump juga mencuat di luar jalannya pertandingan Piala Dunia 2026. Pada pengundian fase grup Desember 2025, ia menerima FIFA Peace Prize edisi perdana. Saat itu, Infantino menyebut penghargaan diberikan atas komitmen terhadap perdamaian dunia.
Selama turnamen 2026 berlangsung, hukuman larangan bermain satu pertandingan untuk penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, akibat kartu merah ditangguhkan selama satu tahun. Menurut Talksport, Trump menghubungi Infantino untuk meninjau kembali keputusan tersebut. Kasus Balogun disebut menjadi satu-satunya dari 15 kartu merah di turnamen yang mendapatkan perlakuan seperti itu.
Federasi Sepak Bola Norwegia berencana mengajukan pengaduan resmi ke Komite Etik FIFA terkait dugaan campur tangan Trump. Pada Senin, anggota DPR Amerika Serikat Jamie Raskin meminta Infantino menghadiri House Judiciary Committee dan menyerahkan seluruh catatan komunikasi dengan Trump. Menanggapi kritik, Infantino menuduh para pengkritiknya menyebarkan kebencian dan meminta mereka untuk merenung, bermeditasi, berdoa, atau menonton sepak bola.
Beberapa jam setelah pernyataan UEFA dirilis, FIFA mengumumkan rencana pendanaan pengembangan sepak bola sebesar US$ 10 miliar. Program ini masih menunggu persetujuan dari asosiasi anggota FIFA.
FIFA menjelaskan pendanaan dijalankan melalui FIFA Forward Enterprise (FFE), anak perusahaan baru yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan FIFA. FFE dibentuk untuk mengonsolidasikan kegiatan komersial serta penyelenggaraan turnamen, sementara kontrol atas tata kelola, penyelenggaraan kompetisi, kalender pertandingan, serta seluruh keputusan regulasi dan olahraga tetap berada di tangan FIFA.
FIFA menyebut FFE menargetkan penghimpunan dana hingga US$ 4,2 miliar pada akhir tahun ini melalui penjualan kepemilikan minoritas tanpa hak kendali kepada investor jangka panjang. Nilai awal perusahaan tersebut disebut mencapai US$ 20 miliar. FIFA menegaskan seluruh keuntungan bersih dari program itu akan diinvestasikan kembali untuk pengembangan sepak bola di seluruh dunia.