Kancilan Flores, Burung Endemik yang di Manggarai Disebut "Kaka Ngkiong" dan di Ende "Garugiwa"
Cristin Adal July 30, 2026 04:47 AM

 

TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Di Manggarai, burung ini dikenal sebagai Kaka Ngkiong. Sementara itu, masyarakat di sekitar Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, menjulukinya Garugiwa "Burung Arwah" karena kicaunya lebih sering terdengar daripada wujudnya terlihat. 

Meski memiliki sebutan yang berbeda, burung endemik Pulau Flores tersebut memiliki nama resmi Kancilan Flores (Pachycephala nudigula), spesies pengicau yang dikenal cerdas dan mampu menirukan beragam suara. Burung endemik ini juga ditemukan di Sumbawa.

Tubuhnya memang mungil, tetapi suaranya nyaring dan mampu memecah keheningan hutan. Kemampuan uniknya menirukan berbagai suara membuat burung ini menjadi salah satu pengicau paling menarik di kawasan Wallacea.

Kancilan Flores memiliki ukuran tubuh relatif kecil dengan bulu didominasi warna hijau zaitun pada tengkuk, punggung, sayap, hingga ekor. Bagian dada dan perut berwarna hijau kekuningan.

Burung jantan memiliki kepala dan leher berwarna hitam. Ciri paling mencolok terdapat pada tenggorokannya yang tidak berbulu dan berwarna merah terang. Warna merah itu akan tampak jelas ketika burung sedang berkicau.

Baca juga: Pendakian ke Kampung Wae Rebo Dibatasi hingga Pukul 4 Sore 

Sementara itu, burung betina memiliki warna yang lebih kusam. Kepalanya berwarna abu-abu, punggung hijau zaitun, bagian bawah tubuh kuning, serta tenggorokan masih ditutupi bulu berwarna putih.

Hidup menyendiri dan menjaga wilayah

Penelitian yang dipublikasikan dalam ejournal.aptklhi.org menunjukkan bahwa Kancilan Flores merupakan burung yang hidup secara soliter serta memiliki sifat teritorial yang kuat.

Setiap individu umumnya menempati wilayah yang sama dan dapat dikenali melalui pola kicauannya. Wilayah teritorialnya bahkan sering berada di sekitar jalan sehingga burung ini relatif terbiasa dengan kehadiran manusia maupun kendaraan.

Saat pagi hari, Kancilan Flores lebih sering bertengger pada tajuk pohon bagian tengah hingga atas. Posisi tersebut dipilih untuk memperoleh sinar matahari sekaligus memudahkan burung mengawasi dan mempertahankan wilayahnya dari burung lain.

Selama berkicau, burung ini berpindah dari satu pohon ke pohon lain dalam area sekitar 500 meter persegi. Ketika cuaca cerah, tubuhnya cenderung menghadap menyamping atau membelakangi arah matahari. Sebaliknya, saat kabut atau mendung, burung ini akan menghadap ke arah datangnya cahaya.

Baca juga: Mengenal Garugiwa "Burung Arwah" di TN Kelimutu, Kicauan Tersusun dari 12 Nada Berbeda

Memiliki belasan variasi suara

Salah satu keunikan terbesar Kancilan Flores adalah kemampuannya menghasilkan banyak variasi kicauan.

Penelitian mencatat individu yang hidup pada ketinggian kurang dari 1.400 meter di atas permukaan laut memiliki sekitar 12 variasi suara. Sementara itu, individu yang hidup di atas 1.400 meter mampu menghasilkan sekitar 17 variasi suara.

Kemampuan tersebut diduga berkaitan dengan kebiasaan burung ini menirukan suara yang didengarnya.

Peneliti menduga terdapat dua penyebab utama mengapa variasi suara lebih banyak ditemukan di kawasan pegunungan. Pertama, vegetasi yang lebih beragam membuat jumlah satwa lain juga lebih tinggi sehingga burung memiliki lebih banyak suara untuk ditiru. Kedua, aktivitas wisata di kawasan pegunungan menyebabkan burung mendengar berbagai bunyi tambahan yang kemudian ikut ditirukan.

Menyukai pohon-pohon tinggi

Kancilan Flores hanya ditemukan di hutan alami yang memiliki tajuk pohon berlapis-lapis, baik hutan primer maupun hutan sekunder.

Burung ini lebih sering dijumpai pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut, terutama pada kisaran 1.500–1.600 meter. Suhu yang lebih sejuk dan kelembapan yang tinggi menjadi habitat ideal bagi spesies endemik tersebut.

Sebagian besar pengamatan dilakukan ketika burung berkicau di pohon-pohon tinggi, seperti cemara gunung (Casuarina junghuhniana), ampupu (Eucalyptus urophylla), gari (Schefflera lucida), longgobaja (Glochidion philippicum), kelo (Ficus variegata), teru (Macaranga gigantea), deo (Trema orientalis), urubara (Prunus arborea), hingga keba (Elattostachys verrucosa).

Keberadaan pohon-pohon besar tersebut menjadi bagian penting bagi kehidupan Kancilan Flores sebagai tempat berkicau sekaligus mempertahankan wilayahnya.

Populasi di Taman Nasional Kelimutu

Survei pada 21 jalur transek di Taman Nasional Kelimutu menemukan Kancilan Flores pada 19 jalur pengamatan. Sebanyak 89 individu berhasil dicatat, meski hanya tujuh di antaranya merupakan betina karena burung betina jarang berkicau sehingga lebih sulit diamati.

Penelitian memperkirakan kepadatan populasi Kancilan Flores mencapai sekitar 0,53 individu per hektare, dengan estimasi total populasi sekitar 1.667 individu di kawasan taman nasional tersebut.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan penelitian pada 2012 yang memperkirakan populasi hanya berkisar 186 hingga 1.668 individu. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh luas wilayah survei yang berbeda.

Kaka Ngkiong masih terdengar di Wae Rebo

Keberadaan Kancilan Flores tidak hanya dapat dijumpai di Taman Nasional Kelimutu. Burung ini juga masih hidup di kawasan hutan tropis sekitar Kampung Adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai.

Jika wisatawan ke tempat ini, suara burung ini menggema di kawasan hutan sekitar Wae Rebo. Di Wae Rebo masyarakat masih menjaga pohon-pohon besar untuk menjaga sumber mata air selain itu menjadi rumah untuk Kancilan Flores"Kaka Ngkiong". 

Sumber:ejournal.aptklhi.org/Taman Nasional Kelimutu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.