Renungan Harian Kristen Kamis 30 Juli 2026, Yohanes 8:9, Pergilah Seorang Demi Seorang
Chintya Rantung July 30, 2026 08:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan harian keluarga kristen Kamis 30 Juli 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada Yohanes 8:9.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. 
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

Tema perenungan adalah Pergilah Seorang Demi Seorang.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Setiap manusia ciptaan Tuhan Allah diberi kesadaran moral untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta memberikan rasa bersalah atas perbuatannya. 

Ini juga yang biasa disebut memiliki hati nurani.
Sekeras apa pun hatinya seseorang jika nuraninya bekerja, maka ia akan peka terhadap kejadian yang di sekitarnya. 

Firman Tuhan Allah pada hari ini, menunjukkan reaksi luar biasa dari para penuduh setelah mendengar perkataan Yesus Kristus,
 
"Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu."
 
Tidak ada perdebatan, tidak ada bantahan.
Hati nurani mereka bekerja. 
Mereka sadar, seorang demi seorang bahwa mereka tidak lebih suci dari perempuan yang  mereka bawa kepada Yesus Kristus untuk dihakimi. 

Yang menarik, Alkitab mencatat bahwa mereka pergi seorang demi seorang, mulai dari yang tertua (ayat 9). 

Mereka pergi diam-diam.
Ini adalah gambaran bahwa di hadapan kebenaran ilahi, manusia kehilangan dasar untuk menghakimi orang lain. 

Mengapa dimulai dari yang tertua ? 

Mungkin karena orang yang lebih tua, lebih menyadari dosanya.

Pengalaman hidup membuat mereka lebih peka terhadap kelemahan diri.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Sebagai keluarga Kristen marilah kita renungkan kejadian di atas. 

Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi serta seluruh rakyat yang berkumpul diam-diam pergi seorang demi seorang. 

Tindakan itu, meskipun tidak disertai pengakuan terbuka, 
menunjukkan bahwa mereka telah menyadari bahwa mereka juga bukanlah orang benar. 

Kita pun dipanggil untuk memiliki kerendahan hati mengakui kesalahan, terutama dalam keluarga.

Ketika kita tidak gengsi untuk mengatakan "maaf" kepada anak, pasangan, orang tua dan sahabat, maka kita tidak berhenti pada ucapan 
tetapi dinyatakan dalam tindakan. 

Dalam keluarga, biarlah kita meneladani Yesus Kristus yang penuh kasih, 
walaupun tidak kompromi dengan dosa, 
tetapi Ia merangkul dan membimbing menuju kepada 
perubahan hidup yang berkenan kepada Tuhan Allah. Amin.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.