Merajut Nada, Merawat Budaya dan Melahirkan Kepemimpinan Inklusif
Sudirman July 30, 2026 09:22 AM

Oleh : Gyant Hidayah 

Asesor Kompetensi Musik Nasional

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis di koran ini tentang bagaimana digitalisasi merombak total lanskap industri seni dan musik.

Saat itu, fokus utamanya adalah adaptasi, bagaimana seniman harus "sadar" mengubah pola pikir, dan berhenti bernostalgia agar tidak punah seperti dinosaurus di era digital.

Hari ini, tantangannya telah bergeser. Seniman dan pelaku kreatif kita sebagian besar sudah paham cara beradaptasi dengan instrumen digital.

Namun, sebuah pertanyaan besar muncul : “Apakah adaptasi individu seniman saja sudah cukup jika tidak ditopang oleh ekosistem dan kebijakan daerah yang memadai?”

Jawabannya : tidak cukup

Seni dan berkesenian tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian di tengah perubahan zaman.

Seni butuh rumah, butuh panggung yang layak, dan yang tak kalah penting, butuh kepemimpinan politik yang mau mendengar dan memanusiakan ekosistemnya.

“Sipakatau” dalam Politik Kebudayaan

Dalam filosofi masyarakat Sulawesi Selatan, kita mengenal nilai ‘Sipakatau' (saling memanusiakan) dan Sipakalebbi' (saling menghargai).

Dalam konteks pembangunan daerah, nilai ini sering kali berhenti di ruang panggung perayaan atau teks akademik. Padahal, Sipakatau adalah fondasi utama dari apa yang kita sebut sebagai Keepemimpinan Inklusif.

Memajukan daerah tidak melulu soal pembangunan beton dan angka-angka statistik perekonomian.

Memajukan daerah adalah tentang bagaimana memberi ruang bagi manusia - manusianya untuk bertumbuh, termasuk para pelaku seni, musisi, dan anak anak muda di industri kreatif.

Dalam banyak ruang diskusi bersama tokoh tokoh pimpinan di Sulawesi Selatan, salah satunya seperti yang sering dicontohkan oleh sosok senior Ilham Arief Sirajuddin (IAS), ada satu pelajaran penting tentang kepemimpinan yang relevan bagi ekosistem kreatif : ‘keberanian untuk duduk sama rendah, mendengar tanpa sekat, dan merangkul gagasan anak muda.

Gaya kepemimpinan yang cair dan membumi seperti inilah yang dibutuhkan untuk menjembatani dunia politik dengan dunia seni.

Politik tidak boleh lagi dipandang kaku atau dingin, melainkan harus hadir sebagai instrumen yang merawat dan memfasilitasi kreativitas lokal.

Tiga Pilar Membangun Ekosistem Kreatif :

Untuk menerjemahkan sinergi antara seni dan kepemimpinan inklusif tersebut ke dalam langkah nyata, ada tiga hal utama yang harus kita benahi di Sulawesi Selatan mauoun daerah lainnya di Indonesia :

1. Standarisasi dan Penghargaan atas Profesi (Sipakalebbi)

Anak-anak muda Sulsel tidak kekurangan bakat. Dari musik etnik hingga genre modern, potensinya sangat melimpah.

Namun, tanpa standarisasi dan sertifikasi kompetensi yang diakui, seniman lokal akan selalu kalah bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Menghargai profesi seniman secara bermartabat adalah bentuk nyata dari nilai “Sipakalebbi”.

2. Ruang Publik dan ‘Creative Hub’ yang Hidup

Kota dan daerah yang hebat selalu memiliki ruang publik yang bernyawa. Kita membutuhkan lebih banyak infrastruktur kebudayaan, panggung pertunjukan yang terstandar, serta ruang-ruang kreatif di lorong-lorong kota dan kabupaten.

Pimpinan daerah yang visioner adalah mereka yang mau mengalokasikan ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan karyanya secara konsisten.

3. Keharmonisan Antara Regulasi dan Industri

Menyelaraskan gagasan politik pembangunan dengan dinamika kebudayaan persis seperti meracik sebuah lagu.

Sebuah simfoni yang indah tidak dibentuk oleh satu instrumen yang mendominasi, melainkan oleh keharmonisan berbagai nada.

Partai politik, pemerintah, asosiasi profesi seperti PAPPRI, dan komunitas seni harus duduk bersama dalam satu frekuensi untuk menyusun aturan main yang melindungi hak cipta dan kesejahteraan pekerja seni.

Penutup dalam Menjaga Nada, Merawat Masa Depan dan Melahirkan Kempemimpinan  Inklusif :

Seni pada hakikatnya adalah memberi warna terhadap kehidupan bersosial, berbangsa, dan bernegara.

Tugas kita hari ini baik sebagai praktisi seni, akademisi, maupun politisi adalah memastikan bahwa warna tersebut tidak pudar ditelan zaman.

Kita membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya pandai berjanji, tetapi mau berjalan bersama, mendengarkan denting gitar anak muda di sudut kota, dan menjadikan seni-budaya sebagai identitas sekaligus mesin penggerak ekonomi baru bagi Indonesia

Mari kita terus merawat nada, menyelaraskan langkah, dan membangun ekosistem kreatif yang bermartabat.

Karena daerah dan Bangsa yang besar adalah Bangsa yang tidak pernah lupa merawat kebudayaan dan menghargai karya-karya anak bangsanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.