Oleh: Ajhar Jowe
Ketua Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Memasuki abad kedua kedua, Nadhlatul Ulama (NU) tidak hanya dihadapkan pada tantangan perubahan zaman, tetapi juga menghadapi dinamika internal yang semakin kompleks.
Organisasi yang telah berdiri satu abad ini memikul amanah besar untuk menjaga tradisi keilmuan, memperkuat ukhwah serta menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan umat.
Tahun 2026 menjadi tahun yang monumental bagi Nahdlatul Ulama. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini genap berusia satu abad, yaitu seratus tahun perjalanan panjang menjaga agama, merawat bangsa, dan mengawal tradisi.
Namun, usia seratus tahun bukanlah garis finis, melainkan titik awal untuk babak baru.
Baca juga: Sering Beda, Pemerintah, NU dan Muhammadiyah Kompak Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh Pada 27 Mei
Sebagaimana disambut Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, "Selamat datang di abad kedua NU", sebuah salam khas yang dilontarkannya sejak perayaan satu abad.
Baginya, abad kedua adalah momen untuk menyongsong konfigurasi baru, di mana cara-cara lama tak bisa serta merta diandalkan dan harus direkonfigurasi pula.
Memasuki abad kedua, berbagi perbedaan pandangan, hingga tarik menarik kepentingan menjadi bagian dari realitas yang tidak dapat dihindari.
Namun ketika dinamika itu memulai menganggu fungsi struktur dan jam’iyah sebagai wadah perjuangan, pelayanan umat dan bangsa, diperlukan ruang refleksi jernih memasuki abad dengan ruang perubahan dipertaruhkan oleh struktural.
Coba kita kembali merenungkan cita-cita para Muassis Nadhlatul Ulama yang membangun organisasi ini di atas fondasi keikhlasan, musyawarah, yang mengendepankan adab, berakhlakul karimah, dan junjung tinggi kepada agama, bangsa dan kemanuasiaan.
Di sinilah konsep resiliensi menemukan relevansinya yang paling dalam, yaitu bukan sekadar ketahanan pasif, bukan hanya "tidak roboh" ketika badai menerpa.
Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan bertransformasi; melompat ke posisi yang lebih baik setelah terjatuh.
Gus Yahya dengan tegas menyatakan bahwa NU di abad kedua harus menjadi sebuah gerakan masyarakat yang digdaya, bukan sekadar berdaya.
Berdaya, menurutnya, berarti hanya cukup untuk survive atau bertahan, namun tidak bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan.
"Kalau NU mau memberikan kontribusi yang lebih menentukan perkembangan terhadap masyarakat, ya harus digdaya. Karena untuk melakukan itu dibutuhkan konsolidasi kekuatan yang serius," jelasnya.
Dua instrumen utama untuk mewujudkan resiliensi, atau "mendigdayakan" NU itu, adalah tata kelola yang berkemajuan dan kolaborasi yang berkesinambungan. Keduanya bermuara pada satu tujuan, yaitu merawat martabat manusia.
Momentum abad kedua NU seharusnya menjadi momentum konsolidasi, bukan fragmentasi, momentum memperkuat jam’iyah, bukan mempertajam perpecahan.
Sebab, di masa depan masa depan NU tidak ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi sejauh mana seluruh warga nadhiyin mampu menjaga marwah organisasi, menegakan nilai-nilai ahlusunnah wal jamaah, dan menempatkan kepentingan jam’iyah diatas kepetentingan pribadi, kelompok dan golongan.
Seperti gagasan besar yang disampaikan KH. Abdurahman Wahid atau Gusdur bahwa NU harus dijaga sebagai rumah bersama umat, bukan dijadikan alat untuk kepentingan kelompok, golongan, atau kepentingan politik sesaat.
“Mengurus NU adalah mengurus umat. Karena itu, NU tidak boleh dijadikan alat untuk memperjuangkan kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Kepentingan jam’iyah dan kemasalahatan umat harus berada di atas kepentingan pribadi.”
Disinilah kita memaknai pesan para muassis marwah organisasi harus dijaga dengan mengutamakan musyawarah, kebijaksanaan, dan kemaslahatan umat.
Kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf ( Gus Yahya) hadir pada momentum yang sangat menentukan dalam sejarah Nadhlatul Ulama.
Di bawah kepemimpinannya, NU memasuki abad kedua, sebuah fase yang bukan sekedar pergantian usia organisasi, melainkan awal dari babak baru untuk memperkuat peran NU di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan peradaban global.
Pada saat yang sama kepemimpinan Gus Yahya, dunia memasuki era digitalisasi yang mengubah hampur seluruh aspek kehidupan.
Cara berdakwah, mengelola organisasi, membangun komunikasi, hingga melayani umat kini tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan konvesional semata.
Transformasi digital menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Dalam konteks tersebut, terdapat dua instrumen utama yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan kepemimpinan NU di abad kedua.
Pertama, penguatan tata kelola jam’iyah. NU dituntut membangun organisasi yang professonal, transparan, akuntabel, dan mampu mengonsolidasikan seluruh struktur dari tingkat pusat hingga ranting.
Kepemimpinan baik harus menjaga persatuan, memperkuat khidmah, serta memastikan bahwa kepentingan berada di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Kedua, transformasi digital organisasi. Digitalisasi bukan hanya soal penggunaan teknologi tetapi juga perubahan cara pikir dan cara bekerja.
NU perlu memperkuat sistem administrasi berbasis teknologi, pengelolaan data keanggotaan, pelayanan organisasi, dakwah digital, pendidikan, serta komunikasi public agar tetap relevan bagi generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunah wal jamaah.
Dengan demikian, memasuki abad kedua, keberhasilan kepemimpinan NU tidak hanya diukur dari kepemimpinan menjaga tradisi, tetapi juga dari keberanian melakukan transformasi yang tetap berpijak pada nilai, akhlak, hikmat dan adab.
NU perlu menjadi oragnisasi yang kuat secara kelembagaan, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan tetap menjadi penuntun umat di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Salah satu pelajaran paling berharga dari abad pertama NU adalah bahwa organisasi sebesar ini tidak bisa selamanya bergantung pada kharisma individu.
Memasuki abad kedua, tuntutan akan profesionalisme, transparansi, dan kemandirian kelembagaan menjadi keniscayaan.
Gus Yahya menyebut bahwa agenda paling mendasar di permulaan abad kedua adalah konsolidasi tata laksana organisasi untuk menjadi lebih sistematis.
"Aset-asetnya, unit keorganisasiannya, lembaga-lembaga khidmahnya sudah besar sekali tapi sampai sekarang belum terkonsolidasi menjadi tata laksana organisasi yang sistematis," imbuhnya.
Reformasi tata kelola menjadi agenda utama yang tidak dapat ditunda. Gus Yahya telah menyusun empat strategi pengembangan organisasi dalam menyongsong abad kedua NU.
Agenda pertama fokus pada penyesuaian norma-norma administrasi dan teknik manajemen untuk memperbaiki tata laksana organisasi.
"Untuk hal-hal yang terkait dengan norma-norma dan mekanisme-mekanisme pembuatan keputusan, kami bekerja untuk menyesuaikan berbagai macam instrumen normatif,"katanya.
Dalam eksekusi agenda ini, Gus Yahya menetapkan digitalisasi organisasi, mulai dari administrasi sampai dengan berbagai macam kegiatan organisasi lainnya.
Langkah-langkah konkret telah mulai terlihat. PBNU mengembangkan platform Digitalisasi Data dan Layanan (Digdaya) NU sebagai bagian dari transformasi digital organisasi.
Menurut Gus Yahya, platform tersebut dirancang untuk memperkuat tata kelola organisasi sekaligus meningkatkan efektivitas pelayanan hingga tingkat akar rumput.
Dengan sistem digital ini, seluruh jajaran kepengurusan NU, mulai dari tingkat pusat hingga ranting dan anak ranting, dapat terhubung dalam satu sistem.
"Insyaallah, ini akan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk membantu konsolidasi bangsa secara keseluruhan karena warga NU tersebar di seluruh belahan Nusantara," ujarnya.
NU telah melewati satu abad pertama dengan kepala tegak. Kini, abad kedua menanti dengan segala tantangan dan harapannya.
Dan jika resiliensi benar-benar menjadi panduannya, maka NU tidak hanya akan bertahan, tetapi akan tumbuh, berkembang, dan menjadi mercusuar peradaban kemanusiaan bagi Indonesia dan dunia.
Sebagaimana doa yang dipanjatkan Gus Yahya di puncak peringatan satu abad NU, "Wahai abad kedua, rengkuhlah kami dalam berkah harapan, dalam prasangka baik akan ridho Allah, pertolongan Allah yang Maha Rahman dan Maha Esa". (*)