Pertaruhkan Nyawa Demi Selamatkan Pria di Rel, Ini Cerita Penjaga Palang Pintu Kereta Bangil
Haorrahman July 30, 2026 12:40 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Aksi heroik Sofi Bahtiar (24), penjaga palang pintu kereta api, Penjaga Jalan Lintas (PJL) 105 Bangil, menyelematkan seorang pria yang hendak menabrakkan diri, viral di media sosial. Penjaga palang pintu berusia 24 tahun itu mengaku hanya menjalankan tanggung jawab dan tulus menolong sesama.

Aksi warga Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan itu menjadi perhatian publik setelah menyelamatkan seorang pria yang nyaris tertabrak Kereta Api Sangkuriang relasi Ketapang (Banyuwangi)-Bandung. Sofi mengaku tidak pernah menyangka rekaman aksinya akan menyebar luas.

"Memang dari dulu saya punya ketertarikan ingin bisa menolong orang. Itu juga yang menjadi alasan saya memilih menjadi petugas penjaga palang pintu," ujar Sofi saat ditemui, Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Detik-Detik Petugas Perlintasan di Bangil, Pasuruan Selamatkan Pria dari Sambaran Kereta Api

Ingin Membantu Orang

Sebelum menjadi petugas PJL, Sofi pernah bekerja di sejumlah perusahaan, di antaranya PT Sakari dan PT Mitra Alam Segar. Sekitar satu setengah tahun terakhir ia bertugas sebagai penjaga perlintasan kereta api, setelah lebih dulu menjadi relawan selama enam bulan.

Menurutnya, baik sebagai relawan maupun penjaga palang pintu, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan pertolongan kepada masyarakat.

"Karena memang saya suka menolong," katanya.

Baca juga: PT KAI Daop 9 Jember Kampanye Antikekerasan Seksual di Lingkungan Kereta Api

Tinggal Beberapa Detik

Peristiwa yang mengubah hidupnya terjadi pada malam hari ketika KA Sangkuriang melaju dari arah timur. Saat bersiap menjalankan prosedur pengamanan perjalanan kereta, Sofi melihat seorang pria berdiri tepat di tengah rel.

Ia langsung berteriak memperingatkan pria tersebut agar segera menjauh.

"Saya bilang, 'Pak, ada kereta api'. Tapi tidak dihiraukan. Malah tangannya dilambaikan ke arah kereta. Saya berpikir orang ini memang berniat menabrakkan diri," tuturnya.

Dari pos penjagaan, Sofi memperkirakan kereta hanya berjarak sekitar 300 meter dari lokasi pria tersebut. Menyadari waktu yang sangat terbatas, ia memutuskan berlari menuju rel tanpa memikirkan keselamatan dirinya.

"Saya langsung loncat saja. Tidak ada pikiran macam-macam. Yang ada cuma ingin menolong dan mengamankan perjalanan kereta," ujarnya.

Upaya penyelamatan itu sempat berlangsung dramatis. Pria yang diduga mengalami gangguan kejiwaan beberapa kali kembali mendekati rel meski sudah ditarik menjauh.

"Saya tarik, tapi kembali lagi. Saya tarik lagi karena saya kira memang niat bunuh diri," katanya.

Beberapa detik kemudian, kereta berhasil melintas dengan aman.

Baca juga: Pasuruan United Diarak Keliling Bangil, Mas Rusdi Ajak Masyarakat Dukung 2 Wakil Pasuruan di Liga 3

Setelah memastikan perjalanan kereta tidak terganggu, Sofi kembali ke pos penjagaan untuk membuka palang perlintasan.

"Saya kembali ke sini, buka palang pintu, lalu duduk karena rasanya lemas. Saat saya lihat lagi, orangnya sudah tidak ada," ucapnya.

Belakangan ia mengetahui pria tersebut telah diamankan ke balai desa.

Rekaman CCTV Viral

Sofi mengungkapkan, video yang kemudian ramai beredar di media sosial ternyata berasal dari rekaman CCTV yang ia ambil sendiri.

Awalnya, cuplikan tersebut hanya diunggah ke status WhatsApp untuk dibagikan kepada teman-temannya.

"Saya kirim ke teman-teman lewat WhatsApp saja. Tidak tahu kalau kemudian menyebar ke TikTok dan Instagram sampai viral seperti sekarang," katanya.

Sejak itu, berbagai bentuk apresiasi datang dari masyarakat maupun sejumlah pejabat, termasuk perwakilan Dinas Perhubungan dan anggota DPR yang datang langsung menemuinya.

"Saya tidak menyangka. Niat saya hanya menjalankan tanggung jawab mengamankan perjalanan kereta dan menolong orang," ujarnya.

Baca juga: Tahanan Kasus Narkoba Titipan Kejari Pasuruan Kabur dari Rutan Bangil

Masih Menyimpan Trauma

Di balik apresiasi yang diterimanya, Sofi mengaku masih menyimpan trauma akibat peristiwa tersebut. Selama beberapa hari setelah kejadian, ia mengalami kesulitan tidur karena terus teringat suara klakson kereta.

"Kalau tidur masih teringat suara klakson kereta. Rasanya seperti kejadian itu ada di depan mata," ungkapnya.

Meski demikian, pengalaman tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk tetap menjalankan tugas. Ia menjelaskan bahwa setiap petugas penjaga perlintasan telah mendapatkan pelatihan dan prosedur penanganan kondisi darurat, meski kejadian menyelamatkan seseorang dari tabrakan kereta baru pertama kali dialaminya.

Saat ditanya apakah sempat memikirkan keselamatan dirinya, Sofi mengaku tidak memiliki waktu untuk mempertimbangkan risiko tersebut.

"Saya tidak sempat berpikir itu. Yang saya pikir hanya bagaimana orang itu selamat dan perjalanan kereta tetap aman," katanya.

Kini, setelah perhatian publik mulai mereda, Sofi memilih kembali menjalankan tugas seperti biasa. Baginya, profesionalisme dan tanggung jawab tetap menjadi prinsip utama dalam bekerja.

"Yang penting tetap bekerja profesional. Tanggung jawab harus menjadi yang utama," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.