TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus kematian seorang terduga pencuri ayam di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, terus menyita perhatian publik.
Peristiwa tersebut bahkan mendapat sorotan dari pengacara Hotman Paris hingga Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni.
Di tengah proses hukum yang berjalan, bantuan berupa kebutuhan pokok dan dukungan pendidikan diberikan kepada keluarga korban yang ditinggalkan.
Korban berinisial KD diketahui merupakan warga Desa Adat Sidetapa, Kabupaten Buleleng, Bali.
KD meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak, dua di antaranya masih menempuh pendidikan.
Berdasarkan informasi kepolisian, rumah korban berjarak sekitar 38 kilometer dari lokasi dugaan pencurian ayam.
Polisi juga menyebut KD merupakan residivis kasus pencurian yang pernah diproses hukum pada tahun 2018.
Meski demikian, aparat menegaskan aksi main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.
Karena itu, polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus yang berujung pada kematian KD.
Kepala Desa Batunya, I Made Riasa, membenarkan para tersangka merupakan warga desanya.
Baca juga: Nasib Anak Tersangka Pengeroyokan Maling Ayam di Bali, Nangis Nunggu Ayah Pulang, Ibu: Manggil Terus
Ia menjelaskan, peristiwa bermula ketika KD diduga kepergok mencuri ayam milik warga.
Menurutnya, korban saat itu disebut sempat mengeluarkan senjata tajam untuk mengancam pemilik ayam.
"Karena merasa takut, pemilik ayam kemudian menghubungi adiknya yang saat itu sedang menghadiri resepsi yang lokasinya lumayan jauh dari desa."
Ia menuturkan informasi tersebut kemudian menyebar dengan cepat kepada warga sekitar.
"Selanjutnya, informasi tersebut langsung diteruskan kepada Ketua Pecalang Banjar Juwuk Legi hingga akhirnya warga berkumpul di lokasi."
Riasa mengatakan situasi semakin ramai setelah kentongan dibunyikan sehingga warga berdatangan ke lokasi kejadian.
"Jadi saat itu ada warga menyuarakan kukul bulus (kentongan), sehingga warga keluar hingga terjadi peristiwa tersebut," tuturnya, Rabu (29/7/2026).
Menurut Riasa, kasus pencurian ayam aduan memang sudah berulang kali terjadi dan membuat masyarakat resah.
"Kalau tidak ada sebab, tentu akibat seperti ini tidak akan terjadi. Masyarakat kami memang sudah sangat resah karena sering kehilangan ayam.
Tapi kami juga tidak pernah menuduh korban sebagai pelaku pencurian sebelumnya," lanjutnya.
Ia juga mengungkapkan banyak warga membeli ayam aduan dengan memanfaatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR), sehingga maraknya pencurian membuat sebagian warga kesulitan membayar cicilan bank.
Bahkan, dua bulan sebelum kejadian, sebanyak 16 ayam aduan dilaporkan hilang dicuri, dengan nilai setiap ekor ayam berkisar dari Rp1 juta hingga mencapai Rp5 juta sampai Rp10 juta.
Baca juga: Psikolog Ungkap Kondisi Anak Terduga Maling Ayam yang Tewas Dikeroyok di Bali, Alami Kecemasan
Salah satu warga Desa Batunya, Ni Komang Narti, mengaku kaget mendengar kabar suami serta anaknya dijadikan tersangka pengeroyokan KD.
Keduanya merupakan tulang punggung keluarga sehingga pemasukan keluarga berkurang.
Ni Komang Narti hanya bisa mengandalkan penghasilan dari bertani sayur yang dijalaninya setiap hari.
"Saya berharap suami dan anak saya cepat pulang karena mereka tulang punggung keluarga," ungkapnya, Selasa (28/7/2026), dikutip dari TribunBali.com.
Selama ini, suami dan anaknya berternak ayam aduan.
Dalam beberapa bulan terakhir, sering terjadi kasus pencurian ayam dan pelaku tak kunjung tertangkap.
"Dari dulu memang suami dan anak saya memelihara ayam, karena penjualan ayam yang sangat membantu perekonomian kami."
"Biasanya ayam yang masih kecil bisa laku Rp500 ribu. Sementara untuk ayam yang sudah dipelihara lama bisa dijual Rp5 juta," tuturnya.
Ia berharap suami serta anaknya mendapat keringanan hukuman.
(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews.com/ Faisal Mohay)