BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September 2026 belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor perikanan di Kabupaten Barito Kuala.
Meski demikian, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola mulai menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar pembudidaya ikan tidak mengalami kerugian apabila debit air terus menurun dalam beberapa bulan mendatang.
Kepala DKPP Batola, Suwartono Susanto mengatakan, berdasarkan pemantauan di lapangan, kondisi budidaya ikan, khususnya di kawasan alur Sungai Barito, masih relatif aman dan belum ditemukan dampak akibat musim kemarau.
“Yang jelas saat ini masih belum ada dampak dari kemarau dan semoga jangan ada dampaknya. Kalau yang kita pantau jelas di alur Sungai Barito,” ujarnya.
Baca juga: Update Kebakaran di Desa Muara Pulau Batola, Hanguskan 10 Rumah 2 Warga Alami Luka Bakar
Baca juga: Sakit Hati Sering Diejek, Lansia di Banjar Kalsel Bunuh Tetangga Rekayasa Korban Seolah Gantung Diri
Meski situasi masih terkendali, pihaknya mengimbau para pembudidaya ikan tidak lengah. Pemantauan kualitas air diminta dilakukan secara rutin, terutama pada parameter suhu, kadar oksigen terlarut (DO), tingkat keasaman (pH), kandungan amonia, hingga tingkat kecerahan air.
Menurutnya, perubahan kualitas air merupakan indikator awal yang harus diwaspadai sebelum dampak kekeringan benar-benar dirasakan oleh ikan budidaya.
Selain itu, DKPP juga meminta pembudidaya mulai mengurangi kepadatan tebar apabila debit air mulai menyusut. Ikan yang telah memasuki ukuran konsumsi dianjurkan dipanen lebih awal, sementara penambahan benih baru sebaiknya ditunda untuk sementara waktu.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi kebutuhan oksigen di kolam maupun karamba sekaligus menekan penumpukan limbah yang dapat memperburuk kualitas air.
Dalam hal pemberian pakan, pembudidaya juga diminta lebih selektif. Jumlah pakan disarankan dikurangi sekitar 10 hingga 30 persen saat suhu air meningkat dan diberikan pada pagi atau sore hari ketika suhu relatif lebih rendah.
“Pemberian pakan yang berlebihan justru bisa meningkatkan kadar amonia di perairan dan mempercepat penurunan kualitas air,” jelasnya.
Apabila kondisi air mulai memburuk, penggunaan aerator, kincir air, pompa sirkulasi maupun blower udara disarankan untuk menjaga kadar oksigen tetap stabil. Bahkan, penggunaan aerator bertenaga surya menjadi alternatif apabila pasokan listrik terbatas.
Bagi pembudidaya yang menggunakan sistem karamba jaring apung (KJA), DKPP menyarankan agar karamba dipindahkan ke lokasi yang memiliki kedalaman air lebih baik apabila muka air sungai mulai turun. Dasar jaring juga diingatkan agar tidak menyentuh dasar perairan untuk menghindari penumpukan lumpur dan limbah.
Selain itu, kebersihan jaring harus dijaga secara berkala, ikan mati segera diangkat, serta limbah tidak dibuang ke sekitar lokasi budidaya agar risiko penyakit dapat ditekan.
DKPP juga mengingatkan bahwa ikan cenderung lebih mudah mengalami stres saat musim kemarau. Karena itu, pembudidaya disarankan memberikan vitamin atau imunostimulan sesuai kebutuhan, menggunakan pakan berkualitas, serta rutin memantau kesehatan ikan.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah daerah mendorong pembudidaya menyesuaikan jadwal penebaran benih dan panen dengan prakiraan musim, memilih lokasi budidaya yang memiliki kedalaman cukup sepanjang tahun, hingga terus berkoordinasi dengan pemerintah mengenai informasi debit air dan perkembangan musim.
Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, DKPP berharap sektor perikanan di Batola tetap mampu bertahan meski musim kemarau diprediksi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)