Laporan Wartawan TribunGayo.com, Asnawi Luwi | Aceh Tenggara
TribunGayo.com, KUTACANE – Tanah bekas pembersihan bahu jalan yang dibiarkan menumpuk di ruas Jalan Nasional batas Gayo Lues, Aceh Tenggara menuju Sumatera Utara, dinilai sangat rawan menyebabkan kecelakaan, terutama pada malam hari.
Pantauan TribunGayo.com, selain tumpukan tanah di bahu jalan, kondisi jalan juga licin akibat kerikil yang berserakan.
Kondisi ini membuat kendaraan yang melintas harus ekstra hati-hati karena risiko kecelakaan lalu lintas yang tinggi.
Tumpukan material tanah tersebut merupakan hasil pekerjaan pembersihan bahu jalan oleh pihak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh di sepanjang ruas jalan nasional batas Gayo Lues–Aceh Tenggara (Agara) hingga ke perbatasan Sumatera Utara.
Material tanah hasil pembersihan yang tidak diangkut tersebut dibiarkan menggunung di bahu jalan.
Baca juga: Jalan Nasional Ruas Blangkejeren-Kutacane Masih Rawan, Ini Titiknya
Pembersihan bahu jalan dilakukan di beberapa titik, seperti Lawe Loning Gabungan, Lawe Loning Aman, Kuta Tengah, Lawe Tua, Batu Dua Ratus, Darul Aman, Bukit Merdeka, dan sejumlah titik lainnya.
“Ini sangat rawan bagi pengendara, khususnya di malam hari, karena tumpukan material dibiarkan menggunung dan kerikil berserakan,” ujar Bukhari Budiman, seorang pengendara kepada TribunGayo.com, Kamis (30/7/2026).
Bukhari menegaskan bahwa material tersebut harus segera dibersihkan dan dibuang.
"Kalau tidak segera dibersihkan, kami khawatir akan menimbulkan kecelakaan bagi pengendara luar daerah yang menuju Aceh Tenggara, Gayo Lues, hingga Medan,” tambahnya.
Di sisi lain, keluhan juga disampaikan oleh M. Hanif, seorang pengendara sepeda motor.
Menurutnya, ruas jalan nasional yang menjadi izin Satker PPK 3.5 BPJN Aceh sepanjang 72 kilometer—dari batas Rumah Bundar Gayo Lues menuju Lawe Pakam, Kecamatan Babul Makmur—memiliki banyak kerusakan.
"Banyak ruas jalan yang berlubang dan bergelombang. Bahkan di Kota Kutacane, jalan nasional berlubang dan tergenang berada di depan traffic light . Selain itu, banyak lubang di sekitar Jembatan Biakmuli, Terutung Megare, hingga Bambel Gabungan," ungkap Hanif.
Ia bersama pengendara lainnya, seperti Salamah, Dedi Husaini, dan Khairul Al Bahri, mendesak pihak terkait untuk segera bertindak.
"Kami meminta BPJN Aceh memprioritaskan perbaikan patching (penambalan) atau overlay (pelapisan ulang) terhadap kerusakan jalan nasional tersebut," pintanya.