Liputan6.com, Jakarta - Penyebaran paham radikalisme di ruang digital kini bertransformasi menggunakan pola yang jauh lebih halus.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengungkapkan kelompok ekstremis tak lagi mengandalkan narasi kebencian atau kekerasan secara terbuka untuk menggaet korban, melainkan melalui tawaran bantuan dan kedekatan personal.
Modus anyar ini mengincar kelompok rentan, terutama anak-anak, dengan cara membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum menyisipkan paham radikal.
"Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem," kata Meutya, dikutip dari Antara, Kamis (30/7/2026).
Meutya mencontohkan, iming-iming yang diberikan acap kali menyasar kebutuhan mendasar calon korban. Namun, janji-janji manis tersebut hanya menjadi pintu masuk manipulasi.
"Janji-janji terhadap kesejahteraan sebagai contoh misalnya di sini janji sekolah gratis, tetapi sampai di sana justru disuruh menikah," ujar Meutya menjelaskan betapa kontrasnya janji awal dengan realitas yang dialami korban.
Ancaman ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa bukti. Meutya mengungkap data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang pada Mei 2026 berhasil menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui satu platform digital saja.
Temuan tersebut menjadi alarm keras bahwa kelompok radikal terus beradaptasi memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memperluas jangkauan sasaran.
Menurut Meutya, proses radikalisasi digital bekerja secara bertahap sehingga kerap tidak disadari lingkungan sekitar, termasuk keluarga.
Dampak paparan konten ekstremis biasanya terlihat dari perubahan sikap anak yang terjadi perlahan.
"Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua mulai renggang. Cerita yang dulu terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya tidak ada lagi komunikasi. Saat itulah kita sering terlambat menyadari bahwa telah terjadi perubahan yang serius," tuturnya.
Perkembangan teknologi modern diakui membuat aktivitas radikalisasi kian menantang untuk diidentifikasi. Kombinasi antara narasi yang persuasif dan algoritma media sosial mampu menyajikan informasi yang disesuaikan secara personal berdasarkan preferensi pengguna.
Kondisi ini menciptakan echo chamber atau ruang gema informasi, di mana seseorang terus-menerus terpapar konten sejenis yang memperkuat keyakinannya, meskipun informasi tersebut menyimpang dari kenyataan.
"Narasi dan algoritma ketika bersatu memunculkan sebuah ilusi algoritma, sehingga fakta kemudian kalah dengan emosi atau keyakinan," Meutya memungkaskan.