TRIBUNJOGJA.COM - Jika mendengar nama Jembatan Sayidan, sebagian orang mungkin langsung teringat dengan penggalan lirik lagu milik Shaggydog, "Di Sayidan, di jalanan, angkat sekali lagi gelasmu kawan...".
Berkat lagu tersebut, nama Sayidan dikenal luas, bahkan oleh orang yang belum pernah berkunjung ke Yogyakarta.
Padahal, di balik popularitasnya, Jembatan Sayidan menyimpan sejarah yang panjang.
Jembatan ini bukan hanya menjadi penghubung antar wilayah, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan perkembangan Kota Yogyakarta, kawasan bersejarah, hingga budaya yang masih terjaga sampai sekarang.
Lantas, apa yang membuat Jembatan Sayidan begitu terkenal? Berikut beberapa faktanya.
Alasan terbesar yang membuat nama Sayidan dikenal di berbagai daerah adalah lagu "Di Sayidan" yang dibawakan grup musik asal Yogyakarta, Shaggydog.
Lagu tersebut menggambarkan suasana pertemanan, kebersamaan, dan kehidupan anak muda di kawasan Sayidan.
Tak heran jika lagu ini sering dinyanyikan saat acara musik, nongkrong, hingga berbagai festival.
Menariknya, menurut berbagai wawancara personil Shaggydog, Kampung Sayidan memang menjadi salah satu tempat mereka tumbuh dan berkarya sehingga memiliki ikatan emosional dengan lagu tersebut.
Jembatan Sayidan berdiri di atas Sungai Code, salah satu sungai yang membelah Kota Yogyakarta.
Menurut sejumlah catatan sejarah Kota Yogyakarta, kawasan Sayidan sudah dikenal sejak masa Kesultanan Yogyakarta.
Lokasinya berada di jalur yang menghubungkan kawasan Keraton Yogyakarta dengan Puro Pakualaman, sehingga sejak dahulu memiliki peran penting sebagai akses penghubung.
Di sisi barat jembatan juga masih terdapat dua gapura yang menjadi penanda kawasan menuju lingkungan Keraton.
Nama Sayidan diyakini berasal dari kata Sayyid, yaitu sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad SAW.
Menurut sejumlah kajian sejarah mengenai pemukiman Arab di Yogyakarta, Kampung Sayidan memang pernah menjadi tempat tinggal komunitas keturunan Arab yang datang ke Yogyakarta pada masa lalu.
Hingga kini, kawasan tersebut masih dikenal sebagai salah satu kampung bersejarah yang menunjukkan akulturasi budaya di Kota Yogyakarta.
Baca juga: Update Laporan Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Kamis 30 Juli 2026 Siang Ini
Jika dibandingkan dengan beberapa jembatan lain yang melintasi Sungai Code, Jembatan Sayidan memiliki tampilan yang cukup khas.
Bagian pembatas jembatan dilengkapi ornamen menyerupai menara kecil dengan sentuhan arsitektur bergaya Eropa.
Bentuknya yang unik membuat jembatan ini kerap dijadikan latar foto oleh wisatawan maupun fotografer, terutama saat sore hingga malam hari ketika lampu jalan mulai menyala.
Selain memiliki nilai sejarah, Jembatan Sayidan juga berada di lokasi yang strategis.
Jembatan ini berada di Jalan Sultan Agung dan hanya berjarak beberapa menit dari Kraton Yogyakarta, kawasan Titik Nol Kilometer, Taman Pintar, hingga Puro Pakualaman.
Karena letaknya berada di pusat kota, jembatan ini menjadi salah satu jalur yang cukup padat dilalui masyarakat setiap hari.
Selain sejarah yang dapat ditelusuri melalui berbagai sumber, terdapat pula cerita yang berkembang di masyarakat mengenai Jembatan Sayidan.
Salah satunya adalah anggapan bahwa kawasan Sungai Code, termasuk Jembatan Sayidan, berada di jalur imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Pantai Selatan.
Dalam pandangan budaya Jawa, garis imajiner tersebut dipercaya memiliki makna filosofis tentang keseimbangan alam dan kehidupan.
Meski demikian, perlu diketahui bahwa cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat, bukan fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Itulah beberapa alasan mengapa Jembatan Sayidan menjadi salah satu ikon Yogyakarta. Bukan hanya karena dipopulerkan lewat lagu Shaggydog, tetapi juga karena memiliki sejarah, budaya, dan posisi yang penting dalam perkembangan Kota Yogyakarta.
(MG ABIL PRAMUDYA)