Kalender Bali Agustus 2026: Tumpek Krulut Segera Tiba, Begini Makna Pemujaan Bhatara Iswara
Putu Kartika Viktriani July 30, 2026 03:25 PM

TRIBUN-BALI.COM - Memasuki bulan Agustus 2026, umat Hindu di Bali akan kembali menyambut salah satu rerahinan penting, yakni Hari Raya Tumpek Krulut yang jatuh pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sesuai Kalender Bali.

Hari suci ini menjadi momentum untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatara Iswara, sekaligus memohon anugerah kasih sayang, keharmonisan, dan taksu dalam kehidupan.

Selain dikenal sebagai hari pemuliaan gamelan dan seni sakral, Tumpek Krulut juga mengandung filosofi mendalam tentang pentingnya menumbuhkan cinta kasih kepada sesama, alam, dan segala ciptaan Tuhan.

Berikut penjelasan mengenai makna, filosofi, dan tradisi yang menyertainya.

 

Makna Tumpek Klurut

Dilansir dari situs Kementerian Agama, Tumpek Krulut, juga dikenal sebagai Tumpek Lulut, adalah hari suci dalam tradisi Hindu Bali.

Baca juga: Jadwal Rerahinan Hindu Agustus 2026 Sesuai Kalender Bali: Ada Tumpek Krulut dan Buda Kliwon Matal

Kata "lulut" dalam bahasa Bali memiliki arti "jalinan" atau "rangkaian", yang melambangkan hubungan erat dan harmonis antara elemen-elemen kehidupan.

Pada Tumpek Krulut, umat Hindu di Bali memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Iswara.

Pemujaan ini erat kaitannya dengan budaya Bali, khususnya seni tabuh (musik) yang menampilkan suara-suara sakral dalam upacara keagamaan.

Dalam konteks ini, gamelan—sering disebut "gong" oleh masyarakat Bali—memiliki peran penting.

Satu perangkat gamelan atau "barungan gong" dipandang sebagai perangkat yang tidak hanya memberikan irama dalam upacara, tetapi juga membawa taksu atau aura spiritual.

Oleh karena itu, Tumpek Krulut juga dikenal sebagai odalan gong, atau hari suci yang berfokus pada pemberkatan gamelan agar memiliki suara yang harmonis dan penuh taksu.

Tumpek Krulut juga memiliki makna sebagai hari kasih sayang bagi umat Hindu di Bali. 

Pada hari ini, kasih sayang dituangkan dalam bentuk persembahan di rong tiga berupa banten Pejati, Daman, Tipat Sirikan, dan Pesucian.

Ayaban (persembahan pendukung) yang dipersembahkan di hari ini meliputi Tipat Manca Tingkat Madya, Nista Tipat Gong, dan segehan panca warna yang disusun dalam sembilan tanding di lebuh.

Tujuan utama Tumpek Krulut adalah menumbuhkan kasih sayang dan taksu dalam diri, yang kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mencintai pekerjaan dan lingkungan.

Upacara ini mendorong umat untuk mengasah cinta kasih dan kepekaan spiritual yang kuat, sehingga mampu berperan positif dalam setiap aspek kehidupan.

"Tumpek Krulut ini merupakan hari raya untuk pemujaan gambelan, atau lebih tepatnya memuja Bhatara Iswara," kata Guna.

Kasih sayang tersebut diwujudkan dalam bentuk keindahan suara gambelan.

Namun, jika Tumpek Krulut ini dikaitkan dengan hari valentine-nya Bali, Guna kurang setuju.

Walaupun generasi muda sekarang haus merayakan valentine, tapi menurut Guna, jangan sampai mengaitkan hari suci dengan valentine.

"Valentine ya tetap tanggal 14 Februari, jangan mengaitkan hari suci dengan valentine," imbuhnya.

Kalau untuk melakukan pemujaan kepada gamelan, tetap itu saja maknanya.

"Jangan sampai nanti merayakan Tumpek Krulut orang Bali malah nukar jaja iwel, seperti menukar coklat saat valentine," katanya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.