Selama 3 Hari, Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Buka Tutup Akibat Cuaca Buruk
Haorrahman July 30, 2026 04:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Operasional penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk di Selat Bali kembali mengalami buka-tutup akibat cuaca buruk yang terjadi dalam tiga hari terakhir. PT ASDP Indonesia Ferry menyatakan operasional penyeberangan saat ini sangat bergantung pada kondisi cuaca maritim demi menjaga keselamatan pelayaran.

Pada Kamis (30/7/2026), layanan penyeberangan sempat dihentikan sementara mulai pukul 12.05 WIB karena cuaca berawan, angin kencang, dan gelombang tinggi. Operasional kembali dibuka pada pukul 13.20 WIB setelah kondisi dinilai lebih aman.

Penyesuaian serupa juga terjadi dalam dua hari sebelumnya. Bahkan pada Senin (28/7/2026), operasional penyeberangan sempat ditutup dan dibuka kembali sebanyak dua kali akibat perubahan cuaca di Selat Bali.

Menurut ASDP, kondisi cuaca di perairan Selat Bali masih berfluktuasi sehingga kecepatan angin dan tinggi gelombang berubah secara dinamis. Situasi tersebut membuat operasional lintas Ketapang-Gilimanuk harus disesuaikan secara situasional melalui mekanisme buka-tutup pelayaran.

Baca juga: Gapasdap Apresiasi Rencana Tambah dan Tingkatkan Kapasitas Dermaga di Lintas Ketapang-Gilimanuk

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menjelaskan seluruh penyesuaian operasional dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko agar pelayaran tetap memenuhi standar keselamatan.

"Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan. Penyesuaian operasional dilakukan semata-mata sebagai langkah mitigasi risiko ketika kecepatan angin maupun tinggi gelombang belum memenuhi standar keselamatan pelayaran. Begitu kondisi membaik dan dinyatakan aman oleh otoritas, layanan akan kembali dioperasikan secara bertahap," ujar Arief.

Untuk mengurangi dampak terhadap pengguna jasa, ASDP memperkuat koordinasi dengan BMKG, KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, serta kepolisian.

Selain itu, buffer zone Bulusan dioptimalkan sebagai lokasi penampungan sementara kendaraan, terutama angkutan logistik. ASDP juga menyiapkan armada tambahan guna mempercepat penguraian antrean setelah kondisi cuaca kembali kondusif.

Baca juga: Kerugian Usaha Truk dan Bus Imbas Ketapang Macet, Biaya Kirim Membengkak Hingga Penumpang Anjlok

"Kami terus melakukan langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, pengaturan operasional, optimalisasi buffer zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian. Dengan kolaborasi tersebut, kami berharap dampak penyesuaian operasional dapat diminimalkan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan," tambah Arief.

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menegaskan setiap keputusan operasional mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurutnya, dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah, kepatuhan terhadap regulasi menjadi dasar utama untuk memastikan seluruh proses penyeberangan berlangsung aman dan bertanggung jawab.

"Keselamatan pelayaran merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh pihak," kata Windy.

Ia menambahkan, seluruh mekanisme tersebut merupakan bagian dari sistem keselamatan pelayaran nasional yang bertujuan melindungi penumpang, awak kapal, serta seluruh pengguna jasa. Karena itu, penyesuaian operasional tidak hanya bertujuan menjaga kelancaran layanan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam mengutamakan keselamatan.

ASDP juga memastikan hak pengguna jasa tetap terlindungi selama kondisi force majeure akibat cuaca ekstrem. Tiket yang telah dibeli tetap berlaku dan dapat digunakan kembali setelah kapal memperoleh izin berlayar serta layanan penyeberangan kembali beroperasi normal.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.