Pengalaman Pertama Naik Trans Jatim, Warga Senang dan Mendukung Koridor 2 Rute Kota Malang-Kepanjen
Eko Darmoko July 30, 2026 05:45 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Rencana perpanjangan rute Bus Trans Jatim atau koridor 2 yang melayani rute hingga Kepanjen, Kabupaten Malang, mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Salah satunya datang dari Widodo, warga Gading Kasri, Kota Malang, yang baru pertama kali menggunakan layanan Trans Jatim.

Saat ditemui SURYAMALANG.COM di Terminal Hamid Rusdi, Widodo baru saja turun dari bus Trans Jatim.

Ia mengaku menaiki Trans Jatim dari kawasan Landungsari dengan tujuan ke Kota Malang. Ia menilai tarif Rp 5.000 yang dikenakan masih terjangkau.

"Tarifnya Rp 5.000. Menurut saya terjangkau," ujar Widodo kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (30/7/2026).

Selama perjalanan sekitar satu jam, ia merasakan pelayanan yang cukup nyaman.

Kondisi bus dinilai bersih dan sejuk, sementara seluruh penumpang masih mendapatkan tempat duduk meski terjadi aktivitas naik turun penumpang di sejumlah halte.

"Nyaman. Tidak terlalu dingin juga. Penumpang ada yang naik dan turun, tapi semuanya masih dapat tempat duduk," katanya.

Widodo mengaku menggunakan Trans Jatim untuk pertama kalinya karena ingin mencoba moda transportasi tersebut sekaligus memiliki keperluan di kawasan yang dilalui bus.

Menurutnya, bus tersebut layak untuk dimanfaatkan warga.

Baca juga: Peluncuran Trans Jatim Kanjuruhan Oktober 2026 Terancam Mundur Usai Protes Sopir Angkot Malang Raya

"Baru pertama kali naik. Pengen coba saja, kebetulan juga ada perlu ke daerah sini," ujarnya.

Saat mendapat informasi mengenai rencana perpanjangan rute hingga Kepanjen, Widodo menyatakan mendukung kebijakan tersebut.

Menurutnya, layanan itu akan mempermudah mobilitas masyarakat yang kerap bepergian ke wilayah Kabupaten Malang.

"Bagus kalau diteruskan sampai Kepanjen. Saya juga sering ke kabupaten, jadi akan lebih enak kalau aksesnya sampai ke sana," katanya.

Ia berharap  pengembangan rute Trans Jatim koridor 2 dapat memperluas jangkauan layanan angkutan massal antara Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor 2 di Malang Raya mendapat respons dari pakar sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Profesor Wahyudi.

Wahyudi menilai kehadiran transportasi massal ini merupakan solusi konkret mengurai kemacetan, asalkan dilandasi kebijakan berbasis evidence-based policy dan dijalankan dengan tata kelola berintegritas tanpa adanya "penumpang gelap". 

Merespons rilis hasil riset Dewan Kampung Nuswantara (DKN) di Aula GKB 4 lantai 4 Kampus 3 UMM pada 28 Juli lalu yang menunjukkan 90,9 persen warga mendukung operasional bus tersebut.

Wahyudi sapaan akrabnya menegaskan bahwa survei persepsi publik adalah fondasi esensial sebelum pemerintah mengeksekusi sebuah program berskala besar.

"Tujuannya survei ingin mengetahui kebutuhan, persepsi, dan harapan masyarakat, sehingga kebijakan Trans Jatim Koridor 2 yang diambil ini benar-benar menjadi evidence-based policy," ujar Wahyudi.

Selain urusan kemacetan, ia menyoroti target capaian transportasi publik yang wajib mewujudkan mobilitas efisien sekaligus mempertahankan kelestarian lingkungan agar sejalan dengan konsep eco-green. 

“Meningkatkan kualitas lingkungan dan memperkuat konektivitas Malang Raya adalah outputyang ingin dicapai. Siapa yang tidak ingin efisien, tepat waktu, dan tidak macet?" urainya.

Menyikapi wacana pengalihan fungsi angkutan kota (angkot) menjadi angkutan feeder yang didukung 100 persen oleh para pengemudi, pakar sosiologi tersebut mendesak pemerintah memastikan regulasi pendanaan yang menjamin kesejahteraan sopir.

Ia juga mengingatkan pentingnya sistem birokrasi yang transparan agar program strategis lintas daerah ini tidak dimanfaatkan oleh oknum yang mencari celah keuntungan.

"Masyarakat tentu harus menghindarkan kebijakan yang sangat bagus ini dari pembonceng-pembonceng bebas sehingga kehadirannya benar-benar menjadi media untuk memayu hayuning bawono atau mempercantik alam Malang Raya," tegasnya.

Trans Jatim Koridor 2 yang rencananya melayani rute Terminal Talangagung Kepanjen, Terminal Hamid Rusdi, hingga Terminal Arjosari ini juga dituntut memiliki fasilitas yang apik."

"Sebagai bentuk komitmen pelayanan maksimal, Wahyudi merekomendasikan perbaikan infrastruktur halte serta penerapan sistem informasi rute berbasis audio di dalam armada bus demi kemudahan mobilitas penumpang umum maupun kelompok rentan seperti lansia.

Baca juga: Sopir Angkot Minta Penundaan Trans Jatim Malang-Kepanjen, Siap Dukung Jika Ada Jaminan Pemberdayaan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.