Temanggung (ANTARA) - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Temanggung menyebabkan penurunan debit sumber mata air yang memasok Perumda Air Minum Tirta Agung Kabupaten Temanggung, rata-rata 8 persen dibanding sebelumnya.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Agung Temanggung Rinto Adhi Utomo, di Temanggung, Kamis, mengatakan penurunan terjadi hampir di seluruh sumber mata air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Sampai evaluasi Januari-Juli 2026, rata-rata persentase penurunan debit sekitar 8 persen. Penurunannya bervariasi, paling rendah sekitar 4 persen dan yang tertinggi mencapai 21 persen," katanya.

Ia menuturkan, dari 20 sumber mata air yang digunakan Perumda Air Minum Tirta Agung, penurunan paling signifikan terjadi di kawasan Pringapus Ngadirejo. Itu berdampak pada wilayah pelayanan Jumo. Lantaran, di lokasi tersebut, debit air disebut merosot hingga 21 persen.

Ia menyampaikan, penurunan debit tersebut mulai menyebabkan gangguan aliran di sejumlah titik. Namun, hingga saat ini pihaknya belum menerapkan sistem penggiliran distribusi air kepada pelanggan.

"Kalau gangguan aliran memang ada. Karena debit berkurang, terutama di titik yang penurunannya cukup besar. Tetapi sampai sekarang belum sampai pada tahap penggiliran," katanya.

Ia menuturkan, Perumda Air Minum Tirta Agung saat ini melayani sekitar 54 ribu pelanggan. Dengan jumlah pelanggan tersebut, total konsumsi air mencapai rata-rata sekitar 1 juta meter kubik per bulan, atau sekitar 18,5 meter kubik per sambungan rumah (SR) setiap bulan.

Menghadapi penurunan debit, katanya, Perumda melalui media sosial mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak atau jangan menggunakan air secara berlebihan.

"Kami sudah membuat konten edukasi melalui media sosial. Kalau air mengalir, digunakan secukupnya. Jangan ketika air sedang mengalir kemudian dibiarkan begitu saja. Kami mengajak masyarakat untuk lebih menghemat pemakaian," katanya.