Kisruh Pagar Pasar Bersehati Manado, Lucky Senduk Sebut Hanggar Ikan Berubah Jadi Gudang Coolbox
Indry Panigoro July 30, 2026 07:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Polemik pemasangan pagar di hanggar ikan Pasar Bersehati Manado memicu perdebatan antara pedagang dan Perumda Pasar Manado.

Di balik kisruh tersebut, muncul perbedaan pandangan mengenai fungsi hanggar ikan yang menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan di pasar terbesar di Sulawesi Utara itu.

Pasar Bersehati merupakan pasar tradisional terbesar di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), yang berada di Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang.

Pasar ini menjadi pusat perdagangan kebutuhan pokok, hasil perikanan, daging, sayur-mayur, hingga rempah-rempah, dan setiap hari menjadi tempat beraktivitas ribuan pedagang serta pembeli dari berbagai daerah di Sulawesi Utara.

Direktur Utama Perumda Pasar Manado, Lucky Senduk, mengungkap alasan di balik pemasangan pagar di hanggar ikan Pasar Bersehati yang memicu polemik dengan pedagang. 

Menurutnya, hanggar ikan tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya, melainkan telah berubah menjadi tempat penyimpanan atau gudang coolbox milik pedagang.

Dalam program Saksi Kata bersama Pemimpin Redaksi Tribun Manado, Jumadi Mappanganro, Lucky mengatakan keberadaan ratusan coolbox di dalam hanggar membuat area jual beli menjadi semrawut.

Bahkan, sebagian pedagang terpaksa berjualan hingga ke luar bangunan karena ruang di dalam hanggar dipenuhi tempat penyimpanan tersebut.

"Hanggar ikan itu fungsinya untuk aktivitas jual beli. Tapi yang terjadi justru dipenuhi coolbox sehingga berubah seperti gudang. Karena itu kami melakukan penataan agar fungsi hanggar kembali seperti semula," kata Lucky kepada Tribun Manado, Rabu 30 Juli 2026 di kantornya.

Menurut Lucky, penataan dilakukan bukan untuk menghambat aktivitas pedagang, melainkan menciptakan pasar yang lebih tertib, bersih, dan nyaman. Ia menegaskan kebijakan tersebut telah melalui proses sosialisasi kepada pedagang sebelum pagar dipasang.

Perbincangan lebih lengkap, Anda bisa simak di bawah ini:

Jumadi Mappanganro: Pak, sebenarnya ini apa yang terjadi bisa dijelaskan tentang pasar bersahati, tepatnya di hanggar asar Ikan Basah? 

Lucky Senduk: Ya, baik. Terima kasih Pak Jum dan rekan-rekan Tribunners yang melihat saat ini bersama-sama kita bahwa kejadian yang terjadi kemarin itu, merupakan bagian dari rangkaian aksi demo dari pedagang, beberapa, sebagian pedagang dan saya lihat sebagian bukan pedagang yang menamakan diri FP4T. 

Mereka ingin menyampaikan aspirasi, mereka ingin menyampaikan sesuatu ke polda, ke ombudsman, dan ke beberapa tempat.

Kami sebagai pengelola tidak tahu apa tuntutan mereka. Kalau memang saat mereka demo mereka juga memikirkan untuk menyampaikan tuntutan mereka ke perumda pasar, tentunya kami akan menerima demo tersebut, sehingga apa yang mereka sampaikan bisa kita bicarakan sama-sama.

Tapi yang diarahkan kan pertama titiknya ke polda.

Di saat di polda kami memantau lewat medsos yang mereka tekankan tentang kasus lain di mana yang diminta ke polda kepastian hukum terkait dengan pemeriksaan-pemeriksaan di polda yang memeriksa adanya dugaan penyimpanan di perumda pasar.

Kami sangat-sangat setuju, kami juga kan butuh kepastian hukum. Sudah sekian lama kami bolak-balik diperiksa, kami juga kan butuh.

Sudah sampai di mana, harus ada kepastian hukum, kami sangat setuju itu. Tapi yang beredar bahwa mereka mau menyampaikan aspirasi terkait pasar hanggar ikan.

Tapi kita malah tidak mendengar itu di perwakilan mereka.

Karena pemahaman kami kalau tentang pengelolaan hanggar ikan pasti mereka ketemu dengan kabag ops atau siapa langsung. Ini kan tertuju dengan Dirkrimus. Berarti kan persoalan lain begitu. Itu yang kami bingung, tapi ya sudah kami menerima saja.

Dan setelah itu mereka di sana menurut informasi yang kami terima menyampaikan bahwa terjadi pemongkaran-pemongkaran lapak mereka.

Dan terjadi pengerusakan meja dan lapak, padahal itu tidak benar. Kegiatan kami bukan serta-merta mereka merencanakan demo, kami merencanakan kegiatan tidak.

Demo mereka setahu kami itu informasinya nanti hari Sabtu atau Jumat.

Bahwa mereka akan demo hari Senin. Sedangkan kami dari minggu yang lalu telah membuat surat edaran, membuat penyampaian-penyampaian, sosialisasi ke pedagang bahwa perumda pasar akan buat kegiatan.

Penertipan coolbox-coolbox yang ada di hanggar ikan sekaligus pembersihan. Jadi kalau melihat malah kami yang merencanakan tanggal 27 itu kerja lebih dahulu. Baru muncul bahwa mereka akan demo.

Rencana perumda pasar sudah ada satu minggu sebelum. Bahwa ini harus dibersihkan, drainage harus dilihat, kemudian coolbox-coolbox yang ada harus ditertipkan. Karena coolbox-coolbox ini sudah bersusun-susun, malah sudah memakai lapak-lapak yang ada di dalam.

Sedangkan fungsi hanggar ikan itu tempat berjualan, bukan tempat penampungan coolbox. Bagaimana pedagang mau berjualan kalau ada coolbox yang banyak. Mungkin itu alasan mereka sehingga pindah berjualan di luar hanggar ikan.

Jumadi Mappanganro: Katanya saya dengar perumda memberikan aturan bahwa minimal, maksimal 2 coolbox setiap pedagang?

Lucky Senduk: Jadi kami sudah perhitungkan, dari kajiannya 1 lapak 1 meter, contohnya 1 meter setengah kali 1. Coolbox itu berapa panjangnya? Kita sudah hitung panjang coolbox itu 80 cm, ada 1 meter, oke 1. Satu di pinggir, jadi kan bisa bentuk L dia, dua kan itu masuk.

Kalau ikan mereka banyak, mereka sampaikan kepada kami, nanti kami rekomendasikan bisa ditambah.

Tambah susun di pinggir, susun di depan, bukan pakai keseluruhan, itu. Kalau kita tidak ada pembatasan, bisa jadi coolbox. Coolbox akan memenuhi hanggar ikan, maka hanggar ikan akan berubah fungsi.

Akan menjadi tempat penitipan dan penampungan coolbox. Bukan lapak lagi, maka kita harus membuat pembatasan. Dan ini sudah berulang-ulang kali kami sampaikan.

Jumadi Mappanganro: Ada kesepakatan antara PDM pasar dengan pedagang di hanggar ikan itu Pak?

Lucky Senduk: Saya kira kita tidak bicara kesepakatan, kita menyampaikan aturan yang ada. Karena kalau semua harus disepakati maka tidak jalan. Kita sampaikan aturan kita, kemudian apa yang mereka keluhkan, kita pertimbangkan.

Kita pertimbangkan kalau mereka tadi bilang, saya ikannya banyak hari ini, maka saya punya 3 coolbox full. Dilaporkan, kita izinkan. Karena kan masuknya ikan ini tidak merata setiap hari, banyak-banyak ada musim di mana hanya ikan sedikit.

Satu coolbox mungkin, di tengah-tengah dua coolbox. Persoalannya sekarang, coolbox yang sudah kosong pun mereka susun di situ. Tidak ada kesadaran untuk angkat, kemudian drainase ditutup oleh coolbox.

Bagaimana kami membersihkan drainase ini. Dengan adanya sedimen-sedimen dari hanggar ikan ini, kebanyakan itu bermacam-macam. Ada sisik-sisik ikan, ada bagian teripang ikan dan sebagainya.

Akhirnya jadi sedimen, baunya musuh. Itulah uap yang keluar sampai jembatan Soekarno. Maka itu yang kita fokus.

Jangan Pasar Bersehati itu mengganggu malah tempat lain. Jangan mengganggu sampai jembatan Soekarno uapnya itu. Maka itu kita fokus pembersihan itu.

Kita mau supaya hanggar ikan itu tetap bersih, tidak jorok, tidak kumuh. Ini kan kalau bangunan dibiayai oleh negara sekian puluh miliar, kemudian kelihatan kumuh. Kita harus imbangi.

Negara keluar duit begitu banyak untuk bangun, kemudian kita biarkan dia jadi kumuh kan yang rugi juga negara. Maka kita yang berkewajiban untuk jaga karena kita dipercayakan mengelola. Untuk itu kita buat aturan-aturan yang ada.

Jumadi Mappanganro: Jumlah pedagang ikan sebenarnya di situ dihanggar berapa?

Lucky Senduk: Yang terdaftar di kami awal mula sekitar dua ratusan. Tapi terakhir yang aktif berjualan dan bergantian itu ada sekitar 196. Tapi yang membayar retribusi itu pun karena dia bergantian hari ini ada, besok tidak ada.

Itu rata-rata yang membayar retribusi 104 atau yang membayar iuran itu ada 104. Itu retribusinya harian. Harian itu kita sudah listrik, keamanan dan kebersihan sebagainya.

Kurang lebih satu pedagang Rp 28.000-Rp30.000.

Jumadi Mappanganro:  Oke, rata Pak? Nah sekarang, pemasangan hanggar itu di depan, itu sebenarnya fungsi apa Pak? Pagar itu Pak?

Lucky Senduk: Pagar itu kita membatasi. Dua tahun lalu kami pernah pasang.

Pasang sekian bulan, mereka protes. Keluhan mereka kami dengar. Kenapa? Tidak bisa.

Oh ini karena mengganggu dan sebagainya, maka kami sampaikan, mari kita buka pagar ini, tapi jangan berjualan di luar. Jangan di atas selokan, di atas gol. Siap, mereka sanggupi.

Dalam waktu berjalan, mereka kembali lagi. Sepanjang ini kita tidak langsung tindakan pasang lagi, pasang lagi. Bukan, tapi kita persuasif.

Kita menyampaikan ke pedagang-pedagang, tolong ini di tepati komitmen kita. Masuk ke dalam, masuk ke dalam. Jangan pakai payung-payung yang kumuh lagi.

Tapi alasan mereka kena sinar matahari. Dari jam tujuh sampai jam sepuluh, sinar matahari itu masuk, tapi sebenarnya tidak lewat tiang, ada tiang di pasar itu. Ada tiang menyenggar gedung, besi-besi H itu, itu tidak lewat itu.

Kenapa kena? Karena mereka maju. Mereka berjualan sudah di atas drainase, di atas gol. Maka kena, maka itulah alasan mereka pakai payung.

Nah, kami Perumda Pasar sebenarnya merencanakan. Merencanakan kalau mereka mundur, kita tata rapi, nanti kami pasang kayak kre. Di mana dipasang itu, buka itu di saat ada matahari.

Jam sepuluh tidak ada, kita buka lagi, langsung buka. Itu sudah kami rencanakan semua. Tapi yang adakan ini, setiap apa yang akan kami buat, selalu diprotes, selalu diancam demo.

Selalu dibuat viral ini, viral itu. Begitu, itu yang terjadi. Maka kejadian kemarin, kami sudah sampaikan ke pedagang.

Kami masih memberi kesempatan untuk adanya kesadaran. Pedagang jangan melawan hukum. Marilah kita bersama-sama.

Tetapi kan ini ada pihak-pihak yang memainkan ini.

Jumadi Mappanganro:  Sebelum pemasangan pagar itu sudah mengundang? Tidak mengundang mereka untuk rapat? 

Lucky Senduk: Kita kalau mengundang rapat sangat-sangat sulit bagi mereka.

Karena alasannya kalau datang rapat di sini, jualan mereka tidak ada yang jaga. Maka kita yang proaktif turun ke bawah. Turun.

Staf-staf kita yang dari meja ke meja memberi penyampaian. Bahwa kita ada penataan kembali hanggar ikan.

Jadi kita yang turun ke bawah. Begitu.

Lucky Senduk: Di hanggar ikan itu berbagai macam.

Ada yang sangat mendukung. Yang di dalam itu, pedagang-pedagang di dalam sangat mendukung mereka. Tapi tidak tahu dalam tanda petik ada apa.

Maksudnya mereka dukung tapi mereka diam. Karena juga ada oknum-oknum yang mencoba menyampaikan secara terus menerus bahwa pengolahan pasar oleh Perungda Pasar Kota Manado ini ilegal. Tidak ada dasar hukum.

Apa yang mereka buat itu salah semua, melanggar hukum. Apa yang mereka programkan melanggar hukum karena mereka tidak ada dasar pengolahan. Padahal hal-hal itu salah.

Jumadi Mappanganro:  Apa yang jawaban Pak Dirut kepada mereka?

Lucky Senduk: Saya sudah sampaikan. Perumda pasar ini didirikan sejak tahun 2000. Kalau dia tidak sadar tahun 2000 tidak sah.

Ini di depan saya sengaja pasang foto-foto direktur utama dari masa ke masa. Supaya yang menyatakan kita ilegal ini. Orang-orang ini berarti selama ini dibiayai secara ilegal.

Ada 12 orang direktur utama sebelumnya. Kalau dia ilegal kenapa ada bantuan-bantuan pemerintah. Dasar adanya BUMD ini ada di peraturan pemerintah.

Ada di undang-undang juga. Undang-undang pemerintahan daerah kan ada. Kemudian lebih konkret dikuatkan dengan peraturan pemerintah nomor 54 tahun 2017 tentang BUMD.

Itu lebih konkret. Kemudian Perumda Pasar atau dulu PD pasar itu bergerak, bekerja melalui apa dasar hukumnya? Peraturan daerah. Peraturan daerah nomor 14 tahun 2000 tentang pendirian PDAM Kota Manado dan PD Pasar Kota Manado.

Dua-dua. Itu tahun 2000. Pada tahun 2013 itu dikeluarkan lagi peraturan daerah nomor 1 tahun 2013 khusus untuk pengelolaan pasar.

Jadi ada pengelolaan pasar itu dibuat perda juga. Itu dasar-dasar hukum kita. Pada pengelolaan pasar kita diberi kewenangan untuk mengatur, menata, manajemen pasar ini.

Jadi ada dasar hukum kita. Tapi yang terjadi kan pedagang-pedagang masih banyak yang mendengar yang lain-lain. Padahal banyak juga yang sudah kita yakinkan.

Bahwa kalau kita ilegal kita nggak mungkin bikin A, bikin B, bikin C. Kemudian kalau kita ilegal maka banyak sekali uang yang sudah dikategorikan dalam tanda peti korupsi. Karena ilegal. Tapi ini kan kita berjalan sesuai regulasi yang ada.

Dan kami sebenarnya sepanjang pengelolaan ini selalu berkoordinasi dengan pedagang. Itu perwakilan. Ada perwakilan pedagang ikan.

Ada perwakilan pedagang sapi. Ada perwakilan pedagang barito. Perwakilan pedagang sayur.

Kita mengakomodir semua. Tapi mungkin ada yang menginginkan ada kelompok lain. Karena beberapa hari yang lalu direktur umum saya ada pertemuan dengan yang namanya FP4T ini.

Mereka menyampaikan beberapa hal sampai mereka menyampaikan ya intens lah kita komunikasi. Dan bukan mereka yang akan demo. Tapi kenyataannya di lapangan kan lain.

Kedua, kami menyampaikan bahwa saat ini kami buat call center pengaduan. Mereka menyampaikan, sudah kalau perlu semua aduan lewat FP4T saja. Jangan, kami tidak mau itu pakai-pakai tangan.

Langsunglah pedagang dengan kami. Sehingga murni. Murni penyampaiannya, murni untuk sama-sama menjaga.

Mitra, PD pasar, para undang pasar adalah pedagang. Kita betul-betul bermitra. Kami sangat berharap betul-betullah pedagang.

Kalau mereka betul-betul pedagang, kami pikir mereka juga tahu apa hak dan kewajiban pedagang.

Jumadi Mappanganro: Saya dengar kasus pembongkaran pagar itu berhujung ada laporan perundang pasar kepada polisi terkait perusahaan itu. Benar atau tidak?

Lucky Senduk:  Jadi laporan kami minggu lalu. Kami laporkan prosesnya sedang berjalan, informasi dari tim hukum perundang pasar ke laporan pertama itu sudah ada kurang lebih 8-9 saksi yang dipanggil dan yang kami laporkan ada 2 ibu-ibu yang memang pertama kali berinisiatif dan ada rekaman videonya, itu sudah kami laporkan dan kejadian kemarin, kurang lebih jam 3 lewat itu kami langsung laporkan juga kalau kemarin laporan kami.

Di samping pembongkaran ada pengeniayaan karena ada pegawai kami yang korban yang dipukul, ditendang malah ibu-ibu yang ada di resepsionis mau ditekan, diintimidasi sampai ada yang pingsan. Pegawai kami ibu-ibu ada yang pingsan malah yang menolong, ada 3 ibu ini yang menolong itu pedagang barito murni pedagang mereka pedagang-pedagang ini yang ambil, tarik ke dalam di hanggar barito di kios malah pendemo ini mau masuk, pedagang-pedagang barito yang jaga jangan masuk di dalam hanggar barito.

Jadi disini juga kita melihat bahwa para pedagang juga banyak yang sangat-sangat support dengan apa yang kami lakukan kami ingin pasar ini betul-betul pasar tradisional tapi bersih.

Pengelolaannya secara modern bukan pengelolaan tradisional. Karena kita perlahan-lahan mulai dengan digitalisasi-digitalisasi di semua ruang di Pasar Bersehati kami pasang CCTV jadi kejadian-kejadian kemarin itu terekam CCTV semua.

Begitu juga untuk penagihan kami digitalisasi pakai mesin Impulse di samping itu kami juga sering berkunjung dan mendengar keluhan-keluhan kan pedagang di Basati kurang lebih ada 1.300 pedagang. Maka kita tidak mau kita hanya fokus 200 pedagang ikan kan masih banyak. Ada 1.100 lagi yang kita harus lihat.

Jumadi Mappanganro: Tadi kan sudah ada beberapa yang dilaporkan apakah itu pilihan terakhir PD Pasar melaporkan pedagang yang disebut merusak pagar ke polisi apakah itu jalan terakhir?

Lucky Senduk: Saya pikir karena ini kejadian sudah berulang maka kita percaya saja bahwa negara kita negara hukum hukum adalah panglima.

Maka kita percayakan proses hukum yang ada kami sangat berharap semua yang ada baik kami pengelola baik para pedagang seluruh masyarakat itu taat hukum supaya negara kita betul-betul juga menjadi negara yang maju kalau kita suka maju.Maka harus taat hukum bukan hukum rimba yang berlaku tapi hukum negara kita yang harus kita andalkan.

Jumadi Mappanganro: Pak Dir, dalam beberapa kebijakan di Pasar Bersehati itu kadang memang terjadi dinamika kadang konflik antara PD Pasar dengan pedagang apakah itu juga bisa dibaca sebagai komunikasi yang dibangun PD Pasar dengan pedagang belum harmonis atau bagaimana Pak Dir melihat itu?

Lucky Senduk: Saya kira komunikasi kami dengan pedagang berjalan harmonis, bagus kami sudah sudah ada pemetaan-pemetaan dari, itu tadi saya katakan dari 1.300 pedagang kami sudah bisa memetakan di area bawang rica tomat mana pedagang-pedagang yang dalam tanda kutip kabal

Mana pedagang-pedagang dalam tanda kutip sedikit suka memprovokasi kalau ada tamu menangis-nangis, mengeluh tapi kalau tidak ada tamu datang peluk-peluk kami mendukung. Saya memasuki tahun kelima di Perumda Pasar ini sebagai dirut sudah 3-4 tahun tapi kita rajin ke pasar kita tahu mana pedagang yang betul-betul, mana yang dalam tanda kutip ada biasa main-main dan kita berkomunikasi banya.

Saya duduk minum kopi ada pedagang malah ada kalau sungguh saya datang makan, saya panggil makan tapi sudah itu begitu lah bekerja di pasar suasananya berbeda dengan kantor ada hal lain kerja di pasar kita mengatur orang pasar ada hal lain ada bermacam-macam karakter di pasar.

Jumadi Mappanganro: Pak secara umum selama menjabat Dirut PD Pasar, apa saja aspirasi pedagang di sana yang menurut Pak Dir itu krusial untuk diperbaiki kemudian sejauh ini inovasi apa yang sudah dilakukan oleh Pak Dir penata pasar, khususnya Pasar Bersehati Manado?

Lucky Senduk: Jadi awal mula di Pasar Bersehati yang kita lakukan itu perubahan sistem perubahan sistem penagihan paling awal karena awal mula penagihan itu pakai karcis jadi kalau pakai karcis saya penagi, datang ke Pak Jum Pak Jum, tagihan Rp 30.000 dibayar Rp 30.000 kadang-kadang.

Entah dalam tanda kutip dia bisa bilang belum bayar, ini karcis nda usah aja ya saya tidak kasih karcis itu kan berarti bocor masuk ke siapa, sedangkan di kantor pusat, hitungnya puntung. Jumlah puntung karcis yang keluar dari situ kita lihat berarti harus ada sistem maka kita pakailah sistem digitalisasi yang pakai mesin e-retribusi.

Begitu parkiran dulu parkiran dulu juga itu karcis juga maka kita pakai sistem portal karena sistem portal sudah terkoneksi digitalisasi kan mobil masuk, langsung laporannya langsung. Di samping itu kita penataan-penataan sejak kami, maka kami memberi bagian-bagian atau sektor jadi kami tidak mau dulu nya kota Manado, kota tinutuan dinamakan karena bubur Manado ini, tapi kami tidak mau juga, di pasar itu orang berdagang secara tinutuan.

Dalam arti disini jual ikan saya jual ikan, Pak Jum jual sayur, kemudian disamping Pak Jum, jual barito di sebelah jual sembako itu tinutuan campur bau.

Sejak kami maka kami bagi ini khusus daging sapi, sektor ini sekian pedagang daging sapi di sini, setelah itu ini setelah daging sapi, ini daging ayam jual-jual ayam setelah itu, sekian meter melintangnya khusus B2 begitu di sini khusus bawang rica tomat atau barito pedagang juga tidak pusing pembeli juga cari barang sudah tahu.

Mau cari sayur, lantai 2 sayur mau cari buah, lantai 2 mau cari ayam, di bawah mau cari barito kiri  kanan jadi ikan kami pisahkan di sebelah jadi kami bagi per sektor yang sembako di bagian depan, pintu masuk bagian depan itu sembako di atas campuran ada jual baju, ada segala macam, jadi kami bagi-bagi supaya para pengunjung juga sudah tahu kalau mau belanja ini.

Ada di sini belanja ini, ada di sini kemudian kami tata supaya pasar ini bisa jadi daya tarik juga wisatawan lokal maupun yang macam negara kami menata food court itu ada pemandangan pelabuhan kemudian dari food court itu bisa melihat sunset jadi kami tata disitu supaya semua pedagang yang dulunya jualan ikan sampingnya jualan makan kita tempatkan sekarang, semua jualan makan ada, kita akomodir semua jadi itu yang kita lakukan kemudian di halaman-halaman kita mulai buat ini khusus parkir motor ini parkir mobil, kita mulai bikin penataan, dan itu kalau orang mau cari gilingan kelapa ada di belakang hanggar ikan kelapa semua, yang kalau di Menado, mereka suka bikin santan apa kurang tahu, ambil yang kelapa sudah diparut, ada di rumah nggak perlu parut, ambil kelapa muda ada gilingan bakso.

Di samping hanggar ikan gilingan bakso semua jadi kita sudah tempatkan-tempatkan semua itu kami berupaya buat itu teratur dan selain penataan kami juga mendisiplinkan pegawai jadi pegawai-pegawai kami, ada sekian banyak yang sampai SP3 kami keluarkan dan selalu kami bilang kalau ada pungli, tangkap tangan silahkan tanggung jawab sendiri kita sudah pakai sistem jadi jangan sampai Anda melakukan pungli kalau tangkap tangan, silahkan tanggung resiko hukumnya begitu, jadi itu tetap.

Malah beberapa lembaga memberikan penghargaan kepada kami, karena masalah tata kelola ini inovasi-inovasi yang kami lakukan untuk perbaikan di pasar bukan membanggakan, tapi pasar kota Manado ini perumda pasar ini banyak dikunjungi oleh teman-teman BUMD lain perumda pasar kabupaten kota lainnya malah dari Jawa Timur Jember pernah datang di sini mereka datang kita belajar sama-sama baru kami juga, di saat terjadi kenaikan lonjakan harga cabe kami bekerja sama dengan pedagang petani cabe di Sleman tapi itu difasilitasi oleh Bank Indonesia kami beli transportnya di tanggung Bank Indonesia, kami jual di Manado, jual dengan harga beli, jadi kami beli di Sleman Rp 100.000, kami jual Rp 100.000, waktu itu harga sudah Rp 160.000 per kilo.

Jadi kami perlu kerja intervensi sebenarnya masih banyak hal yang akan kami lakukan ke depan, karena kami berupaya perumda pasar ini betul-betul memberi dampak positif dan yang baik terhadap masyarakat dan kota Manado biar banyak kritik, banyak saran banyak juga diviral-viralkan tapi selama kami di perumda pasar setahu saya baru kami yang menyetor pajak kekas negara sudah kurang lebih Rp 12.000.000 sejak kami pegang perumda pasar baru ke kas daerah melalui retribusi parkir yang kita kelola, kita sudah melakukan penyetoran selama ini Rp 4.000.000 Rp 5.000.000.

Jumadi Mappanganro: Setahun berapa setorannya? setoran ke PAD kalau secara keseluruhan pasar bersihati?

Lucky Senduk: Sudah semua pasar jadi pasar Karombasan dan harus diketahui bahwa perumda pasar juga ini ada penugasan orang selalu menyatakan oh cuma retribusi parkir itu yang dapat penghargaan barusan dari Bapenda Kota Manado tapi mereka tidak menilai ada penugasan-penugasan yang dilakukan oleh perumda pasar.

Seperti Manado Bay Manado Bay itu bukan aset perumda pasar itu masih aset pemerintah kota tapi diminta kami kelola otomatis pemeliharaan dan sebagainya itu menjadi tanggung jawab perumda pasar pedagang-pedagang situ tagihannya tagihan UMKM bukan tagihan B2B bisnis.

Tapi UMKM begitu juga Merlion Beach World itu kami yang kelola pasar Tongkaina pasar wisata Tongkaina yang begitu besar lokasinya kami yang kelola pembiayaan-pembiayaan itu setiap tahun itu keluar biaya itu kurang lebih Rp 1-2 miliar untuk pemeliharaan-pemeliharaan sudah dengan pegawai sudah dengan pegawai kita yang kelola kita yang menambahkan bud-bud kita yang buat hangga untuk pedagang.

Tapi itu merupakan aset pemerintah yang ditugaskan kepada kami untuk mengelola kalau cuma kelola pasar Pinasungkulan, pasar Bersrati dan Shopping Center laba itu banyak sekali tapi kan kita harus membiayai yang lain-lain, terjadi subsidi silang ini pasar-pasar kecil, pasar Bobo Bailang, kita hanya ambil kebersihan pasar Unil Banjir kepal dua yang sudah sepi itu juga dibawa tanggung jawab kita jadi terjadi subsidi silang, memang dua pasar besar ini yang membiayai semua dari Shopping Center dia balance, kalau Bersehatidan Pinasungkulan ada pendapatan ada laba, bagus tapi yang lain-lain ini kita biayai begitu yang belum banyak penghasilan yang malah mines.

Jumadi Mappanganro:  Terima kasih Pak Dirut sudah berbagi cerita, menjelaskan masalah dan dinamika yang terjadi beberapa hari terakhir antara pemerintah pasar Manado dengan beberapa pedagang saya tidak bilang semua, tapi beberapa pedagang yang ada di pasar Bersehati. Demikian Tribuners perbincangan saya dengan Bapak Direktur Utama PD Pasar Manado Bapak Lucky Senduk Salam Tribun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.