Angka Pengangguran Solo Tembus 13 Ribu, Pakar Ungkap Fakta di Balik Sulitnya Cari Kerja 
Ryantono Puji Santoso July 30, 2026 06:32 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Putradi Pamungkas

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Kota Solo mencapai sekitar 13 ribu orang berdasarkan data per Agustus 2025 menjadi perhatian berbagai pihak.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berjalan, pasar kerja di Kota Bengawan masih menghadapi tantangan dalam menyerap tenaga kerja, terutama lulusan baru.

Guru Besar Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si, mengatakan persoalan pengangguran tidak bisa dipandang hanya dari besarnya angka, tetapi juga dari penyebab yang melatarbelakanginya.

"Pengangguran, berapapun jumlahnya, harus menjadi perhatian. Pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi perlu bergerak bersama untuk mempersempit kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan industri," ujarnya saat berbincang dalam program Podcast TribunSolo.com, Selasa (28/7/2026).

Drajat menjelaskan tingkat pengangguran terbuka di Solo memang sudah menurun dibanding masa pandemi Covid-19.

Pada periode 2021–2022 angkanya sempat menembus lebih dari 7 persen, kemudian turun ke kisaran 4 persen seiring membaiknya kondisi ekonomi.

Meski demikian, bukan berarti fakta tersebut menjadi pertanda bahwa kondisi sudah ideal.

"Kita memang turun, tetapi masih berada di kisaran 4,3 sampai 4,6 persen. Artinya kita belum benar-benar lepas dari persoalan pengangguran," katanya.

Pertumbuhan Ekonomi Belum Mampu Serap Seluruh Tenaga Kerja

Drajat menilai pertumbuhan ekonomi Kota Solo yang berada di kisaran lima persen belum cukup kuat menciptakan lapangan pekerjaan baru dalam jumlah besar.

Ia melihat masih terdapat kesenjangan antara ketersediaan lapangan pekerjaan dengan jumlah pencari kerja yang terus bertambah setiap tahun.

"Masih ada gap antara kemampuan industri, perdagangan maupun pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia," jelasnya.

Selain itu, karakteristik Solo sebagai pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan pemerintahan juga membuat kota ini menjadi tujuan pencari kerja dari berbagai daerah di Solo Raya. 

Kondisi tersebut membuat persaingan memperoleh pekerjaan menjadi lebih ketat dibanding wilayah sekitarnya.

"Solo menjadi pusat aktivitas ekonomi sehingga banyak tenaga kerja dari daerah sekitar datang mencari pekerjaan di sini. Itu sebabnya tingkat pengangguran di Solo relatif lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya," ungkapnya.

Jumlah Lulusan Lebih Besar daripada Lowongan Kerja

Menurut Drajat, tantangan lain muncul karena jumlah lulusan sekolah maupun perguruan tinggi setiap tahun lebih besar dibandingkan peluang kerja yang tersedia.

Sektor perdagangan, properti, pendidikan, dan layanan kesehatan yang menjadi penopang ekonomi Kota Solo belum mampu menyerap seluruh lulusan baru.

Baca juga: Kawasan Industri Batang Serap 18.390 Tenaga Kerja, Berkontribusi Kurangi Pengangguran di Jateng

"Lulusan yang dihasilkan sekolah dan perguruan tinggi jumlahnya lebih besar daripada peluang pekerjaan yang tersedia. Pergantian tenaga kerja karena pensiun maupun pembukaan investasi baru belum mampu mengimbanginya," katanya.

Selain terbatasnya lapangan pekerjaan, Drajat menilai kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri masih menjadi pekerjaan rumah.

Menurutnya, banyak lulusan sebenarnya siap mengikuti pelatihan, tetapi belum sepenuhnya siap langsung bekerja sesuai standar perusahaan.

"Kebanyakan lulusan itu siap dilatih, tetapi belum tentu langsung siap kerja. Di sinilah pentingnya link and match antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri," ujarnya.

Ia mengatakan perusahaan masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melatih tenaga kerja baru.

"Perusahaan juga sering menghadapi persoalan karena calon tenaga kerja belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan mereka," katanya.

Drajat juga menilai program magang menjadi salah satu solusi untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi mahasiswa.

"Magang menjadi jembatan agar mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga memahami kebutuhan industri secara langsung," ujarnya.

Tren Kerja Fleksibel Semakin Diminati Generasi Muda

Selain persoalan pengangguran, Drajat menyoroti perubahan budaya kerja di kalangan generasi muda. 

Menurutnya, semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang memilih pekerjaan fleksibel atau freelance dibanding pekerjaan tetap.

"Sekarang banyak mahasiswa yang justru memilih pekerjaan yang sifatnya freelance atau precarious. Mereka merasa tidak terikat, lebih bebas mengatur waktu, bahkan bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus," ujarnya.

Ia menyebut profesi seperti content creator, desainer, penerjemah, hingga pekerja digital kini semakin diminati. 

Tren tersebut berkembang semakin pesat sejak pandemi Covid-19 ketika sistem work from home dan work from anywhere mulai diterapkan di banyak sektor.

Namun, Drajat mengingatkan pekerjaan fleksibel juga memiliki risiko karena umumnya tidak memberikan jaminan pendapatan, jaminan kesehatan, perlindungan ketenagakerjaan, maupun dana pensiun.

"Yang menjadi persoalan, anak-anak muda ini sering belum memikirkan jaminan masa depannya. Mereka menikmati kebebasan bekerja, tetapi belum memikirkan perlindungan ketika usia produktifnya berakhir," ujarnya.

Karena itu, ia meminta pemerintah mulai menyiapkan skema perlindungan sosial bagi pekerja mandiri serta memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan.

"Pemerintah tidak perlu mengarahkan mereka harus bekerja seperti apa, tetapi memfasilitasi agar mereka tetap mendapatkan akses terhadap perlindungan sosial," katanya.

Ia juga menambahkan pentingnya edukasi mengenai tabungan, investasi, dan perlindungan jangka panjang bagi generasi muda.

"Mereka perlu diedukasi agar memiliki tabungan, perlindungan, dan perencanaan masa depan. Jangan hanya memikirkan pekerjaan yang fleksibel, tetapi juga memikirkan keberlanjutan hidup ketika tidak lagi berada di usia produktif," tegasnya.

Kolaborasi Jadi Kunci Menekan Pengangguran

Drajat menilai upaya mengurangi pengangguran tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. 

Dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat juga perlu berkolaborasi menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu terus menarik investasi agar peluang kerja baru semakin terbuka.

"Yang sangat menentukan peluang pekerjaan sekarang adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sangat dipengaruhi pemerintah daerah melalui kemampuannya menarik investasi," ujarnya.

Ia juga meminta perusahaan terus berinovasi agar mampu menciptakan jenis pekerjaan baru sekaligus menjadi mitra perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kerja.

"Perusahaan juga harus membuka diri dan terus menciptakan inovasi sehingga muncul peluang-peluang pekerjaan baru," katanya.

Di sisi lain, kampus juga perlu membangun jiwa kewirausahaan agar lulusan tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal.

"Entrepreneurship harus dibangun sejak di kampus. Industri memang punya keterbatasan menyerap tenaga kerja, sehingga lulusan juga perlu memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan sendiri," ujarnya.

Drajat mengapresiasi berbagai program seperti pelatihan kerja, job fair, dan Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi, yang membantu mahasiswa menjelang lulus agar memiliki keterampilan, karakter kerja, sekaligus memperoleh informasi lowongan pekerjaan.

Namun, ia mengingatkan materi pelatihan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.

"Yang perlu dipastikan adalah apakah pelatihannya benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan apakah jumlah pesertanya sudah mampu menjangkau lulusan yang membutuhkan," ujarnya.

Di akhir pembicaraan, Drajat berpesan agar mahasiswa mulai mempersiapkan diri sejak awal kuliah dengan memperkuat kompetensi, memperluas jejaring, meningkatkan kemampuan bahasa asing, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan.

"Persiapan itu jangan dilakukan saat mau lulus, tetapi sejak masa-masa awal kuliah agar peluang kerjanya semakin luas," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.