Jet tempur gabungan Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara massif.
Di mana, yang menghantam markas Pasukan Mobilisasi Populer Irak (PMF) di delapan provinsi berbeda.
Mengutip The New Arab pada (30/7), operasi gabungan tersebut menewaskan sedikitnya 20 anggota PMF serta melukai 32 orang lainnya di berbagai lokasi pangkalan.
Aksi militer terbuka ini menjadi momentum perdana Arab Saudi secara resmi terlibat dalam perang di Irak sejak Perang Teluk 1991.
Langkah dramatis Riyadh melancarkan gempuran militer menandai pergeseran besar di mana Arab Saudi kini resmi ikut terjun ke medan perang.
Merespons serangan besar-besaran tersebut, pimpinan PMF menetapkan status siaga tinggi di seluruh markas mereka di Irak.
Seluruh pangkalan milisi pro-Iran diserukan untuk segera dievakuasi guna mengantisipasi ancaman gelombang serangan susulan.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi serangan dilakukan sebagai aksi bela diri atas rentetan teror drone ke fasilitas minyak mereka.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan operasi menyasar gudang senjata dan basis logistik kelompok milisi pendukung Iran.
PMF mengecam keras aksi bombardir gabungan tersebut sebagai bentuk pelanggaran berat terhadap kedaulatan wilayah Irak.
Eskalasi militer ini langsung direspon Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi dengan menggelar rapat darurat dewan keamanan negara.
Buntut dari gempuran tersebut, al-Zaidi secara resmi menunda agenda kunjungan diplomatiknya ke Riyadh yang semula dijadwalkan hari Kamis.
Kedutaan Besar AS di Baghdad turut merilis peringatan keamanan tingkat tinggi bagi seluruh warga negaranya di wilayah Irak.
Pelibatan militer Saudi secara terbuka ini dikhawatirkan menyeret Irak kembali menjadi gelanggang perang proksi yang melumpuhkan stabilitas kawasan.