SURYA.CO.ID, SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (KPw BI Jatim) resmi menggelar Kick Off program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur Tahun 2026 di gedung De Javasche Bank, Jalan Garuda Surabaya, Kamis (30/7/2026).
Langkah strategis ini mengusung tema "Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal" demi memperkuat sektor usaha daerah.
Melalui program ini, BI Jatim berkomitmen mendorong pengembangan UMKM, klaster pangan, desa wisata, koperasi, hingga pondok pesantren agar mampu berdaya saing global.
Baca juga: Bank Indonesia - TNI AL Misi Ekspedisi Rupiah Berdaulat ke Pulau Terpencil Indonesia
Program yang sudah berjalan beberapa tahun ini dirancang sebagai wadah pertukaran pengalaman antar-pelaku usaha lokal.
Kepala KPw BI Jatim, Ibrahim mengatakan kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren bukan sekadar agenda kunjungan lapangan maupun pembelajaran saja, tapi juga menjadi ruang bersama untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus memperluas jejaring ekonomi daerah.
Melalui kegiatan tahunan ini, praktik-praktik baik dari satu wilayah diharapkan dapat direplikasi ke wilayah lainnya di Jawa Timur.
"Program ini telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga dan terus dikembangkan agar mampu memberikan manfaat yang semakin luas bagi pengembangan UMKM dan ekonomi syariah di Jatim. Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang belajar bersama, dengan menyaksikan berbagai success story, berbagi pengalaman, menggali praktik-praktik terbaik (best practices), sekaligus melihat bagaimana keberhasilan di suatu daerah dapat direplikasi di daerah lainnya," kata Ibrahim.
Baca juga: Melon Premium, Pertanian Modern dan Mimpi Besar Seorang Anak Muda dari Jombang
Dalam pengembangannya, terdapat tiga pijakan penting yang harus dimiliki oleh para pelaku usaha dan pesantren.
Tiga aspek utama yang menjadi fondasi pengembangan UMKM dan ekonomi pondok pesantren. Yaitu konsistensi, inovasi, dan kolaborasi.
Konsistensi dinilai menjadi kunci awal dalam mempertahankan kualitas usaha di tengah persaingan.
"Konsistensi menjadi modal penting karena keberhasilan usaha tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang yang diwarnai pembelajaran, ketekunan, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan," jelas Ibrahim.
Selain itu, inovasi berperan besar dalam menciptakan peluang dan nilai tambah produk di pasar global.
Kemudian inovasi menjadi faktor penting agar pelaku usaha mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi, dinamika pasar, serta perkembangan ekonomi global.
"Inovasi mampu menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui digitalisasi, pengembangan produk unggulan, pertanian organik, maupun pemberdayaan masyarakat," ujar Ibrahim.
Pilar terakhir adalah kolaborasi erat antar-pemangku kepentingan untuk memperluas akses pasar dan pembiayaan.
Dan ketiga adalah pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, akademisi, dunia usaha, asosiasi, hingga masyarakat dalam membangun ekosistem usaha yang sehat, memperluas akses pasar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat pembiayaan.
"Kami berharap berbagai praktik baik yang diperoleh selama kegiatan berlangsung dapat menjadi inspirasi bagi UMKM maupun pondok pesantren lainnya untuk meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional," terangnya.
Baca juga: Mekarkan Harapan Lewat Mawar, Penopang Ekonomi Warga Ngliman Nganjuk
Program jelajah kali ini menyasar tiga titik lokasi unggulan yang memiliki keunikan ekosistem ekonomi masing-masing.
Untuk lokasi yang dijelajah adalah Desa Wisata Ketapanrame di Trawas, Mojokerto.
Kemudian sentra beras organik yang dikembangkan PT Sirtanio Organik Indonesia yang ada di daerah Dusun Umbulrejo, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Lokasi berikutnya adalah Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Annuqayah di kompleks Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur.
Perwakilan dari ketiga tujuan jelajah itu hadir dalam kick off dan tampil dalam talkshow mengenalkan daerah masing-masing.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun mengapresiasi tinggi sinergi yang diinisiasi oleh Bank Indonesia ini.
Sementara itu dari perwakilan pemerintah, tampak hadir Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, R Heru Wahono Santoso.
Sebagai wakil pemerintah, Heru mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 20 persen yang didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, perdagangan industri, dan sektor pertanian.
"Pertumbuhan ini juga dipengaruhi oleh ekspor dan investasi, serta peran penting UMKM dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan memperkuat ekonomi daerah. Koperasi di Jatim beroperasi dengan baik, dan pemerintah serta lembaga terkait terus memantau stabilitas harga," ungkap Heru.
Potensi besar dari sektor desa, pariwisata, dan UMKM diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Jatim memiliki sektor industri, perdagangan, dan pertanian yang kuat, serta ribuan profesi yang mendukung pendidikan dan pengembangan ekonomi masyarakat melalui koperasi.
Inovasi di sektor pangan dan kolaborasi antara desa, UMKM, dan pariwisata menunjukkan potensi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.
"Diharapkan sinergi antara pemerintah, bank, dan dunia usaha dapat menciptakan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Jatim," pungkas Heru.
Untuk menggaungkan keberhasilan itu, kegiatan jelajah ini turut melibatkan insan pers secara langsung.
Selanjutnya dalam pelaksanaanya, program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur Tahun 2026 bertema "Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal" ini juga menggandeng media.
Tribun Jatim Network dan Harian Surya, akan mendapat kesempatan untuk menyampaikan kisah Desa Wisata Ketapanrame di Trawas, Mojokerto.
Hadir dalam kegiatan itu, Kepala Desa Ketapanrame, H Zainur Arifin yang siap membagikan kisah pengelolaan desa wisata Ketapanrame.