SURYA.co.id, PASURUAN – Di balik riuh tepuk tangan dan sanjungan publik atas aksi heroiknya, Sofi Bakhtiar (27), petugas penjaga perlintasan kereta api (JPL) Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menyimpan sisi emosional yang jarang diketahui orang.
Video aksinya yang nekat menyelamatkan seorang pria paruh baya dari sambaran kereta api melaju kencang viral di berbagai media sosial.
Namun, begitu tugas berbahaya itu usai dan kereta berlalu, Sofi justru terkulai lemas di pos penjagaannya.
Peristiwa menegangkan itu terjadi saat sebuah kereta api melintas dengan kecepatan tinggi. Sofi melihat seorang pria berdiri di tengah rel.
Bukannya menghindar saat diperingatkan, pria tersebut justru melambaikan tangan ke arah kereta yang mendekat.
Melihat jarak kereta yang tinggal 300 meter, Sofi tanpa berpikir panjang langsung meloncat dan berlari menarik pria tersebut dari jalur maut.
Sempat terjadi aksi tarik-menarik dan perlawanan dari korban sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.
Namun, momen setelah keberhasilan itu justru memperlihatkan sisi humanis seorang penjaga pintu perlintasan. Usai memastikan lintasan aman dan membuka palang pintu, Sofi langsung terduduk lemas.
"Habis itu kan saya langsung duduk itu Pak, wis enggak bisa berkata-kata, wis lemas lah," ujar Sofi mengenang momen genting tersebut, dikutip dari tayangan Saksi Kata di youtube SURYA.co.id.
Baca juga: Detik-detik Sofi Bahtiar Selamatkan Pria dari Tabrakan Kereta di Bangil Pasuruan
Meski merasa lega telah menyelamatkan satu nyawa manusia, insiden tersebut meninggalkan bekas trauma mendalam bagi Sofi.
Suara klakson nyaring kereta api (semboyan 35) dan detik-detik mencekam di rel terus terngiang-ngiang di ingatannya.
Bahkan, setelah pulang bertugas, ketegangan itu tak kunjung sirna hingga membuatnya kesulitan untuk tidur nyenyak.
"Lega, tapi ya ada trauma takut kembali lagi gitu, jangan sampai kejadian yang kedua lagi," ungkap Sofi.
"Habis tidur kayak kedengar klakson gitu... kayak di depan mata itu loh Pak," tambahnya dengan nada polos.
Sofi yang mengawali kariernya sebagai relawan Dinas Perhubungan sebelum diangkat menjadi petugas resmi mengaku tidak pernah membayangkan aksinya akan menjadi perbincangan nasional.
Bagi mantan pekerja pabrik kayu ini, keberaniannya di rel malam itu bukanlah demi mencari perhatian atau pujian, melainkan murni dorongan naluri dan rasa tanggung jawab atas pekerjaannya.
"Niat saya ya langsung tolong itu aja... tanggung jawab lah Pak kerja mengamankan kereta api," tegasnya.
Kini, meski rasa cemas masih kerap menghampiri ketika mendengar klakson kereta melintas, Sofi memastikan dirinya tetap berkomitmen penuh menjalankan tugas di gardu perlintasan demi keselamatan warga.