Laporan Wartawan TribunMadura.com, Galih Lintartika
TRIBUNMADURA.COM, PASURUAN – Nama Sofi Bahtiar (24) warga Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mendadak menjadi perhatian publik, setelah aksi heroiknya menyelamatkan seorang pria yang berada di atas rel kereta api viral di media sosial.
Petugas Penjaga Pintu Perlintasan (PJL) 105 Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu nekat menerjang rel dan menarik seorang pria yang diduga Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) beberapa saat sebelum kereta melintas.
Video penyelamatan tersebut pertama kali diunggah Sofi melalui status WhatsApp pribadinya.
Tak disangka, rekaman itu kemudian menyebar luas ke berbagai platform media sosial hingga menuai banyak pujian dari masyarakat.
Di balik aksi yang mengundang apresiasi itu, Sofi mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi sorotan.
"Saya tidak menyangka akan viral. Awalnya cuma saya buat status WhatsApp, lalu dibagikan teman-teman sampai akhirnya menyebar ke TikTok dan Instagram," ujar Sofi saat diwawancarai Tribun Madura Network, Rabu (29/7/2026).
Sofi menceritakan, dirinya mengawali pekerjaan sebagai penjaga pintu perlintasan dari seorang relawan.
Usai menyelesaikan pendidikan di madrasah diniyah, ia bergabung sebagai relawan sebelum akhirnya mengikuti pelatihan dan dinyatakan lolos menjadi petugas resmi.
"Saya awalnya relawan sekitar dua tahun. Setelah itu ikut ujian dan alhamdulillah lolos menjadi petugas," katanya.
Sebelum bekerja di PJL 105 Bangil, Sofi sempat bekerja di beberapa perusahaan, termasuk pabrik kayu dan perusahaan pengolahan hasil laut.
Kini, ia telah bertugas sebagai penjaga pintu perlintasan sekitar satu setengah tahun.
Baca juga: Kereta Dhoho Tabrak Motor di Perlintasan Tanpa Palang Pintu Kediri, Pelajar 17 Tahun Tewas
Keputusan menjadi penjaga pintu perlintasan bukan tanpa alasan.
Sofi mengaku memang memiliki keinginan untuk membantu orang lain.
"Yang membuat saya tertarik ya karena ingin bisa menolong orang. Memang saya suka membantu," ujarnya.
Menurutnya, selama bertugas seluruh petugas telah mendapatkan pelatihan, termasuk penanganan kondisi darurat di perlintasan kereta api.
Peristiwa yang membuat namanya dikenal luas terjadi pada malam hari saat ia sedang bertugas.
Kala itu, Sofi melihat seorang pria berdiri di atas rel ketika kereta api sudah mendekat.
Ia sempat memperingatkan pria tersebut agar menjauh.
Baca juga: CCTV Ungkap Dugaan Palang Pintu Telat Menutup Saat Kereta Tabrak Truk JNT di Nganjuk, Sopir Tewas
Namun, peringatan itu justru diabaikan.
"Saya sudah bilang ada kereta api, tapi dia tidak menghiraukan. Malah tangannya dilambaikan ke arah kereta. Saya pikir ini orang benar-benar mau mengakhiri hidup," tuturnya.
Saat itu, jarak kereta diperkirakan sekitar 300 meter dari lokasi.
Tanpa banyak berpikir, Sofi langsung berlari menuju rel.
"Yang saya pikir cuma bisa menolong. Saya langsung lompat. Tidak sempat berpikir kalau saya sendiri bisa tertabrak," katanya.
Ia sempat menarik pria tersebut menjauh dari rel.
Baca juga: Stasiun Wonokromo Surabaya, Gerbang Kereta Api yang Menyimpan Jejak Sejarah sejak Era Kolonial
Namun, pria itu berusaha kembali mendekati jalur kereta sehingga Sofi harus kembali menariknya menjauh hingga benar-benar aman.
"Awalnya saya tarik pelan-pelan karena orangnya sudah agak tua. Tapi dia kembali lagi ke rel, akhirnya saya tarik lagi sampai aman," ujarnya.
Setelah memastikan pria tersebut selamat, Sofi kembali menjalankan tugasnya membuka palang perlintasan.
Baru setelah kereta melintas, ia merasakan tubuhnya lemas.
"Saya langsung duduk. Rasanya sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Baru terasa deg-degannya setelah semuanya selesai," ungkapnya.
Meski lega karena berhasil menyelamatkan nyawa seseorang, Sofi mengaku sempat mengalami trauma.
Ia bahkan sulit tidur selama beberapa waktu.
"Kalau malam masih teringat suara klakson kereta. Rasanya seperti kejadian itu masih ada di depan mata," katanya.
Ia juga berharap pria yang ditolongnya mendapat penanganan yang baik agar kejadian serupa tidak terulang.
"Harapan saya, orang itu bisa dirawat dan disembuhkan supaya tidak kembali ke rel lagi," ucapnya.
Aksi heroik Sofi mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.
Sejumlah pejabat hingga tokoh masyarakat datang langsung menemuinya sebagai bentuk penghargaan.
Meski demikian, Sofi menegaskan dirinya hanya menjalankan tanggung jawab sebagai petugas.
"Saya tidak pernah menyangka akan didatangi banyak orang. Niat saya memang hanya membantu dan menjalankan tanggung jawab mengamankan perjalanan kereta api," ujarnya.
Dukungan juga datang dari keluarganya.
"Orang tua bangga, tapi juga kaget melihat kejadian itu," katanya.
Meski sempat menjadi perhatian publik, Sofi memastikan hal itu tidak akan mengubah cara kerjanya.
Ia berkomitmen tetap menjalankan tugas sebagai penjaga pintu perlintasan secara profesional.
"Insyaallah tetap profesional. Tanggung jawab sebagai petugas harus tetap saya jalankan," tegasnya.
Di akhir wawancara, Sofi mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap diri sendiri dan sesama serta tidak melakukan tindakan yang membahayakan.
"Yang penting lebih mendekatkan diri kepada Tuhan," pungkasnya.